Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: Agustus 2012

Rasulullah bersabda.” Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.” (HR Bukhari Muslim). Sebagian orang menduga bahwa memberikan harta sebagai sedekah, membuat harta kita berkurang. Secara kasat mata memang benar, tapi sesungguhnya harta benda yang kita berikan justru menjadi tabungan kita di negeri akhirat kelak. Bukan itu saja, sedekah juga dapat memperlancar usaha kita. Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan limpahan rezeki dari Allah jika kita sendiri enggan memberi sedekah? Bagaimana mungkin Allah akan memberikan pertolongan kepada kita, kalau kita tidak mau menolong orang lain dengan harta yang kita punya?

Benarkah sedekah bisa menggugurkan kesalahan-kesalahan kita? Rasulullah menjawabnya, “ Dan sedekah itu akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Allah berfirman,” Siapakah yang mau meminjamkam kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pinjaman itu untuknya dan akan memperoleh pahala yang banyak.”(QS Al-Hadid : 11)

Dengan pahala yang banyak itulah, akan memperberat timbangan amal kebaikan dan meringankan timbangan amal keburukan kita. Selain itu, doa orang-orang yang kita beri sedekah juga akan menghapuskan kesalahan-kesalahan tersebut. Bayangkan, jika kita memberikan sedekah kepada 50 orang, dan masing-masing mereka mendoakan kita agar di ampuni dosa-dosanya oleh Allah maka banyak sekali dosa kita yang insya Allah  berguguran. Doa orang yang tak berpunya dan membutuhkan sedekah, Insya Allah akan di dengar Allah.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah tentang salah satu manfaat sedekah. Ia berkata,” Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh menakjubkan untuk menolak beragam bencana, meski pelakunya orang yang fajir (pendosa), zalim atau bahkan kafir sekalipun. Karena Allah akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan sedekah. Ini sudah menjadi rahasia umum. Baik yang berpendidikan maupun orang awam.

Sedekah adalah sumber kebaikan, penjaga kehormatan pelakunya, penghapus kesalahannya dan penutup aibnya. Sebaliknya kekikiran seseorang merupakan salah satu factor yang menyebabkan kehormatannya terkoyak- koyak, segala kesalahannya terus bercokol, aibnya tersingkap dan kekeliruannya di nampakkan. Sedekah adalah kebaikan, kasih sayang, keutamaan dan belas kasih. Oleh karenanya sedekah merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan cinta Rabb, rahmat dan ridho-Nya. Sebab, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan dan mengasihi orang-orang yang bersikap kasih sayang terhadap sesama.

Iklan

Istigfar adalah salah satu kebiasaan Rasulullah yang tidak banyak menyita waktu. Cukup dengan membiasakan diri membacanya dalam hati. Kemanapun kita pergi dan kapan pun bisa, kita dapat melantunkan istigfar. Mungkin, yang sulit adalah membiasakan diri, karena kebiasaan istigfar harus di mulai dari komitmen. Jika  kita sudah berkomitmen maka semua aktivitas yang bernilai ibadah akan terasa mudah. Selain pahala, istigfar memiliki manfaat nyata, terutama bagi kita yang ingin memperoleh kekayaan baik kekayaan batin maupun kekayaan harta benda.

Semakin sering kita beristigfar, semakin bersih diri kita dari dosa, kesalahan dan segala macam aib. Oleh karena itu, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang selalu beristigfar. Setiap kali kita mengucapkan astaghfirullah, berarti kita meminta dan memohon kepada Allah agar Allah memperbaiki hidup kita, menguatkan akidah kita, membuat kita nikmat dalam beribadah dan menjadikan akhlak kita mulia.

Tidak heran jika hamba Allah yang sungguh-sungguh beristigfar, kehidupannya semakin berkah, membawa kebaikan dan perbaikan, bahagia, tenang, senang dan menyenangkan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, yakinlah istigfar memiliki energy yang mampu menggerakkan kita untuk maju, tidak pantang mundur dan optimis.

