Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan. Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,” Karena puasa adalah bagian kesabaran.” Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah berfirman,” Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar:10).

Adanya ujian dan perintah sabar dalam Al-Quran memberikan indikasi bahwa dalam kehidupan manusia tidak luput dari hal-hal yang perlu disikapi dengan sabar, karena sabar adalah perisai seorang mukmin yang dia bersaudara kandung dengan kemenangan. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”. (Kitab “al-Fawa-id” hal, 97). Dalam riwayat Ahmad dikatakan: Allah berfirman,” Setiap amalan adalah sebagai kifarat / tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya

Secara umum sabar itu terbagi dalam tiga hal, yaitu:.

  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan (ash-shobru ‘indath thoo’ah), yaitu kesabaran seorang mukmin dalam mengerjakan segala macam bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam menjalankan ketaatan kepada Allah tidaklah sedikit tantangan yang dihadapi, maka kesabaran merupakan modal yang harus dipenuhi agar apa pun ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya benar-benar dapat dijalankannya dengan sebaik-baiknya. Allah SWT berfirman: “Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 7)
  2. Sabar dalam menjauhi segala bentuk kemaksiatan (ash-shobru ‘indal ma’shiyyah), yaitu seorang mukmin harus sabar serta semaksimal mungkin untuk dapat menghindari  dan menjauhi berbagai macam kemaksiatan dalam hidupnya. Kehidupan manusia tidak akan luput dari berbagai macam bentuk godaan, baik berupa dorongan syahwat, bisikan syetan, bahkan ajakan dari teman sendiri kepada kesesatan dan kemaksiatan. Maka seorang yang beriman kepada Allah akan mampu mengatasi semua itu dengan bekal keimanan dan kesabaran dalam menjauhinya. Dia selalu mengingat Allah untuk membentengi segala macam bentuk ajakan kemaksiatan yang dihadapinya agar dia tidak mengikuti orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).” (QS. Al-Qalam: 8) Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
  3. Sabar ketika menghadapi musibah (ash-shobru ‘indal mushibah), yaitu seorang mukmin harus meyakini betul bahwa sesungguhnya segala macam bentuk musibah yang menimpanya, adalah atas izin Allah SWT. Sehingga dia dituntut untuk selalu bersabar ketika musibah itu datang, karena dibalik musibah yang menimpanya pasti ada hikmah yang besar, yang dapat diambil pelajarannya oleh orang-orang yang berakal. Seberat apapun musibah yang menimpanya, dia tetap tegar, berusaha untuk mencari solusi dari semua musibah yang menimpanya, dan berserah diri secara totalitas kepada Allah SWT. Karena dia meyakini betul bahwa segala sesuatu yang dia miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allah SWT berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[1]. ” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam berpuasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.