Jika akal mengendalikan seseorang secara penuh. Maka hawa nafsu akan tunduk patuh kepadanya. Demikian sebaliknya, kalau kekuasaan berada ditangan hawa nafsu, maka akal akan menjadi tawanan dan hamba baginya. Rasulullah memuji orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sebagai petarung sejati, “Petarung sejati bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan nafsunya saat marah.” (HR. Bukhari-Muslim). Tiada seorang hamba yang mendahulukan keinginannya diatas keinginan Allah, melainkan Allah cerai-beraikan urusannya, dikaburkan dunianya dan disibukkan hatinya dengan urusan dunia.

 Akal pikiran inlah yang selalu menilai segala risiko buruk sehingga ia terus mewaspadainya, yang berupaya menjalankan segala hal yang sesuai dengan kemaslahatan, yang menentang keinginan hawa nafsu sehingga mampu mengalahkan bala tentaranya dengan penuh kehinaan. Selain itu, akal pula yang membantu kesabaran hingga berhasil mengalahkan hawa nafsu, setelah sebelumnya ia nyaris terpukul dengan anak panah hawa nafsu. Rasulullah SAWW bersabda: “Hentikan gangguanmu pada dirimu sendiri dan jangan mengikuti hawa nafsumu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena, ia akan rnenghujatmu di kemudian hari nanti. Sampai-sampai yang satu mempersalahkan yang lain dan ingin berlepas tangan, kecuali jika Allah berkehendak mengampuni dan menutupi dengan rahmat-Nya.”

Nafsu adalah kecenderungan jiwa pada perkara-perkara yang selaras dengan kehendak manusia. Ia sejatinya diciptakan Allah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Bisa dibayangkan, jika tak ada nafsu, tak mungkin manusia menginginkan kualitas hidup yang baik. Karenanya, nafsu tidak untuk dihilangkan, tetapi untuk diatur dan dikendalikan sesuai dengan kehendak syariat. Meskipun pada prakteknya mengendalikan hawa nafsu bukanlah perkara yang mudah. Mengendalikan hawa nafsu bak bertempur tak ada habisnya. Di setiap waktu, tempat, dan keadaan kita harus senantiasa sigap melawan bisikan nafsu negative. Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS An-Nazi’aat <79>: 37-41).

Kita telah banyak mendengar dampak negative dan kerugian dari hawa nafsu yang tidak terkendali dalam kehidupan sehari-hari. Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan terputusnya jalan nikmat dan mendapatkan aib yang sulit dihilangkan. Tidak ada jalan lain saat berhadapan dengan hawa nafsu kecuali melawannya. Karena kita tahu, hawa nafsu hanya akan membawa pada kesesatan. Semakin diikuti semakin jauh kita tersesat.”Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS Al Qashash:50). Apapun yang diinginkan hawa nafsu, kita harus melakukan tndakan yang berlawanan dengannya.

Banyak orang yang gagal dalam mengarungi hidupnya hanya karena tidak pandai mengendalikan hawa nafsunya. Mereka terkadang sadar bahwa perbuatan mereka adalah salah, , tetapi tetap dilakukan demi mengejar kenikmatan yang sesaat. ”Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS Shaad <38>: 26). Ayat di atas mengandung perintah kepada kita untuk mengekang hawa nafsu. Allah SWT menyuruh agar kita senantiasa mengikuti perintah-Nya dan jangan mengikuti perintah hawa nafsu yang akan merugikan dan menghancurkan kehidupan kita.

Sebagai seorang beriman janganlah kita menuruti kemauan hawa nafsu, sebab nafsu senantiasa mencegah kita menikmati rasa ibadah, menjauhkan kita dari Tuhan, dan menghalangi kita melihat keagungan dan kebesaran-Nya. Jika hal-hal sedemikian telah terjadi, maka itu tandanya hati kita sudah mati dan tidak akan dapat menerima wasiat dan nasihat lagi. Firman Allah, ”Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan.” (QS Yusuf <12>: 53). Jika seseorang mengikuti hawa nafsunya, maka sungguh dia telah tertipu dan rugi di dunia dan akhirat. Kerugian di dunia jelas, sebab orang di sekeliling tentu akan membenci dan memencilkannya dari pergaulan. Kerugian di akhirat lebih jelas, sebagaimana tertera dalam firman-Nya, ”Adapun orang yang durhaka dan lebih mementingkan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka itulah tempat tinggalnya.”

