Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: Juli 2012

Cerdasnya orang yang beriman adalah dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup. Tidak pernah ada kata gagal bagi setiap muslim yang tawwakal yang ada adalah keberhasilan yang diberikan Allah berbeda dengan yang kita inginkan tidak semua yang menurut kita baik, baik juga menurut Allah.

Biarlah masa lalu kita menjadi sekedar guratan kehidupan, meski membekas, namun tak membuat kita rapuh akan masa yang kan datang. Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Memikirkan masa lalu  adalah kebodohan dan kegilaan . Ibaratnya orang yang menumbuk tepung ,yang menggergaji serbuk kayu dan mengeluarkan mayat dari kuburan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Untuk masa lampau, cukuplah kita mengambil perjalanan dan pelajaran dari setiap peristiwa dan kejadian. Memiliki kesalahan adalah wajar, yang sama sekali tidak memiliki salah adalah tidak wajar. Kesalahan dan kegagalan adalah hal yang wajar dan itu adalah hak bagi setiap orang yang sedang dalam proses belajar. Jika tidak mau berkorban, jangan harap menjadi lebih baik. Jadi pengorbanan kita bukan untuk membayar kegagalannya namun untuk membayar proses belajarnya.

Hidup kita sesungguhnya bak sebuah rekening bank waktu.

Hargailah setiap detik yang kita miliki.

Kemaren adalah sejarah.

Besok masih misteri

Hari ini adalah sebuah anugerah.

Waktu bukan hanya uang.

Tapi waktu adalah nyawa kita.

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. Kesalahan adalah batu loncatan untuk sukses. Tidak ada sukses tanpa perjuangan. Sukses merupakan hasil dari proses panjang yang berbuah manis pada akhirnya.

Jadikanlah sejarah hidup kita sebagai pelajaran dan landasan evaluasi untuk melakukan yang lebih baik untuk hari-hari berikutnya. Kita semua pun tahu bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. The experience is the best teacher, begitu kata pepatah. Namun, banyak dari kita yang terlalu terpaku dengan masa lalu. Ada yang merasa masa lalunya indah, sehingga enggan untuk melakukan perubahan. Inilah yang akan membuatnya berada pada posisi yang sama, cukup dengan apa yang telah ia miliki dan ialah orang-orang yang merugi. Namun, ada juga yang merasa masa lalunya kelam. Ia pun frustasi, terlarut dalam penyesalan dan tidak berfikir untuk berubah. Ia tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang ia inginkan. Ia akan terus menyesal dan menyesal. Ambillah hikmah dari setiap scene kehidupan yang telah kita lewati, berusaha dan terus berusaha.

Iklan

“ Lakukan sholat dua rakaat di kegelapan malam untuk menolongmu di kegelapan kuburan. Berpuasalah pada hari yang sangat panas agar bisa membantumu menghadapi panasnya hari kebangkitan. Bersedekahlah supaya sedekah itu menolongmu dari keburukan hari yang sangat menyusahkan.”

Puasa tidak berarti selalu membawa cerita susah dan pilu. Puasa ternyata memiliki saat-saat membahagiakan yang mungkin tidak diraih pada saat-saat tidak berpuasa. Saat-saat bahagia itu bukan hanya bisa dinikmati di akhirat kelak, namun ada juga saat-saat bahagia yang bisa dinikmati segera di dunia.

Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan di dalam kitab Majaalisu Syahri Ramadhaan, ‘Kebahagiaan ketika berbuka maksudnya adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu bisa melaksanakan puasa yang merupakan salah satu bentuk amal shalih yang paling utama. Betapa banyak manusia yang tidak memperoleh nikmat tersebut sehingga mereka tidak berpuasa. Adapun kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya adalah ia senang dengan ibadah puasanya ketika ia mendapat balasannya di sisi Allah secara utuh pada saat ia jauh membutuhkannya, ketika dikatakan, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Mereka pun dipersilahkan masuk ke pintu surga dari pintu ar-Rayyan yang tidak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.”

