Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: Juni 2012

Wahai Saudariku Mukminah…….Sesungguhnya wanita itu adalah aurat yang bisa menjadi alat dan perantara setan untuk menjerumuskan kebanyakan kaum laki-laki. “Wanita itu adalah aurat, bila ia keluar, syetan akan menghiasinya(untuk menggoda laki-laki)” (HR. At-Tirmidzi). Maka hendaklah kita takut kepada Allah, sungguh Allah pasti mengawasi dan memperhatikan kita, hindarilah jalanan dan tempat terbuka,karena jika kita berada dalam tempat yang terbuka sedang kaum laki-laki melihat kita, haruslah kita merasa takut dan khawatir terfitnah dan menjadi penyebab fitnah. Hanya ilmu agamalah yang dapat menyelamatkan kita dari berbagai fitnah dan kerusakan.

Kemuliaan wanita mukminah ketika dia menuntut dan memiliki ilmu. Kemuliaan yang disebutkan oleh Allah SWT ,”Allah akan mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” (Al-Mujadilah,21). Ketinggian derajat akan diperolehnya di dunia berupa kedudukan yang tinggi serta reputasi yang baik, juga akan dicapai pula di akhirat berupa kedudukan yang tinggi di dalam surga. Ilmu adalah cahaya dan petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan.

Ketahuilah saudariku…..bahwa ilmu yang diwajibkan kita untuk mencarinya adalah ilmu syar’I (ilmu agama islam yang benar dan lurus sesuai qur’an dan sunnah). Namun sayang, hanya sebagian kecil dari kita yang mau mempelajari islam secara serius dan baik. Kita lebih berbangga dan bersemangat dengan ilmu dunia karena dengannya kita bisa diridhoi sesama manusia lainnya, seakan kita tak butuh ridho Allah. Allah memuji orang-orang yang hanya memiliki ilmu syar’i. Adapun ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tekhnologi, kedokteran dan yang lainnya, meskipun hal itu memiliki manfaat, namun bukanlah ilmu yang disebutkan pujiannya didalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Seseorang tidak akan berada diatas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu Dien. Ilmu yang wajib dituntut disini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang seperti dalam perkara sholatnya, puasa , dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi dan segala yang dapat menyempurnakan kewajiban. Dengan menuntut ilmu Dienlah, seseorang akan mengenal Rabb-nya dan akan kokoh diatas agama yang mulia. Dengan demikian, Allah SWT akan selamatkan seseorang dengan sebab menuntut ilmu dari kegelapan syirik dan kemaksiatan. Menuntut ilmu syar’I adalah jalan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan jalan menuju surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. “Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga”(HR. Muslim). Jalan yang pertama kali harus ditempuh untuk mencapai jannah tidak lain adalah menuntut ilmu.

Bila ilmu dimiliki oleh seseorang, maka kehormatan dan kemuliaan akan datang tanpa diundang dan dicari-cari. Tak memandang apakah dia keturunan bangsawan atau seorang budak. Memang bila akhirat menjadi tujuan seseorang, maka duniapun akan Allah SWT datangkan padanya. Sebaliknya, bila dunia yang menjadi cita-citanya, maka kehinaan semata yang akan ia dapatkan. “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah akan faqihkan dia dalam agama”(HR. Al-Bukhairi). Sehingga ketidakpahaman seseorang terhadap agamanya menunjukkan dirinya bukan orang yang dikehendaki  oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, meskipun orang tersebut ahli dalam masalah ekonomi, kesehatan dan ilmu lainnya. Bahkan apabila ilmu pengetahuannya tentang dunia tersebut memalingkan dirinya dari mempelajari agama Allah sehingga tidak menerima ajaran yang ada di dalammya, maka dia termasuk orang yang merugi.

Orang berilmu adalah pilihan Allah, orang terpilih akan Allah mudahkan memahami ilmu. Seorang muslimah wajib mengenal agama islam sebagai agama yang dianutnya dengan memperhatikan dalil-dalil AlQur’an dan Sunnah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing dan agar ia berada diatas cahaya, bukti dan kejelasan dari agamanya. Sebagai seorang istri, seorang muslimah dituntut agar menjadi istri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya. Sebagai seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang shalih dan shalihah. Hasil didikan ini, termasuk perkara yang akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah muslimah harus menuntut ilmu syar’I sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka. Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Hanya dengan menuntut ilmu, seorang muslimah akan mengetahui jalan yang selamat.

