Hidup di dunia sering membuat kita panic dengan berbagai masalah yang datang seperti rezeki sempit, karier tidak maju dan kondisi yang tidak stabil membuat hati galau dan risau. Kegalauan hati ini disebabkan salah satunya karena kedangkalan iman yang kita miliki dan ketawakalan yang kurang kuat . Keyakinan tentang rezeki kita bergantung hanya pada Allah saja, banyak yang tidak dipahami dan dihayati oleh sabagian orang muslim. Rezeki yang kita terima tidak sepenuhnya bergantung pada gaji, prestasi,  jabatan, kedudukan , usaha keras, kecerdasan dan ilmu tetapi semuanya itu hanyalah sarana untuk menjemput rezeki dan itulah ladang amal saleh apakah kita pergunakan sesuai dengan aturan Allah atau tidak, disitulah berlaku hisab Allah. Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap Qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rezeki lebih banyak dari pada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap iri dan dengki.

Untuk menghilangkan kegalauan hati, manusia perlu mencari rahmat dan pahala Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. ‘Rahmat’ yang membuat hati merasa berkecukupan. ‘Pahala’ yang membuat jiwa menjadi gembira. Hanya manusia yang memiliki kedalaman iman dan ketawakkalan yang kuat yang tidak pernah galau dan sedih terhadap dunia ini. Meski rezeki sedikit, mereka masih bisa berbagi. Di dalam kondisi sulit, merekapun masih dapat memberi. Ia tidak pernah khawatir menghadapi hari esok, karena ia tahu Allah menjamin rezeki hambaNya. Ia mendahulukan perniagaan dengan Allah, sebab ia yakin terhadap janji Allah yang akan menggantinya dengan balasan yang terbaik.

Apa manfaat keyakinan kita bahwa rezeki bersumber dari Allah?

1. Kita tidak perlu takut menjadi miskin

2. Kita tidak perlu takut dipecat dari pekerjaan

3. Kita tidak perlu takut ada saingan bisnis baru yang menyaingi usaha kita

Jadi intinya kita tidak perlu takut dan khawatir tentang rezeki kita, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik sesuai dengan aturanNya dan mendistribusikan secara halal. Bagi seorang mukmin haruslah meyakini bahwa Allah SWT pasti sudah menjamin’nafkah’ para hamba-Nya . Namun perkara’nafkah’ itu kapan datangnya, maka ‘infaklah’ jawabannya.

Diantara hikmah Allah SWT menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi. Allah memberikan rezeki kepada setiap makhlukNya sesuai ukuran yang tepat, tidak kurang dan tidak lebih. Artinya, Allah telah menentukan kadar rezeki setiap hambaNya sehingga tidaklah perlu bagi kita untuk saling iri dan dengki pada rezeki yang telah diperoleh saudara kita. Rezeki merupakan misteri ilahi , artinya jangan pernah mengukur-ukur seberapa besar Allah memberikan rezeki kepada kita atau orang lain, baik itu kapan, dimana dan bagaimana. Selain hal tersebut membuat kita congkak, juga akan menimbulkan ketidak-iklasan dalam hati kita atas apa yang kita peroleh dari Allah SWT selama ini.

Wahai saudaraku…..tetaplah bersabar dan istiqamah berjuang dijalan Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat tahajud, sedekah dan dhuha . Karena hanya Allah Yang Maha Pemberi rezeki memberikan keajaiban dan rezeki yang tidak disangka-sangka. ‘Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezekiMu yang halal, serta jauhkan dari yang haram, dan berilah kami kekayaan tanpa tandingan” Amin Ya Rabbal’alamin.”