Cukupkah kita beristigfar lantas dosa- dosa kita berubah? Belum tentu. Istigfar bukan semata-mata ungkapan permohonan ampun, bukan juga semata –mata mengalunkan zikir-zikir ampunan di dalam hati. Istigfar harus di padukan dengan kesadaran untuk berubah. Kesadaran akan kesalahan-kesalahan pada masa lalu, dan mengikrarkan diri untuk tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut pada masa kini dan masa yang akan datang. Allah menegaskan hal ini dengan ungkapan taubat yang sesungguhnya.

Memang, sekuat apa pun kita menghindari dosa, kita tak akan pernah mampu mengelak dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, Allah sediakan fasilitas istigfar sebagai wasilah ampunan dari-Nya untuk para hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri. Memadukan istigfar dan kesadaran, membuat kita bertambah mantap menjalani hidup. Semakin hari, potensi-potensi kebaikan kita tumbuh berkembang, karena kita selalu belajar dari kesalahan dan tak mau mengulanginya. “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung menerima taubat hamba-Nya selama sebelum sekarat.” (HR Tirmidzi).

Selama ini, kita sudah bekerja keras untuk meraih kesuksesan, tapi semakin berusaha keras, semakin menjauh apa yang ingin kita raih. Kita pun sudah berdoa terus menerus, tapi tak jua dikabulkan. Semakin banyak kita berdoa, seolah-olah semakin menjauh dari diri kita. Akhirnya, kita hanya bisa mengeluh, merasa tertekan dan berputus asa.

Salah satu hal yang menghalangi terkabulnya doa dan usaha kita adalah dosa. Hubungannya sederhana. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya yang lalai?. Allah akan menerima doa-doa orang yang bertaubat, karena dia sangat bahagia jika melihat seorang hamba yang bertaubat



“ Dan ini (Al-Qur’an) adalah suatu peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS Al-Anbiya: 50). Kebiasaan membaca Al-Qur’an mungkin sering kita temui dan tak jarang kita pun mengamalkannya. Namun yang lebih utama adalah menjadikan AL-Qur’an sebagai bacaan wajib keseharian kita.

Terkadang, kita saksikan betapa banyak orang di sekeliling kita mengejar ketenaran, kekayaan dan hal-hal keduniaan lainnya. Tak jarang mereka mengejar dunia tanpa panduan yang jelas. Seperti seseorang yang tersesat di hutan mencari jalan keluar, ia menempuh segala arah, tapi tak jua menemukan jalan yang ia cari. Justru, ia semakin tersesat. Mungkin begitu juga sebagian orang yang mendewa-dewakan dunia. Mereka memperbanyak harta benda, sehingga lupa apa sebenarnya tujuan hidupnya.

Orang-orang yang mengejar kelimpahan harta tanpa adanya interaksi dengan Al-Qur’an, akan mudah tersesat dengan kelimpahan harta tersebut. Tidak jarang kita temukan orang kaya gantung diri atau orang sukses tapi keluarganya tidak bahagia. Semua ini disebabkan salah satunya karena mereka berlepas diri dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Setiap manusia pasti mencari kebahagiaan, harta berlimpah, penghidupan yang layak dan kenikmatan-kenikmatan dunia lainnya. Tak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kemiskinan atau jauh dari keluarga dan orang-orang yang kita sayangi. Namun, yang perlu kita lakukan adalah menjaga keseimbangan antara keinginan-keinginan kita dengan control diri kita. Kontrol diri itu bisa kita dapatkan jika kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah,” Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Yang dengannya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Keduanya adalah Al-Qur’an dan Sunah.”

Berusahalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pijakan dalam kehidupan kita. Siapa pun kita pasti membutuhkan petunjuk dalam menapaki kehidupan ini. Seorang pemimpin perusahaan membutuhkan langkah tepat menentukan kebijakan pada bawahannya. Cobalah dapatkan nilai-nilai kebijakan itu dalam Al-Qur’an.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sudah melekat dalam kehidupan manusia. Kita hanya perlu mengenali. Memahami dan menjadikannya panduan hidup kita. Jika dihubungkan dengan kesuksesan hidup maka mengenali Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai jiwa kita merupakan kunci kesuksesan hidup. Percayalah, dengan menjadi “Pribadi Al-Qur’an” potensi-potensi dalam diri kita akan terpancar. Cobalah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai Personal Trainer diri kita agar kesuksesan hidup dapat kita raih.

