“Pecinta dunia bercerita tentang kehebatan diri dan harta dunia yang ingin dikejar. Pecinta Tuhan akan selalu bercerita tentang kehebatan Tuhan dan nikmat akhirat yang ingin dikejar.” Isa a.s. berkata,” Bahwa cinta kepada dunia dan cinta kepada akhirat tidak akan bisa bersatu dalam satu hati, ibarat air dan api tidak dapat bersatu dalam wadah yang sama. Rasulullah bersabda,”Selamatkanlah dirimu dari dunia yang merupakan ahli sihir yang lebih dahsyat dari Harut dan Marut. Siapa yang tamak pada dunia dan menaruh angan-angan panjang terhadapnya, maka sejauh itulah Allah akan membutakan hatinya. Dan siapa yang tidak berniat pada dunia dan meringkaskan cita-citanya dari dunia, maka Allah SWT akan mengaruniakan ilmu tanpa ia mempelajarinya dan memperlihatkan jalan tanpa mendapat bimbingan dari penunjuk jalan.

Seorang Mukmin tidak akan pernah bersedih dengan tidak tercapainya dunia, tidak pernah mempedulikannya dan tidak pernah terguncang. Sebab ia percaya bahwa dunia ini akan sirna, tidak berharga dan fana. Allah menjadikan hidup ini sebagai ujian dengan tujuan apakah manusia dapat mengisi hidupnya dengan amalan-amalan yang baik. Manusia yang berhasil menjadi manusia yang paling baik adalah : mereka yang paling taat pada Allah. Hidup akan lebih mudah jika kita memutuskan untuk menikmati apa yang kita miliki dari pada menyesal apa yang telah terjadi.

Kesibukan kita pada dunia yang kita lakukan terus menerus hanya menumpulkan mata hati kita dari melihat keajaiban yang ada di sekeliling kita. Hidup itu adalah mencari bekal akhirat, mengatur hidup dengan benar, menikmati kehidupan yang tidak diharamkan, memperkaya akal dan membuat jiwa semakin mengkilat. “Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang orang yang bertaqwa’.” (Q.s. An Nisa’: 77). Memang benar dunia ini bukan tempat bersenang-senang, bukan tempat istirahat namun akhiratlah peristirahatan terakhir. Hendaknya kelelahan, kesenangan ataupun segala sesuatu di dunia ini janganlah melalaikan kita dari mengingat Allah.

Jikalau kita mengingkari keinginan Allah dan memilih keinginan kita sendiri. Allah telah memperingatkan, yang artinya,“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

Ukuran kebahagiaan itu ada dalam Kitab Allah yang agung dan takaran dari segala sesuatu itu ada dalam kualitas zikir kepada Yang Maha Bijaksana. Dialah yang menetapkan segala sesuatu, nilai dan balasannya kepada hamba baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang cerdas mengatur hidupnya di dunia dengan akalnya. Jika hidup dalam kemiskinan, ia berusaha keras untuk menghasilkan rezeki yang mencegahnya dari penghinaan manusia. Ia juga mengurangi kebergantungannya kepada orang lain dengan cara hidup sederhana. Oleh karena itu, ia hidup tenang dan tak pernah mendengar ocehan manusia yang sampai ke telinganya. Ia hidup dengan harga diri di tengah-tengah mereka. Jika hidup dalam kekayaan, ia menggunakan akalnya untuk tidak berlebihan menggunakan hartanya, khawatir suatu saat ia menghajatkan sehingga membuatnya rendah di mata orang lain. (Imam Ibnu Al-Jauzy)

Dunia bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, namun dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah. Jika kita bisa memahami hakekat dunia yang sebenarnya yaitu bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hati kita akan menjadi sehat. Adapun jika kita lalai tentang hakekat ini, maka kematian dapat menimpa hati kita. Dunia adalah kesenangan yang menipu, yaitu kesenangan yang tidak abadi dan hanya bersifat sementara. Kesenangan yang hilang saat ajal menjemput. Dunia adalah kesenangan yang fana dan menipu. Bagi siapa yang cenderung kepadanya maka ia tertipu dan ta’ajjub dengannya, sampai ia berkeyakinan tidak ada tempat tinggal selainnya dan tidaka ada tempat kembali setelahnya. Padahal ia hina dan rendah dibandingkan tempat akhirat.