Apa pun yang dilakukan manusia akan kembali kepada mereka sendiri. Jika mereka mengerjakan kebaikan, maka pahala kebaikan itu akan diberikan-Nya kepada mereka. Sebaliknya, jika mereka mengerjakan kejahatan, maka balasan kejahatan itu pun akan diterimanya pula.

Dengan demikian, berarti semua yang dilakukan manusia akan kembali kepada mereka. Baik-buruk atau surga-neraka benar-benar berada dalam pilihan manusia. Maka, jika kelak di akhirat ada manusia yang mendapatkan siksa, hendaknya tidak menyalahkan kepada Allah. Tetapi hendaknya menyalahkan kepada diri mereka sendiri. Sebab, hakekatnya bukan Allah yang menyiksa, tetapi mereka sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri hingga mendapatkan azab yang pedih.

Kepada orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, Allah telah membuka pintu rahmat-Nya kepada mereka, maukah mereka memanfaatkan kesempatan itu?. Allah Yang Maha Pemurah dan Penyanyang membuka lebar-lebar rahmat-Nya kepada manusia. Allah Yang Maha Pengampun juga mengampuni manusia yang berdosa besar sekalipun, karena hanya dosa syirik yang takkan diampuni-Nya.

Maka, hendaknya manusia kembali kepada Allah dengan berserah diri kepadaNya, sebelum datangnya azab yang tidak dapat ditolong lagi. Tentu mereka harus mengikuti sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepada mereka dari Tuhan yakni Al-Qur’an. Betapa ruginya orang yang suka menunda-nunda beramal shaleh setelah mendapatkan hidayah Allah. Orang yang tersadar akan kesalahannya sekejap saja, sebenarnya ia telah mendapatkan hidayahNya. Maka, setelah mendapatkan hidayah, ia tak boleh menunda-nunda untuk beramal shaleh. Syekh Ibnu Atha’ dalam al-hikam menuturkan,”Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa.”

Menurut Ulama, halangan turunnya hidayah tersebut disebabkan beberapa hal:

1. Seseorang terus berada dalam kejahilan, gemar melakukan kejahatan, suka mengumbar hawa nafsu dan syahwatnya.

2. Seseorang tidak berusaha menuntut ilmu, padahal ilmu adalah pangkal kepandaian. Dengan ilmu agama seseorang akan mendapatkan hidayah-Nya

3. Tidak beramal dengan ilmu yang dipelajarinya

4. Bersikap sombong dan tidak mau menerima kelemahan diri.

5. Suka melakukan maksiat

6. Memakan makanan haram

Menurut Sholhan Latundo, berdasarkan Al-Quran, setidaknya ada 3 faktor umum yang menyebabkan manusia terhalang mendapatkan hidayah Allah:

1. Hawa nafsu, yakni menuruti semua keinginan dan memenuhinya tanpa pertimbangan akal dan tidak memperhitungkan dampak serta pengaruhnya terhadap kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu itu harus diperangi secara terus menerus.

2. Sesuatu yang bersifat duniawi. Sikap dan pandangan keliru manusia terhadap dunia merupakan salah satu factor penyimpangan manusia. Menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, seraya melalaikan kebahagiaan abadi dan kehidupan akhirat. Dunia menipu dan menyibukkan manusia.

3. Syetan. selalu berusaha menyesatkan manusia dan mendorong manusia kejurang keburukan. Syetan dan iblis merealisasikan cita-citanya lewat hawa nafsu dan keterpedayaan manusia akan kehidupan dunia semata. Maka, siapa yang terlena dengan kehidupan dunia, dia akan tahu dengan siapa akan berkumpul nantinya di akhirat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah SWT dan bersegera bisa melaksanakan amal shaleh.