Waktu berbuka segera di sambut dengan penuh kebahagiaan oleh orang berpuasa, karena masa-masa diperbolehkan makan dan minum, ini merupakan anugerah dan rahmat Allah. Gembira pada waktu berbuka pun hakekatnya adalah ibadah selagi bekal berbukanya dari barang yang halal. Pada waktu berbuka, orang yang berpuasa bergembira juga karena dia merasa telah diberikan kemampuan menyelesaikan tugas puasa dengan baik. Dengan begitu, kini dia merasa lebih sehat baik secara fisik maupun psikis, karena telah melalukan terapi dari berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Ia telah membersihkan tubuhnya dari gangguan kuman dan bakteri, di samping membersihkan tubuhnya pula dari gangguan maling-maling keimanan dan ketaqwaan. Selain itu, waktu berbuka disambut dengan gembira karena pada detik-detik itulah orang berpuasa bisa melakukan isti’anah (memohon pertolongan dan doa) kepada Allah.

Puasa di akhirat menjadi perisai yang membentengi orang-orang yang melanggengkannya dari neraka. Kalau di bentengi dari nerka, maka kemana lagi perginya orang yang berpuasa itu kalau bukan ke surga. Di taman surge, orang yang berpuasa dipersilahkan makan-minum sepuasnya, disebabkan pantangannya terhadap makan-minum sewaktu berpuasa di dunia dahulu.

Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dan karena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang terlarang, maka Allah tidak butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). “Puasa bukanlah dari makan, minum semata, tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

Kita harus menjaga diri dari perbuatan sia-sia dan dosa di saat kita berpuasa. Tapi bukan berarti setelah waktu berbuka puasa kita menjadi bebas. Perbuatan haram, tetap haram hukumnya baik ketika kita sedang berpuasa ataukah tidak. Maka, di malam bulan Ramadhan pun kita tetap harus menjaga diri dari perbuatan dosa. Ingatlah bahwa keutamaan bulan Ramadhan tidak hanya terbatas di siang harinya, ketika kita berpuasa. Tetapi juga meliputi malam harinya. Banyak sekali ibadah yang bisa dilakukan di malam hari ketika bulan Ramadhan. Bahkan, ada keutamaan Lailatul Qadr yang harus kita kejar. Sibukkan diri dalam beribadah, baik siang maupun malam. Agar Ramadhan yang kita jalani benar-benar menjadikan kita manusia yang lebih bertaqwa.

Kita memohon kepada Allah agar menerima puasa Ramadhan kita dan menjadikannya sebagai pemberi syafa’at bagi kita. Agar kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat pahala puasa yang sempurna. Dan kita memohon agar Allah Mengampuni dosa-dosa kita dan Memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bisa memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan. Amiin.


Wahai anak Adam : Barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmat dariKu dan tidak sabar dengan segala cobaan dariKu. Maka keluarlah kamu dari bumiKu ini dan carilah Tuhan selain Aku (Al Hadist). Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada kita, hakikatnya merupakan salah satu sarana untuk mentarbiyah manusia agar menjadi manusia yang beriman dan istiqomah dalam keimannya.

Apa saja yang berlaku di dunia ini, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Saya pernah menyaksikan sendiri dalam kehidupan bersaudara, orang yang tadinya sholeh, santun dan berkasih sayang, yang mana belum memiliki jabatan dan kekayaan, hidup masih sederhana dan belum popularitas. Namun begitu ia mengalami kelapangan rezeki, memperoleh jabatan serta menjadi orang yang terkenal, tiba-tiba saya dikejutkan dengan ucapan, sikap dan perilakunya yang seolah tidak mencerminkan masa lalunya.