Akan berbeda tentunya orang yang mengetahui syariat Allah dengan orang yang tidak mengetahuinya, bagaikan perbedaan siang dan malam, sebagaimana firman Allah,”Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? (Az-Zumar:9). Bila para muslimah tidak mau menuntut ilmu syar’I, maka akibat kebodohannya, banyak muslimah yang durhaka terhadap suami, atau terjadi kesalahan dalam memdidik anak , sehingga muncullah generasi yang berakhalak buruk dan bahkan bisa jadi durhaka pada orang tuanya. Karena kebodohannya pula, banyak muslimah yang tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah SWT dari yang demikian itu.

Iklan

Benarkah kebahagiaan itu diukur dari banyaknya harta? Ternyata tidak. Sebagiaan orang menganggap bahwa kebahagiaan itu akan datang jika dia sukses dalam menempuh karier dan meraih popularitas. Demi tujuan ini, bahkan ada orang yg sengaja menunda-nunda nikah sebelum cita-citanya tercapai. Namun betapa tragis akibatnya. Ketika kariernya telah mencapai puncak dan namanya Sangat terkenal, usianya mulai memasuki senja. Dia jalani hidupnya tanpa ada seorang pendamping dan anak-anak mungil disisinya. Dia anggap tempat kerja yg telah mengantarkannya ke puncak karier itu sebagai kuburan dan penjara. Dia pun berteriak,”Ambillah ijazahku dan berilah aku suami”.

Kebahagiaan tidak selalu identik  dengan kekayaan. Namun, kebahagiaan itu bisa dimiliki oleh siapa saja yang berhasil mencapai kesehatan mental yang optimal. Kesehatan mental yang baik banyak bergantung pada cara kita melihat diri dan kehidupan secara keseluruhan. Oleh karena itu, bantulah diri kita kearah suatu kehidupan yang penuh kualitas. Jika kita ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk kita, apapun kondisi keluarga kita, bagaimanapun suara kita, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman kita, serta seberapa pun penghasilan kita .Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, “Seyogyanya kita senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang kita miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak kita miliki.”

Kebahagiaan dapat dirasakan dalam semua aspek kehidupan. Kadang-kadang sukar bagi kita untuk melalui kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini. Namun, kita tidak perlu berputus asa. Ada pepatah modern mengatakan 20% dari kehidupan adalah bagaimana kehidupan itu sendiri dan 80% adalah bagaimana kita mengendalikan kehidupan dan mengatur kehidupan tersebut. Hal ini sesuai dengan ayat al-Quran yang mengatakan nasib suatu kaum itu ditentukan oleh kaum itu sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa kebahagiaan itu perlu dicari. Kita bisa mulai belajar atau mempelajari semua hal mengenai diri sendiri dan mengenal dengan pasti tuntutan atau keinginan yang belum terpenuhi pada setiap tahap kehidupan. Kemudian kita bisa mengatur kehidupan ini dengan lebih semangat, positif dan bahagia untuk masa depan.

Harta, pangkat dan popularitas memang bisa mendatangkan kebahagiaan, namun hanya bersifat semu dan sementara. Semuanya akan sirna dan dapat berubah menjadi bencana, terlebih jika berada dalam genngam orang yang jauh dari agama. Semua orang tentu tidak menginginkan kebahagiaan semu dan sementara. Semua orang menginginkan kebahagiaan hakiki dan abadi sepanjang masa. Lalu bagaimana jalan utk meraih kebahagiaan tersebut?. Bahwa tidak ada jalan kebahagiaan kecuali dalam keimanan dan penghambaan kepada Allah semata. Semakin seseorang taat kepada Allah, semakin dia mendapatkan kebahagiaan. Inilah kebahagiaan hakiki yg bisa diraih oleh siapapun orangnya.

Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas kita Sedihkan.  Kebahagiaan seseorang akan semakin bertambah, berkembang, dan mengakar adalah manakala ia mampu mengabaikan semua hal sepele yang tak berguna. Karena, orang yang berambisi tinggi adalah yang lebih memilih akhirat. Syahdan, seorang ulama salaf memberi wasiat kepada saudaranyademikian, “Bawalah ambisimu itu ke satu arah saja, yakni bertemu denganAllah, bahagia di akhirat, dan damai di sisi-Nya.”{Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tiada sesuatu pun dankeadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.} (QS. Al-Haqqah: 18) Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kepada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas ,perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyhuran, istana-istana dan rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna

Seorang suami mengancam istrinya dan memarahinya seraya berkata,”Saya benar-benar akan mernyengsarakanmu”. Maka istri yang mukminah itu berkata dengan tenang,  ”Engkau tidak akan bisa menyengsarakanku, sebagaimana engkau tidak mampu membahagiaanku”. Suami itu lalu berkata dengan marah,”Bagaimana saya tidak mampu? Istri itu berkata dengan penuh percaya diri,”Jikalau kebahagiaan itu ada dalam belanja bulanan, maka engkau mampu memotongnya dariku atau dalam perhiasan sehingga engkau dapat menghalanginya dariku. Akan tetapi, kebahagiaan itu ada dalam sesuatu yg tidak engkau miliki dan juga tidak dimiliki manusia lainnya. Dalam keadaan terkejut, suami itu bertanya,”Apakah itu?”. Istri itu menjawab dengan penuh keyakinan,”Saya mendapatkan kebahagiaan dalam keimanan, sedangkan keimananku itu ada dalam hatiku dan hatiku itu tidak ada seorangpun yg menguasainya selain RabbKu”. Inilah kekuatan sebenarnya dan inilah kemuliaan iman.


Siapa pun yang mengenal Allah tidak akan kecewa dengan perbuatan  Allah, yakin sudah terukur. Maka semua puncak ketenangan, puncak kebahagiaan, puncak perubahan, puncak kedamaian, puncak kesuksesan berbanding lurus dengan tingkat keyakianan kepada Allah Yang Maha Agung…Didalam Ilmu Tauhid, mengenal Allah sebagai pusat kendali, memegang peranan penting untuk membangun ketenangan dan kebahagiaan. Mereka yang mengenal Allah, akan bersedia di atur, terserah kehendakNya. Sungguh nikmat hidup ini jika kita menghadirkan Allah di setiap langkah dan kehidupan kita, biarkan Allah yang mengatur hidup ini….,biarkan Allah yang mengurus semua kebutuhan-kebutuhan kita…..Berapapun biaya, tenaga,waktu atau apapun untuk kenal dan dekat pada Allah, seharusnya menjadi anggaran atau budget yang menjadi program inti kita. Kalau kita tidak mengenal Allah, maka kita tidak begitu memahami arti hidup, kita tidak memahami kenapa kita diciptakan ke bumi ini. Kami mohon ya Allah, terangilah jalan-jalan kami dengan cahaya-Mu,amiin.

Allah yang mengurus dan mengatur suatu kejadian-kejadian di bumi dan dilangit. Dari masing-masing kejadian, Allah menyisipkan berbagai macam hikmah agar dapat dijadikan pelajaran. Kehidupan ini adalah anugerah yang sangat berharga. Hidup adalah tanggung jawab yang setiap detiknya harus bermakna ibadah. Keindahan hidup bukan diukur dari panjang pendeknya umur, tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang melainkan dari bagaimana ia mengisi hidupnya. Setiap insane pasti memiliki kemampuannya masing-masing untuk memaknai hidup.
Dalam kehidupan ini kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan yang mau tidak mau atau suka tidak suka menuntut kita harus menentukan pilihan, jangan sampai kita tidak memilih karena terlalu takut memikirkan permasalahan yang belum tentu terjadi atau kita merasa tak mampu menghadapinya jika permasalahan itu datang. Berbekal cinta kita kepada Allah SWT harusnya membuat kita mantap untuk bisa memilih.

