Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: Juni 2012

Shodaqoh adalah menafkahkan sebagian rezeki secara terang-terangan maupun secara sembunyi-bunyi. Pengertian shodaqoh secara umum adalah memberi sesuatu pada orang lain seperti uang, makanan, pakaian dan senyuman. Shodaqoh di dalam islam itu merupakan salah satu ibadah yang mulia. Kemuliaan shodaqoh ini bisa kita lihat dari kekuatan-kekuatan yang diberikan shodaqoh. Ada 2 kekuatan yang akan dirasa dan dimiliki oleh sebab shodaqoh, yaitu: kekuatan pada diri orang yang bersodaqoh dan kekuatan pada diri orang yang diberi shodaqoh.

Allah berjanji dalam Alqur’an, bahwa shodaqoh itu tidak mungkin tidak dibayar. Seperti menanam di kebun Allah, pasti berbuah. Menanam di kebun sendiri saja berbuah, apalagi dikebun Allah. Kalaupun buahnya tidak lebat, paling tidak pasti berkembang. Kalaupun Allah tidak menurunkan hujan lebat, paling tidak hujan gerimis. Azab tidak akan menimpa orang-orang yang memelihara dirinya, menafkahkan sebagian rezekinya dan beriman kepada Alqur’an.

Shodaqoh itu, selain merupakan ibadah privat, juga merupakan ibadah social. Dengan shodaqoh berarti kita telah membantu kesulitan yang dialami oleh orang lain. Ada dua hal yang sangat menentukan apakah shodaqah tersebut akan dapat mendatangkan keutamaan atau kekuatan pada diri orang yang memgeluarkannya yakni: cara bershodaqoh dan tujuan bershodaqoh. Jadi ketika kita mengeluarkan shodaqah , maka kita mengeluarkannya itu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dari seorang manusia yg ingin merdeka. Bukan manusia yang bermental pedagang atau manusia bermental budak.

Dalam keadaan sangat terjepit, dimana kita benar-benar mengalami kesulitan keuangan, ada penyelesaian yang sangat praktis, mudah dan cepat terhadap kesulitan kita yakni shodaqoh. Dengan bershodaqoh, insyallah kesulitan keuangan kita akan teratasi. Apabila kita banyak bershodaqoh, insyallah banyak pula peluang bagi kita untuk selamat dari bencana. Keajaiban shodaqoh itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang bershodaqoh dan ia yakin.

Sabda Rasulullah,”Jagalah hartamu dengan zakat, obatilah sakitmu dengan shodaqoh dan hadapilah segala cobaan dan bahaya dengan doa serta tawadhu. Kita ini bershodaqoh karena memang kita harus bershodaqoh. Ini adalah ketetapan agama dan bahkan menjadi wajib apabila memang mampu untuk bershodaqoh. Maqam shodaqoh itu sama halnya dengan maqam sholat, puasa, zakat dan haji. Tujuannya adalah untuk mendekati dan berada dekat dengan AllahSWT, bukan untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan dan keajaiban-keajaibannya. Jika kita bershodaqoh semata-mata karena Allah, kita akan memperoleh khasiat gari shodaqoh yang kita berikan itu. Bisa jadi, umur kita akan diperpanjang atau, bisa jadi kita akan terselamatkan dari bencana atau musibah disaat orang lain yang tidak bershodaqoh tidak terselamatkan. Bisa pula rezeki kita akan ditambahkan. Oleh karena itu, apabila kita mengeluarkan shodaqoh dengan niat, cara, tujuan dan objek shodaqoh yang benar maka keutamaan-keutamaan, keajaiban-keajaiban, ganjaran-ganjaran, atau apapun istilahnya yang senilai dengan ini yang berupa umur kita dipanjangkan, penyakit kita tersembuhkan, kita terbebas dari bencana dan rezeki kita diperkaya, dapat kita rasakan dan dapat kita miliki, tanpa memandang apakah kita seorang muslim ataukah tidak.

Kita yang hidup tanpa memberi akan menjadi orang yang sulit bergerak dan menemukan bahwa semua yang kita miliki menghambat hidup kita. Tetapi apabila kita bebas memberikan seluruh apa yang kita punyai, kita justru akan berkembang dengan subur layaknya daun-daun hijau dimusim penghujan. Percayalah, jika kita memberi kepada orang lain dengan hati yang tulus, hati yang ikhlas, hati yang rela, hati yang penuh kasih dan pemberian tersebut kita berikan kepada orang yang memang layak untuk mendapatkannya, keajaiban-keajaiban dari shodaqoh kita akan terasakan, saat ini juga.