Tidak ada seorang manusia pun yang hidup di dunia ini, yang tidak diuji oleh Allah SWT. Semua manusia pasti akan diuji oleh Allah, dan itulah hakikat hidup di dunia ini. Setiap orang beriman akan diuji tentang kesungguhan dan keseriusan keimanan mereka. Terhadap sebuah ujian, kesabaran merupakan sikap keniscayaan yang harus dipilih dan digunakan, sebab kalau ia tidak sabar, ia pasti gagal. Kalau sudah gagal maka kerugianlah yang ia peroleh.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik untukmu
Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk untukmu
Allah Maha mengetahui sementara kamu tidak mengetahui. ( Al-Baqarah ayat 216 ). Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah ayat 286).

Dunia ini adalah tempat ujian dan bencana, orang yang beriman diuji padanya dengan berbagai kesenangan dan kesusahan, kepahitan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, ujian syahwat dan syubhat. Seorang mu’min akan ditimpa oleh ujian untuk menghapuskan kesalahannya, mengangkat derajatnya sehingga bisa dibedakan antara yang buruk dengan yang baik dan banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214). Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.(QS. Al-Ankabut: 1-2)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabuut: 2-3)

Dalam ayat tersebut di atas, Allah lebih mempertegas lagi bahwa ujian itu untuk mengetahui siapa dari mereka yang beriman dan siapa dari mereka yang kufur. Allah SWT Maha Mengetahui siapa di antara mereka yang benar dalam keimanannya. Begitu pula Allah SWT Maha Mengetahui siapa yang berdusta. Mereka beriman hanya dalam ucapannya saja, tapi hati dan perbuatan kosong, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Besar kecilnya ujian seseorang dan berat ringannya cobaan seseorang disesuaikan dengan kemampuan orang tersebut. Karena Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan apa kemampuan orang tersebut. “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Ujian yang menimpa umat Islam secara khusus, adalah untuk mematangkan mereka dalam kehidupan di muka bumi ini, Dengan adanya ujian, ia memberi peluang kepada manusia untuk memikirkan akan segalakesalahan yang dilakukan pada diri sendiri dan orang lain di masa lampau.

Ya Allah,
kuatkan semangatku untuk menghadapi ujianmu.
telah ku cuba sehabis daya untuk memperbaiki diri.
Kau tunjukkanlah jalan yang lurus seluas luasnya untuk kami.


Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda,” Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki. Lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung ynag terjal. Keduanya berkata,”Naiklah.” Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata.”Kami akan memudahkanmu.” Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?”Mereka menjawab,”itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar diatas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya. “Siapakah mereka itu?” Rasulullah menjawab,” Mereka adalah orang-orang yang membatalkan puasa sebelum tiba waktunya.”

Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali.

Perlu diketahui pula bahwa meninggalkan puasa Ramadhan termasuk dosa yang amat berbahaya karena puasa Ramadhan adalah puasa wajib dan merupakan salah satu rukun Islam. Para Ulama pun mengatakan bahwa dosa meninggalkan salah satu rukun Islam lebih besar dari dosa lainnya. Abu Dzahabi sampai-sampai mengatakan.” Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit atau uzur, maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, lebih jelek dari dosa meneguk minuman keras, bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang-orang munafik.


“Dunia dan akhirat ibarat gelas dan kopi. Ketika kita memesan kopi, gelas akan datang dengan sendirinya. Namun, jika kita hanya meminta gelas, mustahil kopi  mengisi gelas tersebut.”

“ Dunia adalah negeri kesibukan dan akhirat adalah negeri kengerian. Seorang hamba masih tetap dalam keadaan terombang-ambing antara kesibukan dan kengerian hingga menempati tempat tinggalnya yang tetap, adakalanya di surga dan adakalanya di neraka.”

“ Dunia itu rusak terbengkalai dan yang lebih rusak lagi adalah kalbu orang yang meramaikannya. Akhirat adalah negeri kengerian dan yang lebih ramai lagi adalah kalbu orang yang mencarinya.”

