Seharusnya sebagai seorang mukmin yang bijaksanaharus mengetahui apa tujuan dia diciptakan oleh yang Maha Pencipta sehingga langkah demi langkah yang ia jalani di dalam hidup ini mempunyai makna tertentu. Allah tidak menciptakan kita melainkan agar kita semata-mata beribadah padaNya.  Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada Allah, niscaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya. Musibah yang paling besar menimpa orang bijak ialah bila sehari yang dilaluinya tidak menyebabkan ia mendapatkan hadiah dari Tuhannya, yakni hikmah yang baru. Kepribadian yang bijaksana adalah yang paling bagus amal perbuatannya dan mengejar kesempurnaan.

Imam Musa al-Kazhim berkata,”Sesungguhnya orang yang berakal ridha dengan dunia yang sedikit dengan disertai hikmah dan tidak ridha dengan hikmah yang sedikit dengan disertai dunia. Oleh karena itu “perniagaannya” beruntung. Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah sehingga lalai dari apa yang diminta berarti sangat bodoh dan lalai. Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa memikirkan apa yang telah dijamin untuknya. Ya Allah, tambahkanlah kepada kami, Iman, keyakinan dan kepahaman.

Kepribadian yang bijaksana dapat muncul ketika seseorang selalu hidup seimbang. Seimbang antara ibadah dan bekerja, seimbang antara ruh dan raga dan seimbang antara akal dan hati. Bagaimanakah seharusnya seorang muslim menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat? Ketika telah tiba saatnya untuk beribadah seorang mukmin akan bergegas mengingat Allah dengan meninggalkan jual beli dan segala rutinitas dunia. Setelah menjalankan ibadah, mereka mencari karunia dan rezekiNya serta tidak lupa berzikir kepadaNya. Mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat dan tidak pernah melupakan kehidupan dunia yang saat ini mereka jalani. Dengan itulah Allah menjamin keberuntungan bagi mereka. Beruntung dalam hidup di dunia dengan mendapatkan karunia dan kelimpahan rezekiNya dan kelak diakhirat mendapatkan ganjaran nikmatnya syurga.

Bijaksana dalam menyingkapi harta yaitu menjauhi gaya hidup boros dan hidup dengan Qana’ah. Gaya hidup boros adalah temannya syetan. Membelanjakan harta secara berlebihan untuk makan, minum, pakaian dan tempat tinggal serta kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap kenikmatan dunia juga termasuk gaya hidup boros. Pengertian Qana’ah ialah disamping seseorang berihtiar untuk mencari nafkah bagi kehidupannya, namun ia tetap memelihara. Ketika hasil dari ikhtiar itu didapatkannya, maka ia merasa cukup. Sifat inilah yang membangkitkan rasa syukur kepada Allah. Hamba Allah selamanya tidak akan bisa bersyukur jika hatinya tidak Qana’ah.  Orang yang Qana’ah, jiwanya menjadi tenang dan mensykuri rezeki dari Allah.

Selain berlatih untuk merasa bersyukur dengan apa yang telah diterima, hendaknya seseorang suka memberi dan menolong orang lain. Betapa, hati akan merasa puas apabila seseorang berhasil memberi pertolongan sesama saudaranya. Karena orang yang dianggap Qana’ahnya sempurna adalah jika ia gemar menolong dengan ikhlas hati. Melatih diri untuk berqana’ah tidak akan berhasil jika seseorang tidak melemahkan sifat buruknya yaitu sifat rakus. Ibrahim al- Marastani berfatwa,”Balaslah kerakusanmua dengan qana’ah sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan qishash.”