Adapun orang-orang yang mengenal Allah, mereka tidak selalu berfikir dengan otak dan kepandaian mereka, namun mereka lebih banyak berfikir dengan Allah dan dengan iman dari pada otaknya. Jadi bagi orang yang mengenal Allah mereka mendapatkan dunia dengan usaha dunia yang tidak terlalu berat, tidak terlalu menghabiskan dan menyita waktu mereka dan mereka juga menempatkan dunia di kaki mereka, bukan di hati mereka. Kalau kita mengejar Allah maka dunia difasilitasi oleh Allah untuk kita dan dunia tunduk dengan kita. Beda sekali dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah, mereka bekerja jungkir balik, peras keringat namun yang ia dapatkan hanya sebatas rezeki yang telah ditakdirkan untuk mereka dan mereka jadi budaknya dunia. Jika kita mendahulukan Allah, maka Allah pun akan mendahulukan kita, maka kita harus selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkah kita, menghadirkan Allah agar Allah ikut campur dalam setiap langkah dan kehidupan kita. Hanya dengan kekuatan iman yang kita miliki, kita akan mampu menghadirkan Allah di setiap hidup dan langkah. Minta pertolongan hanya pada Allah dan bersandarlah padaNya. Kekuatan iman 100 kali lipat dari pada kekuatan otak.

Allah lah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu kejadian dan Allah lah yang memberi hikmah pada setiap kejadian. Justru Allah lah sumber dari seluruh sumber kejadian yang ada sumber dari seluruh solusi yang ada. Allah akan mengatur yang terbaik, sudah mengatur yang terbaik dan memberikan hanya yang terbaik buat kita. Adapun rahasia supaya hidup mengalir dengan tenang, aman dan banyak kemudahan yaitu:

1. Jalani hidup dengan keyakinan pada Allah

2. Beribadah dengan sepenuh hati

3. Tawakkal padaNya

4. Kerjakan perintah wajib dan sunnahNya

5. Tinggalkan maksiat dan dosa.

Di dalam hidup ini isinya barangkali hanya ada 2 pilihan yaitu jalan lurus atau jalan sesat, jalan syukur atau jalan kufur dan jalan ibadah atau jalan maksiat.


Jika Allah memberi rezeki kepada kita, maka tak ada seorangpun yang mampu menahannya, tetapi jika Allah belum memberi rezeki kepada kita, walaupun kita sudah kerja keras tidak kenal lelah maka rezeki itu tidak akan datang kepada kita. Rezeki itu di tangan Allah dan datangnya dari Allah, bukan dari yang lain. Kenapa masih ada diantara kita yang mencari rezeki dengan cara yang tidak benar ataupun caranya sudah benar tetapi mencari rezekinya dengan menghabiskan waktunya siang dan malam, sehingga lupa akan tujuan dia diciptakan untuk mengabdi pada Allah. Umurnya dihabiskan secara sia-sia dengan ambisi mencari rezeki, yang sebenarnya rezeki telah dijamin dan dibagi-bagikan Allah SWT. Padahal seseorang tidak mendapatkan rezeki melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Sesungguhnya rezeki Allah SWT tidak dapat ditentukan oleh ambisi seseorang (rezeki) tidak dapat pula ditolak walaupun seseorang membencinya.

Hanya dengan mendekatkan diri pada Allah maka rezeki kita akan terbuka, karena Allah sendiri yang menyuruh kita untuk meminta kepada Allah bukan kepada yang lain. Sebagai orang yang beriman haruslah kita yakin bahwa hanya dengan melalui jalan yang benar sajalah akan didapat rezeki yang berkah. Maka dari itu hendaknya kita mencari rezeki harus mengikuti akhlak yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya yaitu pertama, Niat yang benar, sebagai seorang muslim dalam melakukan seluruh aktivitas termasuk mencari rezeki hendaknya secara ikhlas yakni semata-mata karena Allah. Ikhtiar secara benar artinya kita harus mendahulukan Allah dan mengistimewakan Allah dalam segala hal, sehingga kita tidak akan pernah menjadi budaknya dunia, intinya adalah memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Niat mencari rezeki karena ibadah artinya didalam kita sedang bekerja apakah kita tetap menomorsatukan Allah dalam kondisi apapun, contohnya jika azan telah berkumandang dan kita sedang meeting dengan rekan bisnis, apakah kita sanggup menghentikan meeting atau pura-pura tidak mendengarkan panggilan Allah. Harus disadari bahwa yang dilihat oleh Allah adalah bagaimana kita melakukan aktivitas mencari rezeki bukan seberapa banyak rezeki yang kita dapat dari suatu aktivitas yang kita lakukan. Kedua, tidak menzalimi, ketiga bersyukur, setelah rezeki itu ada ditangan seseorang harus yakin bahwa semuanya itu semata-mata hanya anugerah Allah.