Al-Qur’an mengandung petunjuk, obat dan rahmat bagi manusia. Pemahaman seperti inilah yang harus kita tanamkan dalam hati dan pikiran kita. Al-Qur’an bukan hanya sekedar bahan bacaan saja, tapi menjadi petunjuk untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, kesuksesan, ketentraman dan kesehatan. Dengan demikian, kita akan menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan utama dalam kehidupan.

Mungkin, selama ini kita jarang mendayagunakan Al-Qur’an untuk kebahagiaan, kesedihan maupun kesengsaraan kita. Misalnya, saat kesedihan datang, kita lebih memilih mengurung diri di dalam kamar dan tak mengizinkan seorang pun mengganggu kita. Hal lainnya, ketika kita mendapatkan limpahan rezeki, kita lebih memilih berbelanja atau mentraktir teman-teman kita secara berlebihan.

Ada tiga nilai dalam Al-Qur’an yang utamanya harus kita miliki:

1. Ketekunan:

Dalam Islam, ketekunan ini lebih dimaknai dengan sikap Istiqamah atau teguh pendirian. Istiqamah adalah satu kesatuan antara pikiran, perasaan dan tindakan kita. Artinya, apa yang kita rasakan sesuai dengan pikiran dan tindakan kita. Kalau perasaan, pikiran dan tindakan kita tidak sejalan maka belumlah di sebut sebagai  istiqamah. Rasulullah pernah di tanya, “Amal perbuatan manakah yang di sukai Allah?” Beliau menjawab,” Yang kontinyu (terus menerus) sekalipun sedikit.” (HR Bukhari muslim)

2. Kesabaran:

Sabar bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau menyerah pada keadaan. Kesabaran sesungguhnya adalah sikap aktif untuk mencari jalan keluar bagi setiap persoalan yang di hadapi, termasuk selalu aktif mencari kebahagiaan, ketenangan atau keberhasilan. Oleh karena itu, di beberapa ayat Al-Qur’an, Allah selalu memerintahkan kita memperkuat kesabaran, “ Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu…” (QS Ali-Imran : 200).

Bukan hanya bersabar, tapi juga memperkuat kesabaran. Artinya, nilai kesabaran harus ada dalam hati orang-orang beriman, karena Allah menurunkan berbagai cobaan, sesungguhnya untuk menaikkan derajat keimanan manusia. Oleh karena itu, belum layak seseorang di sebut beriman jika ia tidak mau bersabar dengan cobaan atau keberhasilan.

3. Kesederhanaan:

Membentuk sikap diri yang sederhana, sesungguhnya bisa meringankan kehidupan. Kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan setelah berusaha dengan sungguh-sungguh merupakan wujud nyata kesederhanaan hidup. Dengan berfokus pada apa yang kita miliki, kita sedang mengundang datangnya limpahan hidup, karena dengan begitu kita sedang memancarkan energy ke alam sekitar dan alam sekitar pun akan merespon keinginan-keinginan kita. Sebaliknya, jika kita berfokus pada ketidakcukupan maka ketidakcukupan itu terus menghampiri kehidupan kita.

Rasulullah bersabda,”…..Barangsiapa menjaga dirinya, Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup, Allah akan mencukupinya. “ (HR Bukhari Muslim). Untuk memperoleh kecukupan hidup, sesungguhnya kita harus memulainya dari pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan yang merasa cukup inilah yang akan membuahkan sikap syukur, Dengan rasa syukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, orang-orang yang terus mengeluh dan merasa tidak cukup, hidupnya akan jauh dari bahagia, karena hatinya selalu terombang-ambing, gundah dan gelisah.