Orang yang sibuk pada dunia menganggap belajar Islam adalah sampingan. Padahal belajar Islam adalah yang utama, baru belajar untuk keduniaan. Alasan manusia dilahirkan ke dunia adalah karena mempunyai tugas, yakni mengabdi pada Allah dengan tulus ikhlas karena Allah semata (semoga Allah memberi petunjuk). Untuk Allah-lah kita hidup. Banyak orang yang punya jabatan orang menganggap tinggi, berprestasi, populer, kaya raya, dsb maka dialah yang sukses, padahal belum tentu. Seringkali kita terjebak penilaian kesuksesan seseorang pada keduniaan saja, bukan apakah Allah merahmati/ ridho atau murka pada dia.

Semua orang, pasti bercita-cita ingin hidup sukses dunia dan akhirat. Memiliki harta yang melimpah, keluarga yang begitu disayangi dan menyanyanginya, serta jabatan yang tinggi di mata masyarakat. Selain kenikmatan dunia tersebut, ia juga meluangkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan sehingga dapat menyeimbangkan tuntutan dunia dan kewajiban akhirat. Meskipun orang-orang berusaha untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan bekal akhirat nanti, tetap saja mereka sulit untuk melakukan sepenuhnya karena Allah SWT.

Di dalam QS. Al-Qashash ayat 77, Allah SWT berfirman: “ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa memang perlu keseimbangan antara kehidupan di akhirat dan kehidupan di dunia. Untuk memperoleh kehidupan yang diridoi Allah baik di dunia maupun di akhirat kita diperintahkan untuk berbuat baik, untuk beramal dan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Kita diperintahkan untuk tidak membuat bencana untuk tidak menyukarkan atau menyusahkan orang lain.

Ibnu Katsir rahimahullâh menjelaskan ayat diatas dengan pernyataannya:

“Pergunakanlah karunia yang telah Allâh berikan kepadamu berupa harta dan kenikmatan yang berlimpah ini, untuk mentaati Rabb-mu dan mendekatkan diri kepadaNya dengan berbagai bentuk ketaatan. Dengan itu, kamu memperoleh balasan di dunia dan pahala di akhirat. Firman Allâh ‘Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi’, yaitu segala sesuatu yang diperbolehkan Allâh, yang berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Allâh mempunyai hak atas dirimu. Jiwa ragamu juga mempunyai hak atas dirimu. Keluargamu juga mempunyai hak atas dirimu. Tamumu juga mempunyai hak atas dirimu. Maka berikanlah tiap-tiap hak kepada pemilikinya.”

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan … (Al-Qashash:77). Susunan kalimat dalam ayat Al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa kita hidup di dunia diberi anugerah (ilmu, kemampuan, harta, dsb) untuk mengutamakan mengejar akhirat, hidup untuk Allah, barulah setelah itu dikatakan jangan lupakan kebahagiaan dunia.

Janganlah terlalu sibuk dalam urusan dunia sebab ada tugas lain yang lebih penting yaitu urusan akhirat. Dan dalam melaksanakan tugas demi meraih keni’matan akhirat, setiap hamba mesti merasa seolah-olah tidak ada kesempatan lain untuk melakukannya kecuali hari ini. Maka bila sedang sibuk menghadapi urusan keduniaan kemudian mendengar panggilan Ilahi berupa shalat, da’wah, infaq, jihad dan lainnnya,  maka sambutlah panggilan ini dan tinggalkanlah urusan dunia, karena kesempatan untuk menyambut panggilan ini tidak ada lagi waktu selain hari ini sementara untuk urusan dunia waktunya sangat lapang


Sesungguhnya kesempitan dada dan apa yang menimpa seorang muslim berupa kebimbangan dan kebingungan serta kesedihan adalah perkara yang tidak seorangpun bisa menghindarinya. Hanya dengan kembali kepada Allah SWT semata dan mengutamakan keridhaan -Nya maka dialah jalan yang menghilangkan kebimbangan. Tidak ada jalan yang lebih bermanfaat bagi hamba selain jalan ini, dan lebih pasti dalam menghantarkan  seorang muslim kepada kenikmatan  hidup dan kebahagiaan

Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hal yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting adalah tauhid. Dengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa membuat hati menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan seisinya. Amal Shaleh juga termasuk hal-hal yang membuat dada menjadi lapang. Kebaikan itu adalah cahaya di dalam hati, sinar, kelapangan dalam rezeki dan ungkapan cinta di hati orang-orang sekitarnya.