Masih banyak kita temui atau bahkan diri kita sendiri yang merasa mampu ketika memenuhi segala kebutuhan dan keinginan termasuk untuk hal-hal barang yang bukan primer, tapi tiba-tiba merasa miskin ketika ingin bershodaqoh atau ketika datang seseorang yang memohon bantuannya untuk keperluan orang tersebut. Bershodaqoh itu kebutuhan setiap orang. Orang yang bershodaqohlah yang membutuhkan orang yang di shodaqohi mengapa? Karena setiap orang ingin hidupnya di dunia barokah, jika sakit ingin sembuh dan sehat, terhindar dari musibah dan dialam barzah dan kiamat mendapatkan pahala terus serta selamat dari api neraka.


Sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, orang-orang terus saja menumpuk kekayaan dan bermegah-megahan dengan harta bendanya, ditengah-tengah orang miskin yang semakin tertindas dan semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tak heran, harta yang berlimpah, jabatan, popularitas dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan manusia siang malam. Padahal dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan menyisakan kehampaan, kepedihan dan keletihan.

Benar, bermegah-megahan dengan harta adalah suatu penyakit, karena dengan bermegah-megahan akan mendekatkan diri pada kekufuran, kemunafikan dan kemaksiatan. Ini sama juga orang-orang berharta justru yang mendorong orang-orang kekurangan dan lapar untuk mencuri, merampok, menjambret dan mencopet. Jadi seandainya hak mereka terpenuhi hak mereka yang harus kita keluarkan tentunya kejahatan orang-orang kekurangan itu akan dapat diminalisasi.

Orang-orang yang berlebihan di dalam hidupnya, akibatnya mereka menjadi korban kecintaan kepada dunia, yang merupakan pangkal dari semua kesalahan, sebagaimana sabda Rasulullah.”Kecintaan kepada dunia adalah pangkal dari semua kesalahan.” Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia, yang mana mereka secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak , takkan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT. Kaya bukanlah semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.

Hidup bermewah-mewahan adalah salah satu contoh hal yang disebut kurang bersyukur dalam menjalani hidup yang fana ini. Mengapa orang yang suka hidup mewah dan senang pada merk itu adalah kufur nikmat? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Orang yang terbiasa hidup mewah senang dengan merk akan menderita hidupnya karena akan biaya yang tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah takkan terus sama dalam beberapa tahun. Dia akan disiksa dengan kotor hati’riya’. Kalau kita terbiasa hidup mewah, resiko tinggi dan ketentraman tidak terasa. Kalau kita menginginkan hidup penuh barokah maka jauhilah hidup dalam kemewahan dan bersikaplah hidup bersahaja.

Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dibenci, namun harta itu tercela jika dia melalaikan kita dari mengingat Allah  karena disebabkan oleh gaya hidup bermewah-mewahan dan lupa diri. Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Tamak terhadap dunia adalah sumber kemiskinan. Ingatlah bahwa orang yang miskin bukanlah orang yang kekurangan harta benda, akan tetapi kemiskinan yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah kenyang dengan harta dunia. Mereka kumpulkan harta siang dan malam hingga meninggalkan kewajiban agamanya. Ia bangun rumah yang mewah, kendaraan yang mewah dan popularitas serta kedudukan yang tinggi dihadapan manusia. Sementara mereka lupa berinfaq , sedekah dan beramal sholeh.

Kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini hampir seluruhnya disebabkan oleh ketamakan. Perebutan harta warisan, persaingan bisnis dan kerakusan seseorang terhadap jabatan sering kali terjadi. Kerakusan seseorang terhadap harta dan jabatan lebih parah dibandingkan seekor serigala lapar yang dilepas pada kawanan domba, sedangkan orang yang rakus akan melahap apa saja yang ada didepannya. Kerakusan seseorang terhadap harta tidak akan menambah kecuali apa yang telah Allah berikan kepada orang tersebut. Setan akan senantiasa menakuti-nakuti manusia dengan kefakiran sehingga manusia berbuat dosa. Setan mengatakan: jika kalian tidak rakus, maka kalian menjadi orang miskin, tidak dihormati. Setan akan ketawa ketika manusia sudah capek dengan kerakusannya serta diikuti oleh kemalasan dia beribadah pada Allah SWT.