Puncak kebahagiaan, tak lain, hanya dapat kita raih melalui rasa syukur atas  pemberian-pemberian Allah. Sekecil apapun pemberian Allah, kita wajib mensyukurinya. Lalu, bagaimana cara syukur yang bisa mencapai puncak kebahagiaan? Sederhana sekali, bersyukurlah atas apa yang kita miliki saat ini dalam hidup ini. Cobalah untuk selalu mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, walaupun dianggap remeh dan tidak penting. Contohnya, Allah memberikan kesehatan kepadaku. Padahal, di rumah sakit, pastilah banyak saudaraku yang ingin sembuh dari berbagai penyakit. Terimakasih ya Allah, Engkau berikan aku nikmat sehat.

Setelah sholat tahajud, memang tidak serta merta kita menjadi kaya. Spirit tahajud itulah yang membuat kita kaya. Spirit tahajud sebagai hasrat untuk menjalani hidup. Spirit tahajud hanya dapat kita peroleh dengan mendirikan tahajud secara rutin. Tak hanya saat kita membutuhkan jalan keluar bagi permasalahan yang sedang kita hadapi, tapi juga setiap malam. Usai tahajud, kita berdoa memohon diberikan kelimpahan rezeki. Kita yakin Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Dengan spirit itulah, kita berusaha semaksimal mungkin untuk meraih kesuksesan. Semoga kita mendapat gelar terpuji dari Allah, seperti firman-Nya: …..mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat terpuji.” (Al-Isra’ :79).

Bagi mereka yang sudah kaya, sholat tahajud tetap di butuhkan, supaya kekayaan kita menjadi berkah dan tidak membawa kesengsaraan hidup. Bahkan kekayaan kita menjadi bertambah. Sifat-sifat seperti tekun, cerdas dan disiplin itulah yang mampu menambah pundi-pundi rezeki kita. Lalu, bagaimana dengan orang yang rajin bertahajud, tapi tak kunjung meraih kesuksesan? Bisa jadi, mereka belum merengkuh spirit tahajud tersebut.

Spirit tahajud tercermin melalui sifat-sifat pelakunya. Ada dua sifat ahli tahajud yang secara umum kita ketahui:

1. Memiliki Niat Mulia:

Berniat haruslah tulus semata-mata karena Allah. Namun, bukan berarti kita tak boleh meminta yang lainnya. Kita boleh sholat tahajud untuk mendapatkan sesuatu. Niat itu harus kita pasrahkan karena Allah semata. Misalnya, kita sholat tahajud karena ingin mendapatkan kelimpahan rezeki di dunia, maka sebaiknya niat menginginkan limpahan rezeki tersebut karena Allah.

Berusahalah meniatkan apa pun aktivitas kita dengan ungkapan karena Allah. Insya Alah, kita tak terbebani dengan beragam aktivitas. Semua telah kita sadarkan kepada Allah, Tuhan pengatur hidup kita. Contohnya, Saya bekerja untuk memperoleh banyak uang, menafkahi keluarga saya semata-mata karena Allah. Saya menulis untuk membagikan kebaikan kepada orang banyak karena Allah semata, bukan karena hal lainnya.

2. Berdoa dan Bersyukur:

Allah maha tahu apa yang kita butuhkan. Allah tidak akan mengabulkan doa-doa yang berpotensi menyengsarakan hamba-hamba-Nya. Memang, doa yang kita minta selalu bernilai kebaikan di dalamnya. Namun, pengetahuan kita terbatas. Allah-lah yang paling tahu kehidupan kita. Terkait dengan sikap syukur, cobalah untuk mengelaborasikan rasa syukur dengan doa-doa yang kita panjatkan.

Kondisikan diri kita untuk siap menerima semua pemberian Allah. Misalnya, ketika bekerja atau beraktivitas apa pun, kita harus siap menerima kesuksesan atau kegagalan. Jika meraih kesuksesan maka kita bersyukur dan jika mendapat kegagalan maka kita harus bersabar. Hal terpenting adalah kita menikmati perjalanan hidup ini sebagai karunia Allah yang patut di syukuri. Dengan demikian, setiap aktivitas kehidupan yang kita kerjakan terasa ringan dan menyenangkan.