Kembali kepada Allah SWT dan mencintainya dengan sepenuh hati, mendekat kepada Allah SWT, merasa nikmat dengan beribadah kepada -Nya, maka tidak ada yang lebih lapang bagi dada seorang hamba selain hal itu. Cahaya yang dihujamkan oleh Allah SWT di dalam hati seorang hamba, yaitu berupa cahaya iman, sungguh dia bisa membuat dada menjadi lapang, melegakan jiwa dan membahagiakan hati. Namun jika cahaya ini hilang dari dada seorang hamba maka dia akan menjadi sempit dan sesak.

Tauhid Yang Menggerakkan Iman. Yang Menggerakkan Bergerak Menuju Allah, Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Bergerak. Artinya berjalan menuju Allah. Berusaha membenahi ibadah. Banyak di antara kita yang mengeluh tentang keadaannya di dunia ini. Tapi dia tiada berpikir tentang kemaksiatannya kepada Allah. Dia tiada berpikir betapa malasnya dia beribadah, sementara rizki Allah mengalir keras. Shalat wajib dilakukan di akhir. Tanpa hati. Shalat sunnah? Wuah, entah sudah berapa waktu shalat-shalat sunnah tiada tertegak sempurna. Kadang shalat sunnah, kadang tidak. Dan barangkali lebih banyak tidak tertegaknya dibanding tertegaknya. Maka hidayah dan tauhid adalah sebab utama yang paling agung yang membawa kepada kelapangan dalam dada, sementara kesyirikan dan kesesatan adalah sebab utama terjadinya kesempitan dan kesesakan dada.

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am : 125). “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az-Zumar : 22)

Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang di buru oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah. Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha dan tekanan hidup akan terasa ringan. Tuluskan tauhid kita untuk Allah agar hati terbuka. Sejernih mana tauhid kita dan sebersih mana keikhlasan kita, maka sejernih dan sebersih itu pulalah kebahagiaan kita.

Andai kita menebus segala kesalahan kita dengan dunia yang kita punya, lalu kita mendapati Allah di sisi kita, tentu ini adalah proses pendekatan diri kepada Allah yang murah adanya. Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya, insya Allah akan tenang hidupnya, jauh dari kekhawatiran, jauh dari kegelisahan. Dan di antara sebab yang menjadikan hati ini sempit adalah berpaling dari Allah Azza Wa Jalla dan hati bergantung kepada selain Allah SWT, lalai dalam berzikir kepada Allah SWT dan justru mencintai selain Allah SWT. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkankannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124). Sesungguhnya orang yang mencintai sesuatu selain Allah SWT maka dia tersiksa dan hatinya terpenjara oleh kecintaannya terhadap hal tersebut.

Berbuat baik kepada orang lain, memberikan bantuan kepadanya dengan harta, kekuasaan, jasa dan kerja badan serta berbagai kebaikan lainnya. Sesungguhnya, orang mulia yang baik adalah orang yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, paling nikmat perasaan hatinya, sementara orang yang bakhil, yaitu orang yang tidak mau berbuat baik kepada orang lain, dan dia adalah orang yang paling sempit hidupnya dan paling keruh kehidupannya. Disebutkan di dalam Ashahihaini dari Abi Hurairah bahwa  Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang pelit dan orang yang dermawan adalah seperti seorang lelaki yang memakai baju dari besi, mereka berdua terpaksa harus mengulurkan tangan mereka ke tulang selangka mereka, maka setiap kali orang yang suka bersedekah itu ingin mengeluarkan shadaqahnya, maka dia semakin  meluas sehingga bekas-bekasnyapun menghilang, dan setiap kali orang yang kikir ingin mengeluarkan shadaqahnya maka setiap lubang baju besi itu menyempit sehingga  mengerut pada tubuhnya akhirnya membelenggu kedua tangannya kepada tulang selangkanya, dan didengar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Lalu dia berusaha memperluasnya namun baju itu tidak bisa melebar.”