Kita harus yakin dan menyadari bahwa rezeki apapun yang kita peroleh atas karunia dan kemurahan Allah semata, bukan atas jerih payah dan kepandaian kita. Yang demikian itu karena Allah telah menentukan jatah rezeki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya. Dengan demikian seharusnya kita tidak perlu terlalu memikirkan urusan rezeki karena setiap kita sudah dijatah masing-masing rezekinya, tidak meleset sedikitpun dan tidak tertukar oleh siapapun serta tidak berkurang sama sekali. Kita harus sadar bahwa tujuan kita didunia ini bukan mencari apapun yang berhubungan dengan dunia (sesuap nasi) tetapi tugas kita hanya satu yakni”Untk beribadah kepada Allah”.Jadi yang permasalahan sebenarnya bukan urusan rezeki karena urusan rezeki adalah urusan Allah, urusan kita adalah mengabdi pada Allah, lakukan yang terbaik untuk Allah agar Allah ridha pada kita. Allah yang mengatur rezeki untuk kita karena Allah yang lebih tahu seluruh kebutuhan-kebutuhan kita dari pada kita sendiri, Tapi yang kita inginkan adalah bagaimana menjemput keridhaan Allah dan memperbaiki hubungan kita denganNya.

Saudaraku……betapa seringnya kita merasa galau, risau dan panic dalam urusan kehidupan ini. Tapi percayalah bahwa tidak ada satupun makhluk melata didunia ini kecuali Allah sudah menjamin rezeki untuk mereka. Allah mempersiapkan rezeki untuk kita, jauh sebelum kita membutuhkannya, oleh karena itu mengapa kita mesti harus gelisah dan cemas menghadapi masa depan yang masih ghaib. Apa yang akan kita makan, Allah sudah mempersiapkannya sudah lama, maka dari itu janganlah kita pernah merasa bahwa Allah menyia-nyiakan hidup kita dan tak menjaminnya. Asalkan kita menjadi hambaNya, maka Dia akan terus menjamin penghidupan kita.


Seseorang yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah SWT , niscaya Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari pada itu. Orang yang mampu melakukannya karena akal pikirannya dapat menguasai hawa nafsunya. Bila akal dimanfaatkan secara baik maka ia akan membawa pemiliknya beranjak menuju derajat para raja yang mampu mengendalikan hambanya, dalam hal ini hawa nafsunya.

Seandainya seorang pencuri bertaqwa pada Allah dengan meninggalkan perbuatannya mencuri harta haram baginya, niscaya Allah akan menggantikannya dengan memberikan harta halal seperti yang dia inginkan. Allah SWT menegaskan bahwa apabila seseorang bertaqwa kepada Allah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak halal baginya maka Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak pernah diduga.

Apabila Allah SWT mengharamkan sesuatu pada hambaNya, maka Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik bagi mereka. Contohnya adalah ketika Allah mengharamkan pengundian nasib dengan anak panah, maka Dia menggantikannya dengan doa istikharah, ketika Allah mengharamkan transaksi riba Dia menggantikannya dengan perdagangan yang menguntungkan. Ketika Allah mengharamkan perjudian maka Dia menggantikannya dengan memperoleh harta dengan cara berlomba yang bermanfaat seperti pacuan kuda dan memanah. Ketika Allah mengharamkan minuman keras maka Dia menggantikannya dengan minuman lezat yang bermanfaat untuk jasmani dan rohani.

Allah SWT memerintahkan sesuatu kepada para hambaNya bukan karena Dia butuh kepada mereka. Demikian juga ketika Allah melarang sesuatu kepada mereka bukan karena Dia kikir. Namun, Allah memerintahkan sesuatu kepada para hambaNya karena itu merupakan kebaikan dan kasih sayangNya kepada mereka. Dan, ketika Dia melarang sesuatu, itu merupakan bentuk pemeliharaan dan perlindunganNya terhadap mereka. Jika seseorang hamba sudah mampu untuk menyelaraskan antara hawa nafsu dan akal pikiran dengan baik, maka dia akan dengan mudah memerangi gejolak hawa nafsu dan syetan.