Dalam kerakusan dan ketamakan terdapat kehinaan, karena kerakusan hanya akan mencapekkan dan menghinakan seseorang. Orang yang rakus akan sangat tergantung pada manusia, orang tersebut akan ciut nyalinya, pengecut jiwanya, tipis hatinya dan lemah imannya. Orang kaya akan masuk jannah lebih akhir dari pada orang miskin lima ratus tahun. Yang demikian itu karena orang kaya lebih banyak harta yang dihisab dibandingkan orang miskin. Tak ada jalan bagi orang mukmin untuk mendapatkan jannah kecuali dengan zuhud dan qana’ah. Sedangkan kerakusan terhadap dunia dan kikir hanya akan membawa seseorang ke neraka.

Beruntunglah seorang hamba yang menjadikan ibadah sebagai pekerjaanya. Kefakiran sebagai dambaannya, menyendiri sebagai ambisinya, akhirat sebagai cita-citanya, mencari penghidupan sebagai bekalnya, maut sebagai kesibukan pikirannya dan tekun dengan zuhud sebagai niatnya. Ia mematikan kesombongannya dengan kehinaan dan menjadikan keperluannya hanya kepada Tuhannya.


Hidup di dunia sering membuat kita panic dengan berbagai masalah yang datang seperti rezeki sempit, karier tidak maju dan kondisi yang tidak stabil membuat hati galau dan risau. Kegalauan hati ini disebabkan salah satunya karena kedangkalan iman yang kita miliki dan ketawakalan yang kurang kuat . Keyakinan tentang rezeki kita bergantung hanya pada Allah saja, banyak yang tidak dipahami dan dihayati oleh sabagian orang muslim. Rezeki yang kita terima tidak sepenuhnya bergantung pada gaji, prestasi,  jabatan, kedudukan , usaha keras, kecerdasan dan ilmu tetapi semuanya itu hanyalah sarana untuk menjemput rezeki dan itulah ladang amal saleh apakah kita pergunakan sesuai dengan aturan Allah atau tidak, disitulah berlaku hisab Allah. Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap Qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rezeki lebih banyak dari pada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap iri dan dengki.

Untuk menghilangkan kegalauan hati, manusia perlu mencari rahmat dan pahala Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. ‘Rahmat’ yang membuat hati merasa berkecukupan. ‘Pahala’ yang membuat jiwa menjadi gembira. Hanya manusia yang memiliki kedalaman iman dan ketawakkalan yang kuat yang tidak pernah galau dan sedih terhadap dunia ini. Meski rezeki sedikit, mereka masih bisa berbagi. Di dalam kondisi sulit, merekapun masih dapat memberi. Ia tidak pernah khawatir menghadapi hari esok, karena ia tahu Allah menjamin rezeki hambaNya. Ia mendahulukan perniagaan dengan Allah, sebab ia yakin terhadap janji Allah yang akan menggantinya dengan balasan yang terbaik.

Apa manfaat keyakinan kita bahwa rezeki bersumber dari Allah?

1. Kita tidak perlu takut menjadi miskin

2. Kita tidak perlu takut dipecat dari pekerjaan

3. Kita tidak perlu takut ada saingan bisnis baru yang menyaingi usaha kita

Jadi intinya kita tidak perlu takut dan khawatir tentang rezeki kita, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik sesuai dengan aturanNya dan mendistribusikan secara halal. Bagi seorang mukmin haruslah meyakini bahwa Allah SWT pasti sudah menjamin’nafkah’ para hamba-Nya . Namun perkara’nafkah’ itu kapan datangnya, maka ‘infaklah’ jawabannya.

