Seseorang yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah SWT , niscaya Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari pada itu. Orang yang mampu melakukannya karena akal pikirannya dapat menguasai hawa nafsunya. Bila akal dimanfaatkan secara baik maka ia akan membawa pemiliknya beranjak menuju derajat para raja yang mampu mengendalikan hambanya, dalam hal ini hawa nafsunya.

Seandainya seorang pencuri bertaqwa pada Allah dengan meninggalkan perbuatannya mencuri harta haram baginya, niscaya Allah akan menggantikannya dengan memberikan harta halal seperti yang dia inginkan. Allah SWT menegaskan bahwa apabila seseorang bertaqwa kepada Allah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak halal baginya maka Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak pernah diduga.

Apabila Allah SWT mengharamkan sesuatu pada hambaNya, maka Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik bagi mereka. Contohnya adalah ketika Allah mengharamkan pengundian nasib dengan anak panah, maka Dia menggantikannya dengan doa istikharah, ketika Allah mengharamkan transaksi riba Dia menggantikannya dengan perdagangan yang menguntungkan. Ketika Allah mengharamkan perjudian maka Dia menggantikannya dengan memperoleh harta dengan cara berlomba yang bermanfaat seperti pacuan kuda dan memanah. Ketika Allah mengharamkan minuman keras maka Dia menggantikannya dengan minuman lezat yang bermanfaat untuk jasmani dan rohani.

Allah SWT memerintahkan sesuatu kepada para hambaNya bukan karena Dia butuh kepada mereka. Demikian juga ketika Allah melarang sesuatu kepada mereka bukan karena Dia kikir. Namun, Allah memerintahkan sesuatu kepada para hambaNya karena itu merupakan kebaikan dan kasih sayangNya kepada mereka. Dan, ketika Dia melarang sesuatu, itu merupakan bentuk pemeliharaan dan perlindunganNya terhadap mereka. Jika seseorang hamba sudah mampu untuk menyelaraskan antara hawa nafsu dan akal pikiran dengan baik, maka dia akan dengan mudah memerangi gejolak hawa nafsu dan syetan.

Maksiat itu adalah eksistensi nafsu dan taat itu adalah hilangnya nafsu. Manusia dijadikan lemah dalam segala hal. Ia tidak mampu melawan syetan yang membisikkannya. Ia tidak bisa melawan nafsu dan syahwatnya. Ia lemah dihadapan wanita, harta, ketenaran dan kesuksesan. Ia lemah jasmaninya, ia lemah untuk menahan kantuk dan tidur. Ia lemah dalam menghadapi virus yang paling kecil sekalipu dan sebagainya. Pada dasarnya manusia itu bersifat lemah. Setiap bentuk perlawanan dalam menghadapi hal-hal tersebut diatas adalah berkat karunia dan pertolongan Allah. Seandainya Allah membiarkannya dalam keadaan lemah maka seorang manusia tidak dapat melawan pandangan yang haram, tidak bisa mengelak dari harta yang haram atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahnatNya kepada kamu sekalian, niscata tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya.”(An-Nur 21)

Allah SWT telah menganugerahkan suatu kesadaran dan pemahaman dalam hati setiap insan. Hati terbaik adalah hati yang paling tanggap terhadap setiap kebaikan dan hati terburuk adalah hati yang paling tanggap terhadap kesesatan dan kerusakan serta yang telah dikuasai hawa nafsu. Allah menguji para hambaNya untuk tidak memperturutkan hawa nafsunya agar dia mendapatkan tempat kembali yang paling indah. Seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tunggangan ,santapan dan energy hawa nasfu tidaklah layak menempati surga dan tempatnya yang layak adalah dineraka yang menyala-nyala. Perilaku seperti ini adalah merupakan penyakit jiwa dan obatnya adalah menentang hawa nafsu itu sendiri.

Allah membiarkan seorang hambaNya jatuh dalam gelimang dosa, tidak menolong dia untuk melawannya, hal ini agar manusia dapat mengethui betapa lemahnya mereka. Contohnya, ketidakberdayaan seorang hamba dalam beberapa keadaan untuk taat kepada Allah. Maka kita melihat seseorang diantara kita yang mendengar azan subuh tetapi tidak bisa bangun untuk sholat subuh.