Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, orang-orang terus saja menumpuk kekayaan dan bermegah-megahan dengan harta bendanya, ditengah-tengah orang miskin yang semakin tertindas dan semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tak heran, harta yang berlimpah, jabatan, popularitas dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan manusia siang malam. Padahal dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan menyisakan kehampaan, kepedihan dan keletihan.

Benar, bermegah-megahan dengan harta adalah suatu penyakit, karena dengan bermegah-megahan akan mendekatkan diri pada kekufuran, kemunafikan dan kemaksiatan. Ini sama juga orang-orang berharta justru yang mendorong orang-orang kekurangan dan lapar untuk mencuri, merampok, menjambret dan mencopet. Jadi seandainya hak mereka terpenuhi hak mereka yang harus kita keluarkan tentunya kejahatan orang-orang kekurangan itu akan dapat diminalisasi.

Orang-orang yang berlebihan di dalam hidupnya, akibatnya mereka menjadi korban kecintaan kepada dunia, yang merupakan pangkal dari semua kesalahan, sebagaimana sabda Rasulullah.”Kecintaan kepada dunia adalah pangkal dari semua kesalahan.” Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia, yang mana mereka secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak , takkan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT. Kaya bukanlah semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.

Hidup bermewah-mewahan adalah salah satu contoh hal yang disebut kurang bersyukur dalam menjalani hidup yang fana ini. Mengapa orang yang suka hidup mewah dan senang pada merk itu adalah kufur nikmat? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Orang yang terbiasa hidup mewah senang dengan merk akan menderita hidupnya karena akan biaya yang tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah takkan terus sama dalam beberapa tahun. Dia akan disiksa dengan kotor hati’riya’. Kalau kita terbiasa hidup mewah, resiko tinggi dan ketentraman tidak terasa. Kalau kita menginginkan hidup penuh barokah maka jauhilah hidup dalam kemewahan dan bersikaplah hidup bersahaja.

Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dibenci, namun harta itu tercela jika dia melalaikan kita dari mengingat Allah  karena disebabkan oleh gaya hidup bermewah-mewahan dan lupa diri. Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Tamak terhadap dunia adalah sumber kemiskinan. Ingatlah bahwa orang yang miskin bukanlah orang yang kekurangan harta benda, akan tetapi kemiskinan yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah kenyang dengan harta dunia. Mereka kumpulkan harta siang dan malam hingga meninggalkan kewajiban agamanya. Ia bangun rumah yang mewah, kendaraan yang mewah dan popularitas serta kedudukan yang tinggi dihadapan manusia. Sementara mereka lupa berinfaq , sedekah dan beramal sholeh.

Kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini hampir seluruhnya disebabkan oleh ketamakan. Perebutan harta warisan, persaingan bisnis dan kerakusan seseorang terhadap jabatan sering kali terjadi. Kerakusan seseorang terhadap harta dan jabatan lebih parah dibandingkan seekor serigala lapar yang dilepas pada kawanan domba, sedangkan orang yang rakus akan melahap apa saja yang ada didepannya. Kerakusan seseorang terhadap harta tidak akan menambah kecuali apa yang telah Allah berikan kepada orang tersebut. Setan akan senantiasa menakuti-nakuti manusia dengan kefakiran sehingga manusia berbuat dosa. Setan mengatakan: jika kalian tidak rakus, maka kalian menjadi orang miskin, tidak dihormati. Setan akan ketawa ketika manusia sudah capek dengan kerakusannya serta diikuti oleh kemalasan dia beribadah pada Allah SWT.

Dalam kerakusan dan ketamakan terdapat kehinaan, karena kerakusan hanya akan mencapekkan dan menghinakan seseorang. Orang yang rakus akan sangat tergantung pada manusia, orang tersebut akan ciut nyalinya, pengecut jiwanya, tipis hatinya dan lemah imannya. Orang kaya akan masuk jannah lebih akhir dari pada orang miskin lima ratus tahun. Yang demikian itu karena orang kaya lebih banyak harta yang dihisab dibandingkan orang miskin. Tak ada jalan bagi orang mukmin untuk mendapatkan jannah kecuali dengan zuhud dan qana’ah. Sedangkan kerakusan terhadap dunia dan kikir hanya akan membawa seseorang ke neraka.

Beruntunglah seorang hamba yang menjadikan ibadah sebagai pekerjaanya. Kefakiran sebagai dambaannya, menyendiri sebagai ambisinya, akhirat sebagai cita-citanya, mencari penghidupan sebagai bekalnya, maut sebagai kesibukan pikirannya dan tekun dengan zuhud sebagai niatnya. Ia mematikan kesombongannya dengan kehinaan dan menjadikan keperluannya hanya kepada Tuhannya.