Nafsu tidak selalu bermakna negatif, asal kita tahu bagaimana menguasai dan mengelola hawa nafsu tersebut. Apabila kita mengelola nafsu yang ada menjadi kegiatan yang positif. Dalam kehidupan seseorang manusia nafsu memiliki peran yang sangat penting. Nafsu ibarat pedang bermata dua, di satu sisi apabila salah menggunakannya akan membawa kerugian, tetapi apabila dikelola dan digunakan sedemikian rupa akan berdampak baik. Hawa nafsu bila semakin kuat dan keras ditekan, hati kita akan semakin merasakan kenikmatan dan kebahagiaan. Sebaliknya, seseorang yang dikalahkan hawa nafsunya, hanya menjadi pecundang yang sangat hina. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (Q.S. An-Naziat 79: 40)

Seseorang yang menggunakan akal pikirannya dengan baik, maka dia akan dapat mengenal Allah SWT. Dengan akal, seseorang dapat beriman pada sejumlah kitab, rasul, malaikat dan hari akhir. Melalui akal seseorang akan dapat mengetahui tanda-tanda keagungan dan keesaan Allah serta mukjizat para rasul. Berkat akal pula seseorang dapat menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangannya. Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Q.S. Yunus 10: 100)

Allah memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui mana sisi buruk dan mana sisi baik, dimana setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia tidak terlepas dari kendali dan kontrol dari akal yang sehat. Allah memerintahkan umatnya untuk menggunakan akal mereka dengan berpikir bagaimana upaya membangun bumi dan memperbaikinya demi tercapainya tujuan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Dengan akal pikiran manusi bisa menimbang, memilih dan memutuskan sesuatu dengan akalnya. Kalau akal pikiran tidak diaktifkan, akal manusia akan beku atau tidak berfungsi sehingga menjadikan martabat manusia turun dari makhluk Allah yang mulia menjadi makhluk hina. “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (Ar-Ra�d:19)

Maka dari itu hasil nyata yang dihasilkan setiap orang yang mendahulukan akalnya atau akal orang lain daripada syariat Allah adalah kebingungan dan kesesatan, yang pasti fungsi akal bukan untuk mengkaji ataupun berpikir kepada apa yang ada di luar batas kemampuan dari akal tersebut, tapi Allah menciptakan akal pada manusia juga untuk membedakan bahwa manusia begitu tinggi derajatnya dari makhluk Allah yang lain, dan akal itu berfungsi untuk berpikir bahwa alam ini ada karena adanya yang menciptakan yaitu Allah Swt, dan fungsi akal itu juga manusia berpikir dan bersyukur atas apa yang ada dan menjadi rahmat bagi manusia itu sendiri. Dalam al quran surat Ali Imran ayat 190 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan selisih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Hawa nafsu mengandung pengertian kecenderungan hati kepada hal-hal yang disukai dan dicintai yang tidak ada kaitannya dengan urusan akhirat, seperti perkara yang melalaikan, menggiurkan, melenakan, takabur, riya, sombong, kemaruk pangkat dan kekuasaan, cinta dunia, suka berkata kasar, makan berlebihan, mengumbar syahwat, dan sifat-sifat tercela lainnya. Hawa nafsu adalah satu sisi dari ketersiksaan manusia. Sisi lainnya ialah dunia. Dunia adalah terminal, tujuan, objek perintah dan gerak hawa nafsu. Jika Allah telah menjadikan ketersiksaan manusia dalam mengikuti hawa nafsunya, maka ketersiksaan itu terletak pada mencari dunia. Ihwal mengikuti hawa nafsu tidak dapat dipisahkan dari ihwal memburu dunia. Demikianlah, setiap nafsu menggeret manusia kepada nafsu yang lain dan akhirnya kepada kebinasaan yang menyeluruh.

Bagaimana mengekang dan mengelola hawa nafsu? Banyak-banyaklah berfikir positif dan selalu ingat kepada Allah SWT. Dengan selalu ingat kepada Allah serta berpegang pada Al-Qur’an dan hadis, seorang muslim akan dapat mengendalikan hawa nafsunya menuju arah yang benar, yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Rasa takut kepada Allah akan membuat kita berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dengan baik. Agar kita bisa memperbesar rasa takut kepada Allah adalah dengan menjadikan diri sebagai orang berilmu yang mengenal Rabbnya dengan baik. Disinilah semestinya iman berperan untuk mengenali hawa nafsunya agar tidak tertipu