Sesungguhnya seorang mukmin yang tulus dalam imannya, yang tinggi akhlak budi pekertinya tidak akan engkau temui kecuali dalam keadaan hati yang bersih, sikap yang suci, tidak iri terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada siapapun dari berbagai karunia dan kehormatan, tidak dengki terhadap mereka, hanya untuk sekedar ketamakan dunia atau hanya karena ia merasa dirugikan baik jiwa, harta maupun keturunannya. Iri dan dengki akan memusnahkan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar. Dengki termasuk akhlak yang buruk dan merupakan penyakit jiwa yang sangat membahayakan kesehatan. Orang yang dengki didup dengan penderitaan bathin didalam dirinya.

Melakukan suatu kebaikan kapanpun saatnya, dimanapun tempatnya, kemanapun arahnya dan apapun jenisnya, tidak hanya akan memberikan kebahagiaan kepada objeknya saja, namun juga akan memberikan kebahagiaan kepada pelakunya, yang tidak mengharapkan kecuali keridhaan dari Allah SWT serta pahala dan balasan dari-Nya. Kenapa kita tidak berusaha hari demi hari untuk bisa melakukan amal shaleh yang lebih banyak, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak, agar kita bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Jika kita tidak mampu, maka lakukanlah sholat dhuha. Jika kita mampu bersedekah dan sholat dhuha maka itulah kebahagiaan diatas kebahagiaan.

Wahai saudaraku…….yakinlah, bahwa memaafkan seseorang saat kita mampu untuk membalas kesalahannya bukanlah kehinaan dan kelemahan sebagaimana yang dipahami oleh segelintir orang, tidak sama sekali, bahkan ia adalah kemuliaan, kehormatan dan kebanggaan yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berhati lapang dan berjiwa besar. Ingatlah apa yang kita lakukan semua itu hanya karena mengharapkan ridha Allah dan bukan untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi yang lainnya, niscaya kita akan mendapatkan kenikmatan hati dan kelegaan jiwa serta pahaka dari Allah SWT di hari kiamat nanti.

Jadilah orang yang dermawan, karena hanya dengan memberi kita akan merasakan kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang menerimanya. Imam Ali berkata,”Kedermawanan yang sebenarnya dilakukan secara spontan, jika didahului oleh permintaan maka yang demikian itu hanyalah penutup rasa malu atau upaya penyelamatan diri dari celaan.”

Kesempatan berbuat kebayikan terbuka luas, seluas bumi ini. Semua langkah yang kita ayunkan di jalan Allah dan semua amal yang kita lakukan untuk mencari keridhaanNya, merupakan kebayikan yang akan mendapatkan ganjaran dan akan membuat hati ini bahagia. Berbuatlah kebayikan sebagaimana Allah SWT telah berbuat kebayikan padamu. Janganlah kita meremehkan perbuatan baik walaupun hanya perbuatan kecil seperti menyingkirkan sebongkah batu yang tergeletak di tengah jalan. Tergesa-gesa dalam arti terburu-buru sehingga menimbulkan kesalahan dalam berpikir dan bertindak, tidak dianjurkan, namun tergesa-gesa dalam arti bersegera dan berlomba-lomba dalam kebayikan adalah sesuatu yang dianjurkan islam. Imam Ali berkata,”Menyegerakan kebayikan menambah kebayikan”.

Ketika kita melakukan suatu kebayikan, tanamkanlah pada diri kita bahwa manusia itu bagai barang tambang seperti emas dan perak. Jika kita melakukan kebayikan dan orang tidak menyampaikan terimakasih kepada kita, jangan risau. Ciptakanlah didalam diri kita jiwa positif di dalam mengerjakan kebayikan, walaupun tidak ada orang yang menyampaikan terimakasih kepada kita. Dari sisi lain, tidaklah terpuji jika kita mengingkari atau tidak mengucapkan terimakasih atas kebayikan yang dilakukan orang kepada kita, baik yang secara langsung berhubungan maupun tidak langsung. Menyampaikan terimakasih kepada orang lain tidak membebani kita sedikitpun. Bahkan, dengan itu kita telah mendorong mereka untuk lebih meningkatkan perbuatannya dan membuat mereka lebih percaya diri, terutama apabila ucapan terimakasih itu pada tempatnya.