Nabi Muhammad bersabda: “ Tuhan kita Azza Wajalla turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Pada saat itu Allah berfirman: “ Siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku, pasti Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni.”(HR Al-Jama’ah).

Sejatinya, jika kita membiasakan diri sholat tahajud maka kita akan yakin mendapatkan kemudahan dalam hidup. Salah satu cara membiasakan diri sholat tahajud adalah dengan merespon seruan Allah seperti yang terdapat dalam Surat Al-Muzammil ayat 1-4. Jika kita merasa terpanggil oleh seruan Allah, kita tentu akan melaksanakan sholat tahajud. Sebaliknya, kita akan lalai melaksanakan sholat tahajud, karena merasa belum terpanggil oleh seruan Allah.

Sholat tahajud sebagai kebutuhan, bukan beban.  Jadikanlah kebiasaan sholat tahajud sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Yakinlah, Allah akan memberikan apa saja yang kita inginkan jika kita sering bermunajat kepada-Nya pada malam hari. Oleh karena itu, cobalah luruskan niat kita untuk hanya mengharapkan keridhaan dari-Nya. Dengan demikian, kita tidak menganggapnya sebagai beban.


Allah akan menuntun siapa saja yang mau bertaubat, sekalipun para mantan narapidana. Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang, rahmat dan petunjuk-Nya bagi para hambaNya yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Jika sudah datang petunjuk dan kemudahan dari Allah maka hidup akan terasa nikmat dan ringan.

Berikut ini sebuah kisah perubahan seseorang menuju kesuksesan:

Azan subuh berkumandang, Sesosok tubuh tegap sedang melangkahkan kakinya. Pelan tapi pasti. Dalam langkahnya, tak henti-hentinya ia berzikir. Meskipun usianya tak muda lagi (42 tahun), tapi semangat beribadahnya layaknya anak muda. Dialah Udin (nama samaran), seorang mantan narapidana. Dahulu ia bersama teman-temannya sering melakukan pencopetan dan penjambretan di pasar-pasar. Bahkan ia termasuk “ Raja” preman. Teman-temannya sangat segan pada Udin, karena setiap aksi pencopetannya selalu sukses.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga, kira-kira begitulah yang di alami Udin. Enam tahun silam, Udin tertangkap dan harus menjalani hukuman penjara selama kurang lebih enam bulan. Setelah menyelesaikan masa hukumannya, Udin pun kembali menikmati udara bebas.

Ternyata Udin tidak benar-benar meninggalkan dunia kejahatan. Ia kembali mendalangi berbagai kasus pencopetan dan perampokan. Kali ini tak tanggung-tanggung, Udin memberanikan diri melakukan pencopetan di perumahan- perumahan elit. Hasilnya memang signifikan.

Namun, Udin kembali tertangkap dan harus mendekam selama satu tahun dalam penjara. Di dalam penjara, Udin mulai tergerak. Ia mulai sadar akan semua perbuatannya. Setiap hari jumat, ia mulai tergerak untuk sholat. Saat mendengarkan kutbah, ia merasakan kenikmatan. Entah mengapa. Sampai-sampai Udin yang berjiwa keras itu bisa menangis. Udin pun mulai bertaubat.

Ia mulai membiasakan diri sholat fardhu di mesjid. Ia juga ikhlas menjalani hukuman akibat perbuatannya tersebut. “ Penjara ini adalah tempatku memperoleh hidayah dari Allah.” Katanya. Udin mengalami perubahan positif dari hari ke hari. Ia semakin dekat kepada Allah dan banyak belajar ilmu agama. Kini, Udin telah bebas. Ia sudah menjadi seorang da’i. Bahkan seringkali ia mengajak teman-temannya untuk bertaubat.

Begitulah kehidupan. Terkadang kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita kelak. Hidayah Allah pun demikian. Kita tak pernah tahu kapan Allah mencurahkan hidayahNya kepada kita. Namun, hidayah atau tuntunan Allah harus kita jemput. Hidayah itu tak kan datang begitu saja tanpa kita usahakan. Dengan demikian, siapa pun kita asalkan mau bertaubat, niscaya Allah akan menuntunnya.


