Hawa nafsu adalah kecenderungan alamiah terhadap sesuatu yang sesuai dengannya seperti ada kecenderungan untuk makan, minum, menikah dll. Hawa nafsu merupakan keperluan bagi manusia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya, sebagaimana amarah yang merupakan wujud penolakan terhadap sesuatu yang menyakitkan. Oleh karena itu hawa nafsu tidak layak untuk dicela dan dipuja secara mutlak, sebagaimana halnya amarah. Yang dicela adalah yang berlebih-lebihan pada keduanya demi memperoleh manfaat dan demi mencegah mudarat. Memposisikan kekuatan hawa nafsu dan amarah secara bijak dari segala sisi jarang sekali mampu dilakukan orang-orang kecuali hanya segelintir saja dari mereka yang merupakan orang-orang yang berilmu. Dalam sunah Nabi, hawa nafsu dicela kecuali yang bisa dikendalikan. Rasulullah bersabda.”Tidak  sempurna iman salah seorang diantara kalian, sehingga nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”

Satu hal yang harus kita ketahui bahwa kendaraan syetan yang telah tersedia pada tiap diri anak adam adalah hawa nafsu. Jadi syetan tidak mengakali kita kecuali lewat hawa nafsu. Sedangkan nafsu mempunyai tiga macam tabiat, pertama adalah hawa nafsu itu senang akan penghargaan, pujian, kemuliaan, kehormatan dan harga diri. Kedua syetan selalu membisikkan kita agar mengumbar nikmat. Ketiga hawa nafsu paling malas kepada taat.

Yang pasti bahwa hawa nafsu akan membawa seseorang kepada kenikmatan semu tanpa memikirkan akibat yang akan menimpanya. Ia kerap menganjurkan pemiliknya untuk selalu meraih beragam kesenangan nisbi sekalipun itu akan berdampak penderitaan yang paling besar, baik cepat maupun lambat. Ia akan membutakan pemiliknya untuk memperhatikan dampak negative itu. Agama, akal dan kewibawaan melarang seseorang untuk merasakan kenikmatan yang berbuntut  pada penderitaan. Memperturutkan hawa nafsu akan membuahkan penyesalan. Seseorang yang memiliki iman yang rendah akan terbuai dengan hawa nafsunya sekalipun itu akan berdampak pada penderitaan mereka diakhirat kelak. Seseorang yang tidak memiliki kewibawaan diri yang cukup tinggi akan lebih mementingkan hawa nafsunya sekalipun itu akan mengurangi atau menghilangkan kewibawaannya sendiri.

Seseorang yang sudah balig di uji dengan hawa nafsu dan setiap orang diberikan kpadanya dua juru hakim yaitu akal dan agama. Dalam setiap peristiwa yang dihadapinya saat berhadapan dengan hawa nafsu, dia seharusnya meminta petuah kepada keduanya dan mesti mematuhi keputusan keduanya. Seyogyanya seseorang harus berlatih untuk mealawan hawa nafsunya yang sudah pasti akan berdampak pada penderitaan setelah memperturutkannya. Orang yang berakal hendaknya mengetahui bahwa pecandu hawa nafsu tidak akan pernah merasakan kenikmatan hakiki . Selain itu mereka juga tidak akan mampu untuk meninggalkannya, karena saat itu hawa nafsunya layaknya kehidupan yang mesti mereka jalani.

Jika kita mampu melawan hawa nafsu maka akan membuahkan kemuliaan baik dunia dan akhirat, lahir dan batin. Memperturutkan hawa nafsu akan membuahkan kehinaan baik di dunia maupun akhirat, baik secara lahir maupun batin. Hawa nafsu adalah perbudakan yang ada di dalam hati, jerat yang ada dileher dan belenggu yang ada di kaki. Seseorang yang melawan hawa nafsunya berarti dia telah melepaskan perbudakan di dalam hatinya sehingga dia menjadi orang yang bebas. Jika kita memperhatikan setiap orang yang mengalami keadaan buruk, niscaya kita akan mendapati bahwa permulaannya adalah mengikuti hawa nafsu dan lebih mengutamkannya dari pada akalnya sendiri. Seseorang yang permulaannya adalah melawan hawa nafsu dan mematuhi ajakan akalnya maka penghabisannya adalah kemuliaan, kehormatan, kekayaan dan kedudukan disisi Allah dan manusia. Seseorang yang menguasai hawa nafsunya saat masih muda maka Allah akan memuliakannya saat dia tua.

Menyadari bahwa dengan memperturutkan hawa nafsu membuat dirinya tidak lebih baik dari pada binatang dan juga menyadari bahwa syetan tidak mempunyai jalan masuk untuk menggoda manusia kecuali melalui pintu hawa nafsu. Melalui hawa nafsu, syetan akan mengalir ke dalam diri seseorang guna merusakkan hati dan amalannya, laksana racun yang mematikan bagi anggota tubuh. Para pemburu hawa nafsu tidak berhak untuk ditaati dan dijadikan pemimpin. Seseorang yang memperturutkan hawa nafsu dikhawatirkan keimanannya akan keluar dari dalam qalbunya sementara dia tidak menyadarinya.

Tiada sehari pun melainkan hawa nafsu dan akal akan berseteru dalam diri setiap insan. Siapa saja diantara keduanya yang lebih kuat, maka ia akan mengusir yang lainnya. Saat itu yang menanglah yang akan memutuskan hendak di bawa kemana pemiliknya. Saat pagi, hawa nafsu dan amal seseorang berpadu. Apabila amalnya mengikuti hawa nafsunya maka harinya itu adalah hari yang buruk. Apabila hawa nafsunya mengikuti amalnya maka hari itu adalah hari yang baik. Hawa nafsu adalah penyakit dan obatnya adalah melawan hawa nafsu itu sendiri. Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu.

Memperturutkan hawa nafsu akan menutup pintu taufik Allah kepada pelakunya dan membuka pintu penyesalan. Seseorang yang memperturutkan hawa nafsu maka sejumlah jalan taufik Allah untuknya telah terputus, merusakkan akal pikirannya dan melemahkan semangat pengabdian diri kepada Allah. Orang yang paling cepat langkahnya ke neraka adalah orang yang memperturutkan hawa  nafsu. Hawa nafsu adalah berhala dan setiap orang mempunyai berhala dalam dirinya seukuran hawa nafsunya. Semua penyakit hati bersumber dari memperturutkan hawa nafsu. Seandainya kita memeriksa berbagai penyakit badan, niscaya kita temui bahwa sebagian besar bersumber dari mengedepankan hawa nafsu, sesuatu yang mestinya kita tinggalkan.

Allah SWT menciptakan dua bagian dalam diri seseorang yaitu akal dan hawa nafsu. Apabila yang satu muncul maka sudah pasti yang lainnya akan bersembunyi. Seseorang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, maka akalnya tidak akan bekerja. Akal dan hawa nafsu senantiasa berseteru. Taufik adalah temannya akal sementara penyesalan adalah temannya hawa nafsu. Musuh bebuyutan manusia adalah syetan dan hawa nafsunya. Adapun teman sejatinya adalah akal dan malaikat yang senantiasa menasehatinya.