Diantara hikmah Allah SWT menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi. Allah memberikan rezeki kepada setiap makhlukNya sesuai ukuran yang tepat, tidak kurang dan tidak lebih. Artinya, Allah telah menentukan kadar rezeki setiap hambaNya sehingga tidaklah perlu bagi kita untuk saling iri dan dengki pada rezeki yang telah diperoleh saudara kita. Rezeki merupakan misteri ilahi , artinya jangan pernah mengukur-ukur seberapa besar Allah memberikan rezeki kepada kita atau orang lain, baik itu kapan, dimana dan bagaimana. Selain hal tersebut membuat kita congkak, juga akan menimbulkan ketidak-iklasan dalam hati kita atas apa yang kita peroleh dari Allah SWT selama ini.

Wahai saudaraku…..tetaplah bersabar dan istiqamah berjuang dijalan Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat tahajud, sedekah dan dhuha . Karena hanya Allah Yang Maha Pemberi rezeki memberikan keajaiban dan rezeki yang tidak disangka-sangka. ‘Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezekiMu yang halal, serta jauhkan dari yang haram, dan berilah kami kekayaan tanpa tandingan” Amin Ya Rabbal’alamin.”


Seharusnya sebagai seorang mukmin yang bijaksanaharus mengetahui apa tujuan dia diciptakan oleh yang Maha Pencipta sehingga langkah demi langkah yang ia jalani di dalam hidup ini mempunyai makna tertentu. Allah tidak menciptakan kita melainkan agar kita semata-mata beribadah padaNya.  Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada Allah, niscaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hatinya dan mengalir melalui lisannya. Musibah yang paling besar menimpa orang bijak ialah bila sehari yang dilaluinya tidak menyebabkan ia mendapatkan hadiah dari Tuhannya, yakni hikmah yang baru. Kepribadian yang bijaksana adalah yang paling bagus amal perbuatannya dan mengejar kesempurnaan.

Imam Musa al-Kazhim berkata,”Sesungguhnya orang yang berakal ridha dengan dunia yang sedikit dengan disertai hikmah dan tidak ridha dengan hikmah yang sedikit dengan disertai dunia. Oleh karena itu “perniagaannya” beruntung. Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah sehingga lalai dari apa yang diminta berarti sangat bodoh dan lalai. Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa memikirkan apa yang telah dijamin untuknya. Ya Allah, tambahkanlah kepada kami, Iman, keyakinan dan kepahaman.

Kepribadian yang bijaksana dapat muncul ketika seseorang selalu hidup seimbang. Seimbang antara ibadah dan bekerja, seimbang antara ruh dan raga dan seimbang antara akal dan hati. Bagaimanakah seharusnya seorang muslim menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat? Ketika telah tiba saatnya untuk beribadah seorang mukmin akan bergegas mengingat Allah dengan meninggalkan jual beli dan segala rutinitas dunia. Setelah menjalankan ibadah, mereka mencari karunia dan rezekiNya serta tidak lupa berzikir kepadaNya. Mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat dan tidak pernah melupakan kehidupan dunia yang saat ini mereka jalani. Dengan itulah Allah menjamin keberuntungan bagi mereka. Beruntung dalam hidup di dunia dengan mendapatkan karunia dan kelimpahan rezekiNya dan kelak diakhirat mendapatkan ganjaran nikmatnya syurga.

Bijaksana dalam menyingkapi harta yaitu menjauhi gaya hidup boros dan hidup dengan Qana’ah. Gaya hidup boros adalah temannya syetan. Membelanjakan harta secara berlebihan untuk makan, minum, pakaian dan tempat tinggal serta kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap kenikmatan dunia juga termasuk gaya hidup boros. Pengertian Qana’ah ialah disamping seseorang berihtiar untuk mencari nafkah bagi kehidupannya, namun ia tetap memelihara. Ketika hasil dari ikhtiar itu didapatkannya, maka ia merasa cukup. Sifat inilah yang membangkitkan rasa syukur kepada Allah. Hamba Allah selamanya tidak akan bisa bersyukur jika hatinya tidak Qana’ah.  Orang yang Qana’ah, jiwanya menjadi tenang dan mensykuri rezeki dari Allah.

Selain berlatih untuk merasa bersyukur dengan apa yang telah diterima, hendaknya seseorang suka memberi dan menolong orang lain. Betapa, hati akan merasa puas apabila seseorang berhasil memberi pertolongan sesama saudaranya. Karena orang yang dianggap Qana’ahnya sempurna adalah jika ia gemar menolong dengan ikhlas hati. Melatih diri untuk berqana’ah tidak akan berhasil jika seseorang tidak melemahkan sifat buruknya yaitu sifat rakus. Ibrahim al- Marastani berfatwa,”Balaslah kerakusanmua dengan qana’ah sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan qishash.”