Berinteraksi dengan orang lain mengajarkan kita untuk mengelola emosi dengan baik. Misalnya, kita bisa belajar menghargai orang lain, meningkatkan kesabaran atau menahan amarah di depan orang lain. Sikap-sikap demikian secara tidak langsung menguji tingkat kecerdasan emosi kita. Mustahil kita menjadi orang tak mudah marah, kalau kita belum pernah di sakiti orang lain, atau mana mungkin kita menjadi pemaaf, kalau kita tidak pernah dikhianati orang lain. Semua itu kita peroleh melalui interaksi dengan orang lain.

Memang benar, ada masa-masa kita harus menyendiri dan ada masa-masa kita harus terlibat aktif dengan teman-teman kita. Berinteraksi dengan orang lain memang tak selamanya berjalan lancar dan mendatangkan kebaikan bagi kita. Oleh karena itu, kita harus pandai memilih dan memilah teman atau sahabat. Rasulullah pernah memberi nasehat tentang teman duduk. Orang lain akan melihat kita persis sama dengan teman kita. Jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi, sedikit banyak kita akan terpercik wanginya. Sebaliknya, jika kita berteman dekat dengan sang pandai besi, sedikit banyak bau asapnya akan menempel pada tubuh kita.

Bagaimana membangun silaurahim yang efektif dan efisien agar interaksi kita berjalan nyaman?

1. Jadilah pendengar yang baik:

Bagaimana sesungguhnya menjadi pendengar yang baik? Mendengarlah dalam pengertian to listen, yaitu menyimak untuk memahami hakekat di balik perkataan lawan bicara. Simaklah apa yang di ucapkan lawan bicara kita dengan penuh perhatian. Tataplah matanya secara wajar dan jangan berlebihan. Janganlah berpura-pura mendengarkan, padahal kita sedang memikirkan sesuatu yang lain. Lawan bicara kita merasa tidak di hargai. Lebih fatal jika ia memberhentikan pembicaraan dan memilih pergi meninggalkan kita. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi pendengar yang baik agar orang lain pun menjadi pendengar yang baik saat kita berbicara.

2. Jadilah manusia bertipe pembangun:

Orang-orang yang ramah, selalu berorientasi pada kepentingan orang lain, mau memberikan pendapat atau masukan kepada orang lain dan ikhlas memberikan bantuan. Orang dengan tipe-tipe seperti itulah yang di sebut manusia bertipe pembangun. Manusia bertipe pembangun adalah manusia yang selalu menjaga hubungan silaturahim. Mereka menyediakan waktu untuk mengunjungi para sahabat, sanak keluarga dan kenalan-kenalan baru mereka. “ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR Bukhari Muslim). Rasulullah bersabda,” Hak seorang muslim yang harus di penuhi muslim yang lain ada lima. Yakni, menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab doa orang yang bersin.” (HR Bukhari Muslim)

3. Berprasangka baiklah:

Banyak kasus perpecahan, pertengkaran dan perkelahian yang di sebabkan saling curiga satu dengan yang lain. Terkadang, kita terbawa oleh prasangka-prasangka buruk kepada orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita pikirkan benar adanya. Terkadang juga, kita merasa iri melihat kesuksesan orang lain, lalu muncul prasangka negative. Jika ini terjadi, tentu proses silaturahim kita akan terganggu. Untuk menghindari hal tersebut, cobalah untuk berpikir positif saat membangun interaksi dengan orang lain.

4. Tulislah surat cinta:

Berikut ini ada kutipan sebuah surat seorang istri kepada suaminya. Dengan menulis surat ini, sang istri mencoba melepaskan seluruh kekhawatirannya kepada sang suami.

Yang,…..

Kamu tidak pernah lupa sholat lima waktu khan? Ingatlah perkara yang satu ini dan jangan sampai kamu tinggalkan. Allah memberikan waktu kepada kita 24 jam dalam sehari. Dari 24 jam itu, kita hanya di minta untuk sholat lima kali dalam sehari semalam. Kalau sekali sholat, kita habiskan waktu selama lima menit, maka kita hanya menghabiskan waktu hanya 25 menit sehari semalam untuk sholat.