Maksiat itu adalah eksistensi nafsu dan taat itu adalah hilangnya nafsu. Manusia dijadikan lemah dalam segala hal. Ia tidak mampu melawan syetan yang membisikkannya. Ia tidak bisa melawan nafsu dan syahwatnya. Ia lemah dihadapan wanita, harta, ketenaran dan kesuksesan. Ia lemah jasmaninya, ia lemah untuk menahan kantuk dan tidur. Ia lemah dalam menghadapi virus yang paling kecil sekalipu dan sebagainya. Pada dasarnya manusia itu bersifat lemah. Setiap bentuk perlawanan dalam menghadapi hal-hal tersebut diatas adalah berkat karunia dan pertolongan Allah. Seandainya Allah membiarkannya dalam keadaan lemah maka seorang manusia tidak dapat melawan pandangan yang haram, tidak bisa mengelak dari harta yang haram atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahnatNya kepada kamu sekalian, niscata tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya.”(An-Nur 21)

Allah SWT telah menganugerahkan suatu kesadaran dan pemahaman dalam hati setiap insan. Hati terbaik adalah hati yang paling tanggap terhadap setiap kebaikan dan hati terburuk adalah hati yang paling tanggap terhadap kesesatan dan kerusakan serta yang telah dikuasai hawa nafsu. Allah menguji para hambaNya untuk tidak memperturutkan hawa nafsunya agar dia mendapatkan tempat kembali yang paling indah. Seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tunggangan ,santapan dan energy hawa nasfu tidaklah layak menempati surga dan tempatnya yang layak adalah dineraka yang menyala-nyala. Perilaku seperti ini adalah merupakan penyakit jiwa dan obatnya adalah menentang hawa nafsu itu sendiri.

Allah membiarkan seorang hambaNya jatuh dalam gelimang dosa, tidak menolong dia untuk melawannya, hal ini agar manusia dapat mengethui betapa lemahnya mereka. Contohnya, ketidakberdayaan seorang hamba dalam beberapa keadaan untuk taat kepada Allah. Maka kita melihat seseorang diantara kita yang mendengar azan subuh tetapi tidak bisa bangun untuk sholat subuh.


Hawa nafsu adalah kecenderungan alamiah terhadap sesuatu yang sesuai dengannya seperti ada kecenderungan untuk makan, minum, menikah dll. Hawa nafsu merupakan keperluan bagi manusia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya, sebagaimana amarah yang merupakan wujud penolakan terhadap sesuatu yang menyakitkan. Oleh karena itu hawa nafsu tidak layak untuk dicela dan dipuja secara mutlak, sebagaimana halnya amarah. Yang dicela adalah yang berlebih-lebihan pada keduanya demi memperoleh manfaat dan demi mencegah mudarat. Memposisikan kekuatan hawa nafsu dan amarah secara bijak dari segala sisi jarang sekali mampu dilakukan orang-orang kecuali hanya segelintir saja dari mereka yang merupakan orang-orang yang berilmu. Dalam sunah Nabi, hawa nafsu dicela kecuali yang bisa dikendalikan. Rasulullah bersabda.”Tidak  sempurna iman salah seorang diantara kalian, sehingga nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”

Satu hal yang harus kita ketahui bahwa kendaraan syetan yang telah tersedia pada tiap diri anak adam adalah hawa nafsu. Jadi syetan tidak mengakali kita kecuali lewat hawa nafsu. Sedangkan nafsu mempunyai tiga macam tabiat, pertama adalah hawa nafsu itu senang akan penghargaan, pujian, kemuliaan, kehormatan dan harga diri. Kedua syetan selalu membisikkan kita agar mengumbar nikmat. Ketiga hawa nafsu paling malas kepada taat.

