Benarkah kebahagiaan itu diukur dari banyaknya harta? Ternyata tidak. Sebagiaan orang menganggap bahwa kebahagiaan itu akan datang jika dia sukses dalam menempuh karier dan meraih popularitas. Demi tujuan ini, bahkan ada orang yg sengaja menunda-nunda nikah sebelum cita-citanya tercapai. Namun betapa tragis akibatnya. Ketika kariernya telah mencapai puncak dan namanya Sangat terkenal, usianya mulai memasuki senja. Dia jalani hidupnya tanpa ada seorang pendamping dan anak-anak mungil disisinya. Dia anggap tempat kerja yg telah mengantarkannya ke puncak karier itu sebagai kuburan dan penjara. Dia pun berteriak,”Ambillah ijazahku dan berilah aku suami”.

Kebahagiaan tidak selalu identik  dengan kekayaan. Namun, kebahagiaan itu bisa dimiliki oleh siapa saja yang berhasil mencapai kesehatan mental yang optimal. Kesehatan mental yang baik banyak bergantung pada cara kita melihat diri dan kehidupan secara keseluruhan. Oleh karena itu, bantulah diri kita kearah suatu kehidupan yang penuh kualitas. Jika kita ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk kita, apapun kondisi keluarga kita, bagaimanapun suara kita, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman kita, serta seberapa pun penghasilan kita .Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, “Seyogyanya kita senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang kita miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak kita miliki.”

Kebahagiaan dapat dirasakan dalam semua aspek kehidupan. Kadang-kadang sukar bagi kita untuk melalui kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini. Namun, kita tidak perlu berputus asa. Ada pepatah modern mengatakan 20% dari kehidupan adalah bagaimana kehidupan itu sendiri dan 80% adalah bagaimana kita mengendalikan kehidupan dan mengatur kehidupan tersebut. Hal ini sesuai dengan ayat al-Quran yang mengatakan nasib suatu kaum itu ditentukan oleh kaum itu sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa kebahagiaan itu perlu dicari. Kita bisa mulai belajar atau mempelajari semua hal mengenai diri sendiri dan mengenal dengan pasti tuntutan atau keinginan yang belum terpenuhi pada setiap tahap kehidupan. Kemudian kita bisa mengatur kehidupan ini dengan lebih semangat, positif dan bahagia untuk masa depan.

Harta, pangkat dan popularitas memang bisa mendatangkan kebahagiaan, namun hanya bersifat semu dan sementara. Semuanya akan sirna dan dapat berubah menjadi bencana, terlebih jika berada dalam genngam orang yang jauh dari agama. Semua orang tentu tidak menginginkan kebahagiaan semu dan sementara. Semua orang menginginkan kebahagiaan hakiki dan abadi sepanjang masa. Lalu bagaimana jalan utk meraih kebahagiaan tersebut?. Bahwa tidak ada jalan kebahagiaan kecuali dalam keimanan dan penghambaan kepada Allah semata. Semakin seseorang taat kepada Allah, semakin dia mendapatkan kebahagiaan. Inilah kebahagiaan hakiki yg bisa diraih oleh siapapun orangnya.

Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas kita Sedihkan.  Kebahagiaan seseorang akan semakin bertambah, berkembang, dan mengakar adalah manakala ia mampu mengabaikan semua hal sepele yang tak berguna. Karena, orang yang berambisi tinggi adalah yang lebih memilih akhirat. Syahdan, seorang ulama salaf memberi wasiat kepada saudaranyademikian, “Bawalah ambisimu itu ke satu arah saja, yakni bertemu denganAllah, bahagia di akhirat, dan damai di sisi-Nya.”{Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tiada sesuatu pun dankeadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.} (QS. Al-Haqqah: 18) Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kepada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas ,perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyhuran, istana-istana dan rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna

Seorang suami mengancam istrinya dan memarahinya seraya berkata,”Saya benar-benar akan mernyengsarakanmu”. Maka istri yang mukminah itu berkata dengan tenang,  ”Engkau tidak akan bisa menyengsarakanku, sebagaimana engkau tidak mampu membahagiaanku”. Suami itu lalu berkata dengan marah,”Bagaimana saya tidak mampu? Istri itu berkata dengan penuh percaya diri,”Jikalau kebahagiaan itu ada dalam belanja bulanan, maka engkau mampu memotongnya dariku atau dalam perhiasan sehingga engkau dapat menghalanginya dariku. Akan tetapi, kebahagiaan itu ada dalam sesuatu yg tidak engkau miliki dan juga tidak dimiliki manusia lainnya. Dalam keadaan terkejut, suami itu bertanya,”Apakah itu?”. Istri itu menjawab dengan penuh keyakinan,”Saya mendapatkan kebahagiaan dalam keimanan, sedangkan keimananku itu ada dalam hatiku dan hatiku itu tidak ada seorangpun yg menguasainya selain RabbKu”. Inilah kekuatan sebenarnya dan inilah kemuliaan iman.