Jangan memaksakan diri untuk hidup bergelimang harta karena harta tidak akan kita bawa mati dan justru bisa membawa malapetaka bagi kita jika tidak dapat mengaturnya dengan baik. Hidup penuh kesederhanaan walaupun kaya raya tanpa pamer dan gengsi adalah yang terbaik. Mensyukuri apa yang telah kita dapati juga menjadi kunci sukses. Jangan lupa beramal baik dengan mengeluarkan kelebihan harta kita untuk orang yang membutuhkan. Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara yang lainnya harus mati dan fana. Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada. Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yang ada.

Upaya pertama dan utama serta sungguh-sungguh yang harus dilakukan manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia adalah upaya “menyembah Allah.” Tujuan hidup kita sesungguhnya adalah semata-mata memenuhi keinginan Allah Yang Maha Pemurah, namun sebagian umat muslim tidak menyadari keinginan Allah. Padahal Allah sudah jelas menyampaikan dalam firmannya yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56). “Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)

Salah satu kunci kebahagiaan hakiki orang-orang beriman adalah totalitas penyerahan diri kepada Allah SWT, yang membawa mereka lebih dekat dan pasrah kepadaNya dalam situasi apapun dan itu membuat mereka selalu merasa tenang dan bahagia. Allah telah memberi tahu bahwa kalau manusia bersandar (berserah) kepadaNya, berarti berada pada jalan yang lurus, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 ). Allah mengatakan jika manusia mengikuti jalan yang lurus maka manusia merupakan bagian dari manusia yang telah diberi ni’mat sebagai contoh kebahagian dalam melakukan  perjalanan di dunia.

Sebagai seorang mukmin yang telah bersandar pada Allah, Allah memberikannya kebahagiaan dengan memenuhi segala kebutuhannya dalam perjalanannya di alam dunia ini.  “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka”. (QS Al Thalaq : 2). Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3). Jadi sebenarnya manusia tidak perlu bingung, khawatir, bimbang, gelisah akan kebutuhannya dalam perjalanan di alam dunia karena Allah yang akan mencukupinya.

Setelah upaya kita berserah diri kepada Allah adalah upaya menjalankan “pilihan” Allah, secara  ikhlas/rido, sabar , istiqomah, profesional dan diakhiri dengan tawakal. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan“. (QS Qashash : 68). Jadi kelirulah ungkapan orang pada umumnya bahwa “hidup adalah pilihan kita (manusia)”.   Hidup bukan pilihan kita ! Pilihan kita semata-mata hanyalah “beribadah / menyembah kepada Allah”.

Kebahagian hakikii adalah menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui ”pilihan” Allah, jalan satu-satunya adalah mendekat kepada Allah, mengenal Allah (ma’rifatullah) atau terhubung (wushul) dengan Allah. Syarat untuk mengenal Allah atau terhubung dengan Allah adalah manusia harus dalam keadaan suci dan bersih baik jasmani maupun ruhani, yakni harus mengetahui ”pakaian” ruhani  diantaranya mengenal diri, hawa nafsu, akhlak, seputar hati, tazkiyatun nafs sehingga manusia dapat ”bersaksi” dengan sebenar-benarnya ”bersaksi” kepada Allah.

Kebahagiaan hakiki juga didapatkan dari orang yang beriman dan beramal shaleh. Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shaleh, Allah memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan diakhirat kelak. Kebahagiaan yang paling ditekankan Islam adalah kebahagiaan akhirat, namun bukan berarti kebahagiaan dunia ditelantarkan. Tidak, bahkan kebahagiaan di dunia ini berusaha diwujudkan dalam bentuk yang sebenarnya. Yakni dengan mengabdikan diri kepada Allah semata sebagai panggilan dari fitrah diri manusia yang ia diciptakan di atasnya. Sehingga dengan itu akan mendapat ketenangan dan ketentraman. Dan ini menjadi kunci utama tercapainya kebahagiaan,

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasawuf Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan yang hakiki, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Bahagia di akhirat kelak sangat tergantung pada saat kita hidup didunia. Didunia tempat menanam di akhirat memetiknya. Bahagia didunia hendaknya dapat membawa bahagia di akhirat. Bahagia dikhirat ditentukan oleh seberapa jauh kita hidup sesuai dengan patunjuk & aturan dari Allah SWT, yaitu taat pada pedoman hidup Al Qur’an dan hadis/sunah Nabi Muhammad SAW. Kegiatan didunia (misalnya bekerja, dll.) hendaklah diniatkan untuk tujuan tujuan ibadah.