Syekh Imam al Ghozali: ”Firasat adalah cahaya yang memancar kedalam hati, penguasaan ma’rifah yang membawa keajaiban-keajaiban kedalam hati dari sesuatu yang ghaib menuju yang ghaib, sehingga seseorang mampu melihat sesuatu menurut sisi mana Tuhan “memandang”. Dia bisa berbicara dengan hati makhluk.” Firasat adalah tersingkapnya keyakinan, kemampuan melihat yang ghaib dan dia merupakan bagian dari tingkatan iman, (Muhammad Al Kattani). Firasat adalah suara batin yang masuk kedalam hati. Setiap suara hati mempunyai nilai pemahaman yang menguasai hati. Orang yang imannya lebih kuat dan bersih, pasti firasatnya lebih tajam.

Orang yang melihat dengan cahaya firasat, berarti dia melihat dengan cahaya al-haq (cahaya Allah). Sumber ilmunya yang dipakai memandang berasal dari nur ilahi. Dia dapat melihat dengan tanpa lupa atau lalai, dengan tanpa khilaf atau persangkaan keliru. Pemahaman kebenaran Tuhan berjalan mengiringi gerakan lidah. Manusia semacam ini berbicara menggunakan pancaran kebenaran Tuhan.

Suatu ketika Imam Syafii dan Muhammad Bin Hasan berada di Masjidil Haram. Mereka melihat seorang lelaki memasuki masjid. Muhammad bin Hasan berkata,” Menurut firasatku lelaki itu adalah seorang tukang kayu.” Imam Syafii berkata,” kalau menurut firasatku, dia adalah seorang tukang besi.” Keduanya kemudian mendatangi lelaki yang baru saja dibicarakan. Ketika ditanya lelaki itu menjawab ,” Tahun lalu, aku memang bekerja sebagai tukang besi, tetapi sekarang aku bekerja dibidang perkayuan.”

Orang-orang yang mengetahui sesuatu yang ditampakkan oleh Allah dengan berbagai tanda-tanda yang berasal dari pancaran cahaya ilahi yang memancar kedalam hati, sehingga ia dapat melihat berbagai makna dan nilai-nilai yang tampak dari alam semesta. Hal ini merupakan Karomah iman. Kebanyakan mereka adalah Rabbani yaitu para ulama ahli hikmah yang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan berpikiran dengan pandangan Tuhan. Hari mereka kosong dari pengaruh makhluk, tidak larut dalam kesibukan duniawi dan tidak cenderung kepada manusia.

Diterangkan dalam sebuah riwayat, bahwa Abul Hasan ad-Dailami pernah memasuki kota Anthakiya, Turki. Ia datang kesana karena sangat penasaran dengan seorang lelaki berkulit hitam. Lelaki itu khabarnya mempunyai karomah sehingga bisa mengetahui hal-hal yang ghaib. Setelah sampai di Anthakiya, Abul Hasan bertemu dan berkenalan dengan lelaki yang dicarinya. Bahkan ia tinggal bersamanya. Lelaki itu keluar dengan membawa barang yang menurut Abul Hasan mubah untuk dijual kepasar. Abul Hasan mengikutinya.

Diam-diam Abul Hasan ingin membeli barang yang di bawa oleh lelaki itu, mengingat sudah dua hari perutnya tidak terisi makanan. Karena barang yang hendak dijual itu bisa dimakan. “Berapa harganya?”Tanya Abul Hasan sembari barang tersebut bisa dibelinya.

Namun lelaki hitam itu tidak tertarik dengan pertanyaan Abul Hasan, “Duduklah sampai aku selesai berjualan dan memberikan sisanya yang hendak kau beli.” Abul Hasan tidak mempedulikan omongannya. Ia merasa tidak boleh membeli barang tersebut. Ia kemudian pergi ke penjual lain untuk menawar barang mereka. Namun para penjual lainnya tidak menerima tawarannya. Akhirnya Abul Hasan kembali ke lelaki hitam itu. Abul hasan mengulangi pertanyan, “Jika engkau menjual barang ini, maka katakana berapa harganya. Aku mau membelinya?”.

Sepertinya lelaki hitam itu mengetahui sesuatu yang dialami oleh Abul Hasan. Ia berkata,”Engkau telah kelaparan selama dua hari. Duduklah hingga aku selesai menjual barang ini. Sisanya boleh kamu beli.” Abul Hasan terpaksa harus sabar dan duduk menanti didekatnya. Ketika barangnya laku, ia memberikan barang sisanya kepada Abul Hasan. Lelaki itu kemudian pergi. Abul Hasan penasaran, ia mengikuti langkah lelaki itu. Lelaki tersebut menoleh,”Jika kamu ditimpa keperluan, maka Allah pasti menurunkannya kecuali jika nafsumu meminta bagian yang dapat menutup tabir terkabulnya dari Allah.”

Dikisahkan pula, bahwa seorang ulama sufi yang sangat terkenal di Naisabur, bernama Abul Qasim al-Munadi menderita sakit. Banyak ulama dikota itu menjenguknya. Tak terkecuali Abul Hasan al-Busanji dan Hasan al-Hadad. Kedua ulama itu ingin membawakan oleh-oleh. Kebetulan ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang penjual apel. Mereka membeli apel, tetapi sayang sekali uangnya kurang. Namun karena keduanya adalah ulama, maka sang penjual apel memberikan dagangannya meskipun dihutang.

Sesampainya ditujuan, keduanya langsung menuju keruangan tempat berbaring Abul Qasim. Namun Abul Qasim tiba-tiba berguman,”Mengapa suasana menjadi gelap seperti ini?”padahal ruangan terang benderang. Kedua ulama itu merasa ucapan tersebut ditujukan kepada mereka. Mereka keluar dan berbisik-bisik kepada temannya,”Apa yang telah kita perbuat, sehingga Syekh berkata demikian?” Keduanya mencoba berfikir. Lalu Abul Hasan berkata, “Barangkali karena kita belum membayar penuh harga apel.”

Mereka lalu menemui penjual apel dan melunasi hutangnya. Setelah kembali, Abul Qasim berkata,”Mungkinkah secepat ini kegelapan yang menyelimuti seseorang keluar darinya. Kabarkan kepadaku apa yang terjadi dengan firasat ini?” Mereka kemudian menceritakan pengalamannya. Abul Qasim tersenyum. Ia menemukan jawaban dari firasat kegelapan dikamarnya.

“Memang benar, salah seorang diantara kalian terlalu percaya kepada temannya untuk tidak membayar kekurangan dari apel yang dibeli. Engkau percaya terhadap kebaikan penjual apel. Padahal sesungguhnya, penjual apel itu malu untuk tidak memenuhi tawaran kalian. Dia segan dan takut berurusan dengan ulama seperti kalian ini. Dia takut menagih kekurangannya. Sedangkan aku adalah penyebab utama. Engkau datang membawakan oleh-oleh apel buatku. Itulah yang kulihat pada diri kalian,”ujar Abul Qasim.

Syekh al-Kirami, seorang ulama yang dikenal memiliki ketajaman mata bathin mengatakan,”Barangsiapa yang menutup pandangannya dari sesuatu yang haram, mencegah dirinya dari syahwat, menetapi bathinnya dengan keabadian perasaan yang diawasi Allah, meneguhkan zhahirnya untuk tetap mengikuti sunnah Rasulullah dan membiasakan makanan halal, maka firasatnya tidak mungkin salah.”