Istri harus bertanggung jawab untuk mengatur urusan rumah tangga, diantaranya urusan keuangan. Anggaran belanja rumah tangga di mulai dari persiapannya, pelaksanaanya kemudian pengontrolannya. Yang paling penting adalah tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan internal dalam rumah tangga yaitu menentukan pembelanjaan atas pemasukan suaminya. Alangkah mulianya seorang wanita yang berjiwa qana’ah, cermat dalam membelanjakan harta demi mencukupi suami dan anak-anaknya. Wahai saudaraku…..hidup ini bagai roda pedati, terkadang diatas dan terkadang kita berada di bawah. Jika hari ini kita punya kelebihan rezeki, bersyukurlah pada Allah baik dengan ucapan maupun perbuatan. Adapun bukti nyata kesyukuran kita atas berbagai nikmat yang telah kita peroleh maka hanya dengan berbagi buat sesama. Yach…bersedekahlah sesuai dengan kemampuan kita, maka Allah akan memberkahi hidup kita, menjaga kita dari sifat kikir yang akan membuat hidup kita tak bahagia. Selain bersedekah, buatlah sedikit dari uang yang kita punya untuk di tabung. Ketika kita punya rezeki terbatas hari ini, maka bersabarlah, dan tetaplah untuk menysisihkan sedikit untuk berbagi, karena apapun yang kita berikan kepada saudara kita secara istiqamah maka Allah telah menjamin mengembalikannya berlipat ganda dan pahala yang lebih besar di akhirat nanti. Perlu diinga wahai saudariku…berbagi disaat kita berkecukupan itu menandakan kita hanya orang biasa saja Kenapa? Karena disaat itu kita punya kelebihan rezeki tetapi disaat kita tidak berada di dalam kecukupan dan ternyata kita mampu istiqamah untuk tetap memberi maka itulah yang dinamakan manusia luar biasa. Yang tetap ridha pada keputusan Allah. Sekarang terserah pada kita masing-masing, apakah kita akan menjadi manusia biasa saja atau mampu membuat diri kita luar biasa hanya di depan Allah dengan keikhlasan. Keridhaan dan sikap Qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah merupakan simpanan dan sumber rezekinya.

Istri sebagai seorang mukminah yang sabar harus memiliki perhitungan matematis yang berpegang pada motto,” Kami bersabar menghadapi kelaparan, tetapi kami tidak mampu bersabar menghadapi neraka.”Ia hanya menerima rezeki yang halal karena semboyannya adalah firman Allah,”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah teman syetan.” (Al-Israa’27). Wahai para suami yang sempat membaca tulisan ini, apakah engkau tidak kasihan pada istrimu dan anak-anakmu? Tegakah kau melihat orang-orang yang kau cintai menjerit karena tak sanggup menahan panasnya siksaan api neraka di akhirat kelak?. Maka berhati-hatilah engkau para suami dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami para istri telah berusaha mendidik anak-anak dengan baik, tetapi jika kau tetap membawa harta yang tidak halal ke rumah, jangan salahkan kami yang gagal dalam mendidik anak-anak kita. Ketahuilah para suami, rezeki yang haram akan menumbuhkan daging dan pikiran yang tidak sehat dan yang lebih sekali doa kita tidak akan dikabulkan. Maka marilah kita bersama-sama bertaqwa pada Allah. “Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Ali bin Abu Thalib berkata,”Sebaik-baik istri kalian adalah yang memiliki bau yang wangi dan yang selalu menjaga kebaikan makananya. Yang jika membelanjakan harta, ia membelanjakan dengan tidak berlebih-lebihan dan jika ia menyimpannya, ia menyimpannya dengan tidak keterlaluan alias pelit.” Wahai wanita shaleh……jadikanlah seluruh hatimu milik Allah, jangan sesekali kamu mengharap pada cinta manusia. Cintailah Allah sepenuh hati. Seandainya terdetik hatimu, mencintai manusia, cintailah pada yang berhak, pastikan cintamu hanya karena Allah. Jadilah wanita shaleh yang memelihara hatinya dan mengharap redha Allah di setiap langkah kakinya.


