Istri harus bertanggung jawab untuk mengatur urusan rumah tangga, diantaranya urusan keuangan. Anggaran belanja rumah tangga di mulai dari persiapannya, pelaksanaanya kemudian pengontrolannya. Yang paling penting adalah tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan internal dalam rumah tangga yaitu menentukan pembelanjaan atas pemasukan suaminya. Alangkah mulianya seorang wanita yang berjiwa qana’ah, cermat dalam membelanjakan harta demi mencukupi suami dan anak-anaknya. Wahai saudaraku…..hidup ini bagai roda pedati, terkadang diatas dan terkadang kita berada di bawah. Jika hari ini kita punya kelebihan rezeki, bersyukurlah pada Allah baik dengan ucapan maupun perbuatan. Adapun bukti nyata kesyukuran kita atas berbagai nikmat yang telah kita peroleh maka hanya dengan berbagi buat sesama. Yach…bersedekahlah sesuai dengan kemampuan kita, maka Allah akan memberkahi hidup kita, menjaga kita dari sifat kikir yang akan membuat hidup kita tak bahagia. Selain bersedekah, buatlah sedikit dari uang yang kita punya untuk di tabung. Ketika kita punya rezeki terbatas hari ini, maka bersabarlah, dan tetaplah untuk menysisihkan sedikit untuk berbagi, karena apapun yang kita berikan kepada saudara kita secara istiqamah maka Allah telah menjamin mengembalikannya berlipat ganda dan pahala yang lebih besar di akhirat nanti. Perlu diinga wahai saudariku…berbagi disaat kita berkecukupan itu menandakan kita hanya orang biasa saja Kenapa? Karena disaat itu kita punya kelebihan rezeki tetapi disaat kita tidak berada di dalam kecukupan dan ternyata kita mampu istiqamah untuk tetap memberi maka itulah yang dinamakan manusia luar biasa. Yang tetap ridha pada keputusan Allah. Sekarang terserah pada kita masing-masing, apakah kita akan menjadi manusia biasa saja atau mampu membuat diri kita luar biasa hanya di depan Allah dengan keikhlasan. Keridhaan dan sikap Qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah merupakan simpanan dan sumber rezekinya.

Istri sebagai seorang mukminah yang sabar harus memiliki perhitungan matematis yang berpegang pada motto,” Kami bersabar menghadapi kelaparan, tetapi kami tidak mampu bersabar menghadapi neraka.”Ia hanya menerima rezeki yang halal karena semboyannya adalah firman Allah,”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah teman syetan.” (Al-Israa’27). Wahai para suami yang sempat membaca tulisan ini, apakah engkau tidak kasihan pada istrimu dan anak-anakmu? Tegakah kau melihat orang-orang yang kau cintai menjerit karena tak sanggup menahan panasnya siksaan api neraka di akhirat kelak?. Maka berhati-hatilah engkau para suami dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami para istri telah berusaha mendidik anak-anak dengan baik, tetapi jika kau tetap membawa harta yang tidak halal ke rumah, jangan salahkan kami yang gagal dalam mendidik anak-anak kita. Ketahuilah para suami, rezeki yang haram akan menumbuhkan daging dan pikiran yang tidak sehat dan yang lebih sekali doa kita tidak akan dikabulkan. Maka marilah kita bersama-sama bertaqwa pada Allah. “Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Ali bin Abu Thalib berkata,”Sebaik-baik istri kalian adalah yang memiliki bau yang wangi dan yang selalu menjaga kebaikan makananya. Yang jika membelanjakan harta, ia membelanjakan dengan tidak berlebih-lebihan dan jika ia menyimpannya, ia menyimpannya dengan tidak keterlaluan alias pelit.” Wahai wanita shaleh……jadikanlah seluruh hatimu milik Allah, jangan sesekali kamu mengharap pada cinta manusia. Cintailah Allah sepenuh hati. Seandainya terdetik hatimu, mencintai manusia, cintailah pada yang berhak, pastikan cintamu hanya karena Allah. Jadilah wanita shaleh yang memelihara hatinya dan mengharap redha Allah di setiap langkah kakinya.