Yang pasti bahwa hawa nafsu akan membawa seseorang kepada kenikmatan semu tanpa memikirkan akibat yang akan menimpanya. Ia kerap menganjurkan pemiliknya untuk selalu meraih beragam kesenangan nisbi sekalipun itu akan berdampak penderitaan yang paling besar, baik cepat maupun lambat. Ia akan membutakan pemiliknya untuk memperhatikan dampak negative itu. Agama, akal dan kewibawaan melarang seseorang untuk merasakan kenikmatan yang berbuntut  pada penderitaan. Memperturutkan hawa nafsu akan membuahkan penyesalan. Seseorang yang memiliki iman yang rendah akan terbuai dengan hawa nafsunya sekalipun itu akan berdampak pada penderitaan mereka diakhirat kelak. Seseorang yang tidak memiliki kewibawaan diri yang cukup tinggi akan lebih mementingkan hawa nafsunya sekalipun itu akan mengurangi atau menghilangkan kewibawaannya sendiri.

Seseorang yang sudah balig di uji dengan hawa nafsu dan setiap orang diberikan kpadanya dua juru hakim yaitu akal dan agama. Dalam setiap peristiwa yang dihadapinya saat berhadapan dengan hawa nafsu, dia seharusnya meminta petuah kepada keduanya dan mesti mematuhi keputusan keduanya. Seyogyanya seseorang harus berlatih untuk mealawan hawa nafsunya yang sudah pasti akan berdampak pada penderitaan setelah memperturutkannya. Orang yang berakal hendaknya mengetahui bahwa pecandu hawa nafsu tidak akan pernah merasakan kenikmatan hakiki . Selain itu mereka juga tidak akan mampu untuk meninggalkannya, karena saat itu hawa nafsunya layaknya kehidupan yang mesti mereka jalani.

Jika kita mampu melawan hawa nafsu maka akan membuahkan kemuliaan baik dunia dan akhirat, lahir dan batin. Memperturutkan hawa nafsu akan membuahkan kehinaan baik di dunia maupun akhirat, baik secara lahir maupun batin. Hawa nafsu adalah perbudakan yang ada di dalam hati, jerat yang ada dileher dan belenggu yang ada di kaki. Seseorang yang melawan hawa nafsunya berarti dia telah melepaskan perbudakan di dalam hatinya sehingga dia menjadi orang yang bebas. Jika kita memperhatikan setiap orang yang mengalami keadaan buruk, niscaya kita akan mendapati bahwa permulaannya adalah mengikuti hawa nafsu dan lebih mengutamkannya dari pada akalnya sendiri. Seseorang yang permulaannya adalah melawan hawa nafsu dan mematuhi ajakan akalnya maka penghabisannya adalah kemuliaan, kehormatan, kekayaan dan kedudukan disisi Allah dan manusia. Seseorang yang menguasai hawa nafsunya saat masih muda maka Allah akan memuliakannya saat dia tua.

Menyadari bahwa dengan memperturutkan hawa nafsu membuat dirinya tidak lebih baik dari pada binatang dan juga menyadari bahwa syetan tidak mempunyai jalan masuk untuk menggoda manusia kecuali melalui pintu hawa nafsu. Melalui hawa nafsu, syetan akan mengalir ke dalam diri seseorang guna merusakkan hati dan amalannya, laksana racun yang mematikan bagi anggota tubuh. Para pemburu hawa nafsu tidak berhak untuk ditaati dan dijadikan pemimpin. Seseorang yang memperturutkan hawa nafsu dikhawatirkan keimanannya akan keluar dari dalam qalbunya sementara dia tidak menyadarinya.

Tiada sehari pun melainkan hawa nafsu dan akal akan berseteru dalam diri setiap insan. Siapa saja diantara keduanya yang lebih kuat, maka ia akan mengusir yang lainnya. Saat itu yang menanglah yang akan memutuskan hendak di bawa kemana pemiliknya. Saat pagi, hawa nafsu dan amal seseorang berpadu. Apabila amalnya mengikuti hawa nafsunya maka harinya itu adalah hari yang buruk. Apabila hawa nafsunya mengikuti amalnya maka hari itu adalah hari yang baik. Hawa nafsu adalah penyakit dan obatnya adalah melawan hawa nafsu itu sendiri. Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu.