Kita adalah makhluk yang sangat lemah. Manusia tidak akan pernah mampu melawan setiap bencana, menaklukkan setiap derita dan mencegah setiap malapetaka dengan kekuatannya sendiri. Mengapa harus cemas, mengapa harus takut, mengapa harus khawatir? Kekuatan hanya milik Allah Yang Maha Kuat, maka serahkanlah segala urusan pada-Nya.

Kita akan mampu menghadapi semua masalah dengan baik hanya bila bertawakkal kepada Allah, percaya sepenuhnya kepada Allah, dan menyerahkan semua perkara kepada-Nya. Karena, jika tidak demikian, jalan keluar mana lagi yang akan ditempuh manusia yang lemah tak berdaya ini saat menghadapi ujian dan cobaan?. Siapa lagi yang mampu menolong dan menjadi pelindung kita untuk segala urusan kita selain Allah?

Ketika seorang hamba tenang bahwa apa yang akan terjadi itu baik baginya dan ia menggantungkan setiap permasalahannya hanya kepada Rabb-nya maka ia akan mendapatkan pengawasan, perlindungan, pencukupan serta pertolongan dari Allah. Kesusahan, bencana, kemiskinan dan kesulitan lainnya adalah kecil dIhadapan Allah. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah:5-6). Jika kita membaca ayat ini, mengapa kita harus takut. Sebab jika saat ini kita sedang sulit, maka esok kemudahanlah yang akan menghampiri kita. Ayat ini sungguh memberikan inspirasi bagi kita yang sedang mengalami kesulitan, karena dengan pertolongan Allah SWT, kemudahan akan datang kepada kita. Jangan pernah terhimpit, karena keadaan akan berubah.

Tidak ada lagi alasan untuk takut, tidak ada alasan untuk tidak bersemangat, tidak ada alasan untuk khawatir akan hari esok. Hari esok adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi. Apakah kita mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan atau memetik buah-buahan sebelum masak?

Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja,maka sama artinya kita endahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa saja besok hidup kita lebih baik. Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam ghaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai kejembatan itu atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya. Dan bisa jadi pula kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46). Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imraan: 200). Dengan bershabar, kita akan menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup. Bagaimana tidak, pertolongan Allah SWT sudah di depan mata. Tinggal sejauh mana kita bisa meraih pertolongan tersebut dengan kesabaran kita.

Mari kita jadikan kalimat “ Hasbunallah wani’mal wakill” sebagai semboyan hidup kita, semboyan yang selalu menyelimuti langkah hidup kita. Jika harta kita sedikit, hutang kita banyak, sumber penghidupan kita kering dan mata pencaharian kita berhenti, mengadulah kepada Allah. (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali “Imran:173-174)

kita sudah bekerja menyebabkan kita tidak khawatir dengan rejeki yang akan kita terima, tapi kenapa ketika kita sudah bersedekah hati kita masih khawatir kalau kalau tidak ada rejeki yang datang lebih buanyak. seharusnya ini menjadi barometer bagi kita untuk mengukur sejauh mana tingkat keimanan kita kepada Allah. kalau kita masih khawatir tentang turunnya rejeki padahal kita sudah bersedekah maka jelas iman kita kurang kuat, kan seharusnya setelah kita bersedekah hati kita tenang karena sudah pasti rejeki kita akan bertambah dari jatah yang seharusnya kita dapatkan.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat

penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud:6). Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit, sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita. Kemudahan akan kita dapatkan setelah kesulitan ini. Daripada tenggelam dengan kesedihan akibat kesulitan, mengapa kita tidak berusaha mengambil hikmah dengan cara berprasangka baik kepada Allah SWT. Mungkin dengan datangnya kesulitan kepada kita, agar kita sadar dengan segala kekurangan dan kesalahan sehingga kita bertaubat dan dosa kita diampuni dan  lebih bershabar, karena mungkin saja kesulitan ini adalah latihan bershabar.

 

 


Iklan