Sesungguhnya seorang mukmin yang tulus dalam imannya, yang tinggi akhlak budi pekertinya tidak akan engkau temui kecuali dalam keadaan hati yang bersih, sikap yang suci, tidak iri terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada siapapun dari berbagai karunia dan kehormatan, tidak dengki terhadap mereka, hanya untuk sekedar ketamakan dunia atau hanya karena ia merasa dirugikan baik jiwa, harta maupun keturunannya. Iri dan dengki akan memusnahkan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar. Dengki termasuk akhlak yang buruk dan merupakan penyakit jiwa yang sangat membahayakan kesehatan. Orang yang dengki didup dengan penderitaan bathin didalam dirinya.

Melakukan suatu kebaikan kapanpun saatnya, dimanapun tempatnya, kemanapun arahnya dan apapun jenisnya, tidak hanya akan memberikan kebahagiaan kepada objeknya saja, namun juga akan memberikan kebahagiaan kepada pelakunya, yang tidak mengharapkan kecuali keridhaan dari Allah SWT serta pahala dan balasan dari-Nya. Kenapa kita tidak berusaha hari demi hari untuk bisa melakukan amal shaleh yang lebih banyak, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak, agar kita bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Jika kita tidak mampu, maka lakukanlah sholat dhuha. Jika kita mampu bersedekah dan sholat dhuha maka itulah kebahagiaan diatas kebahagiaan.

Wahai saudaraku…….yakinlah, bahwa memaafkan seseorang saat kita mampu untuk membalas kesalahannya bukanlah kehinaan dan kelemahan sebagaimana yang dipahami oleh segelintir orang, tidak sama sekali, bahkan ia adalah kemuliaan, kehormatan dan kebanggaan yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berhati lapang dan berjiwa besar. Ingatlah apa yang kita lakukan semua itu hanya karena mengharapkan ridha Allah dan bukan untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi yang lainnya, niscaya kita akan mendapatkan kenikmatan hati dan kelegaan jiwa serta pahaka dari Allah SWT di hari kiamat nanti.

Jadilah orang yang dermawan, karena hanya dengan memberi kita akan merasakan kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang menerimanya. Imam Ali berkata,”Kedermawanan yang sebenarnya dilakukan secara spontan, jika didahului oleh permintaan maka yang demikian itu hanyalah penutup rasa malu atau upaya penyelamatan diri dari celaan.”

Kesempatan berbuat kebayikan terbuka luas, seluas bumi ini. Semua langkah yang kita ayunkan di jalan Allah dan semua amal yang kita lakukan untuk mencari keridhaanNya, merupakan kebayikan yang akan mendapatkan ganjaran dan akan membuat hati ini bahagia. Berbuatlah kebayikan sebagaimana Allah SWT telah berbuat kebayikan padamu. Janganlah kita meremehkan perbuatan baik walaupun hanya perbuatan kecil seperti menyingkirkan sebongkah batu yang tergeletak di tengah jalan. Tergesa-gesa dalam arti terburu-buru sehingga menimbulkan kesalahan dalam berpikir dan bertindak, tidak dianjurkan, namun tergesa-gesa dalam arti bersegera dan berlomba-lomba dalam kebayikan adalah sesuatu yang dianjurkan islam. Imam Ali berkata,”Menyegerakan kebayikan menambah kebayikan”.

Ketika kita melakukan suatu kebayikan, tanamkanlah pada diri kita bahwa manusia itu bagai barang tambang seperti emas dan perak. Jika kita melakukan kebayikan dan orang tidak menyampaikan terimakasih kepada kita, jangan risau. Ciptakanlah didalam diri kita jiwa positif di dalam mengerjakan kebayikan, walaupun tidak ada orang yang menyampaikan terimakasih kepada kita. Dari sisi lain, tidaklah terpuji jika kita mengingkari atau tidak mengucapkan terimakasih atas kebayikan yang dilakukan orang kepada kita, baik yang secara langsung berhubungan maupun tidak langsung. Menyampaikan terimakasih kepada orang lain tidak membebani kita sedikitpun. Bahkan, dengan itu kita telah mendorong mereka untuk lebih meningkatkan perbuatannya dan membuat mereka lebih percaya diri, terutama apabila ucapan terimakasih itu pada tempatnya.