Memperturutkan hawa nafsu akan menutup pintu taufik Allah kepada pelakunya dan membuka pintu penyesalan. Seseorang yang memperturutkan hawa nafsu maka sejumlah jalan taufik Allah untuknya telah terputus, merusakkan akal pikirannya dan melemahkan semangat pengabdian diri kepada Allah. Orang yang paling cepat langkahnya ke neraka adalah orang yang memperturutkan hawa  nafsu. Hawa nafsu adalah berhala dan setiap orang mempunyai berhala dalam dirinya seukuran hawa nafsunya. Semua penyakit hati bersumber dari memperturutkan hawa nafsu. Seandainya kita memeriksa berbagai penyakit badan, niscaya kita temui bahwa sebagian besar bersumber dari mengedepankan hawa nafsu, sesuatu yang mestinya kita tinggalkan.

Allah SWT menciptakan dua bagian dalam diri seseorang yaitu akal dan hawa nafsu. Apabila yang satu muncul maka sudah pasti yang lainnya akan bersembunyi. Seseorang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, maka akalnya tidak akan bekerja. Akal dan hawa nafsu senantiasa berseteru. Taufik adalah temannya akal sementara penyesalan adalah temannya hawa nafsu. Musuh bebuyutan manusia adalah syetan dan hawa nafsunya. Adapun teman sejatinya adalah akal dan malaikat yang senantiasa menasehatinya.


Masalah hidup adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia seperti masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar ataupun masalah-masalah lain. Tidak ada seorangpun yang terhindar dari masalah. Semua masalah-masalah itu bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong dan lemah karena pada dasarnya manusia adalah sosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan, ini merupakan sudah menjadi fitrah bagi setiap insan.

Sekecill apapun masalah yang kita hadapi, jangan dianggap enteng. Kalau tidak segera diatasi, problem tersebut sedikit demi sedikit akan berubah menjadi beban yang dapat merusak kesehatan dan apabila ditumpuk maka akan sulit diatasi. Pada mulanya beban yang dihadapi seseorang sangat ringan akan tetapi jika tidak segera diatasi sedikit demi sedikit bebannya menjadi bukit, sehingga menjadi benang kusut, tidak diketahui awal dan akhirnya. Beban ini kemudian menjadi kesusahan yang menghimpit, kesedihan yang meliputi dan mengganggu tidur. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan maka hadapkanlah semua itu kepada Allah SWT. Allah berfirman,” Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami.” (QS At-taubah 40).

Ketika menghadapi suatu masalah, jangan menumpuk masalah tersebut tetapi carilah solusinya dengan mengadukan semua masalah tersebut pada Allah dengan sabar dan sholat. Hadapilah setiap masalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya. Ketika menghadapi berbagai masalah maka hal yang harus kita lakukan adalah mengadukan kepada Allah SWT karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap masalah, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh dan keluhan itu hanya kita adukan pada Allah semata, maka semua itu dapat meringankan beban berat yang selama ini kita derita. Allah sudah mengingatkan hambaNya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari, “Hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami minta pertolongan” (Qs Al-Fatihah 5).

Bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi masalah? Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita. Ketika permasalah datang menghampiri, jangan mengeluh dihadapan sang Pencipta, jangan memberontak akan keputusanNya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun mintalah agar diberi kesabaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita dan selalu mengharapkan ganjaran pahala untuk kita.

Berpikir positiflah dalam menghadapi masalah karena dengan berpikir positif maka segala bentuk kesusahan yang ada di dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap dan keyakinan bahwa segala kesusahan yang dihadapi pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagaimana firmanNya,”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”(Qs Al-Insyirah 5-6). Segala masalah yang dihadapi akan membuat jiwa lebih tenang jika kita senantiasa mengingat Allah dalam segala hal yang kita kerjakan. Dan sudah merupakan janji Allah bagi siapa saja yang mengingatNya, maka di dalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingatNya. Sebagaimana firmanNya,” Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnahNya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa dan jika keluhan yang kita ikuti sengsara masalah akan selalu bertambah. Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci dan dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Disaat kita mencari solusi dalam suatu masalah, disaat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa dan tanpa masalah juga kita takkan menjadi orang yang luar biasa


Iklan