Ungkapan hati yang dilepaskan melalui selembar kertas dapat menjadi media silaturahim yang amat berharga. Orang yang menerimanya akan mengannggap kita tak pernah lupa kepada mereka. Inilah yanmg sesungguhnya dapat membangun hubungan positif dalam proses silaturahim.


Sholat fardhu lima waktu menjadi salah satu sarana perjumpaan antara kaum muslimin. Lima kali dalam sehari, kita dapat saling bertegur sapa dan berbagi cerita satu sama lain dengan saudara seiman. Bahkan, dengan sholat berjamaah akan terjalin hubungan persaudaraan yang sangat kuat. Betapa tidak, jika suatu saat kita sakit dan tak bisa ikut sholat berjamaah, para jamaah akan bertanya tentang ketidakhadiran kita. Mereka akan mendoakan untuk kesembuhan kita dan datang menjenguk. Sungguh, sangat indah kehidupan berjamaah seperti itu.

Sholat berjamaah dapat juga dijadikan media silaturahim antara satu dengan yang lainnya. Setiap orang dapat saling mengenal dan berinteraksi di dalamnya. Pertemuan dalam sholat berjamaah bisa menjadi suatu amal kebaikan jika di landasi rasa persaudaraan karena Allah. Dengan demikian, akan terhindar dari rasa iri, dengki, benci dan perasaan negative lainnya. Sebaliknya yang ada adalah saling mencintai dan saling menyanyangi karena Allah.

Sholat sendiri dan sholat berjamaah tentu memiliki perbedaan. Ketika sholat sendirian, mungkin kita cenderung lebih cepat atau cenderung berlama-lama. Sesuai dengan kemauan kita sendiri. Saat rasa malas menyerang, kita memilih sholat di akhir waktu. Berbeda dengan sholat berjamaah, kita tidak bisa seenaknya mempercepat atau memperlambat sholat. Kita harus mengikuti iman, meluruskan shaf dengan jamaah lainnya dan berzikir bersama seusai sholat. Hal-hal seperti itu memotivasi kita agar khusyuk dalam sholat.

Sholat berjamaah tidak hanya membangkitkan gairah beribadah, tapi juga mengajarkan konsep kepemimpinan. Dalam sholat berjamaah, imam adalah pemimpin bagi jamaah lain. Selama imam tak mengalami kesalahan maka makmum wajib mengikutinya. Namun, jika imam mengalami kesalahan maka makmum wajib menegurnya. Bukan itu saja, seorang imam juga harus memenuhi persyaratan tertentu sebelum di pilih menjadi pemimpin dalam sholat, yaitu memiliki pemahaman agama yang baik, memiliki bacaan yang bagus dan dituakan.

Rasulullah bersabda,” Apabila salah seorang di antaramu sholat dengan manusia maka ringankanlah, karena di kalangan mereka ada orang yang lemah, ada yang sakit, ada orang tua, atau mempunyai keperluan. Apabila seseorang diantaramu sholat sendirian maka panjangkanlah sekehendaknya.” (HR Bukhari)

Jika nilai-nilai sholat berjamaah kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat maka betapa indah dan damai kehidupan ini. Tak ada saling memusuhi, saling dendam atau saling memperebutkan daerah kekuasaannya. Dengan demikian, yang ada hanyalah cinta damai, kasih sayang, rasa persaudaraan atau rasa persatuan.

Dalam sehari semalam, Allah mewajibkan kita untuk sholat sebanyak lima kali. Suara muadzin memanggil kita untuk menuju rumah Allah. Kita di perintahkan untuk menghentikan sementara semua aktivitas kerja dan hal-hal yang bersifat duniawi, karena ini bukti ketaatan kita kepada Allah dan bukti kemenangan kita melawan hawa nafsu. Oleh karena itu, orang-orang yang menyambut azan, lalu menunaikan sholat berjamaah adalah mereka yang terhindar dari sifat munafik.

Para ahli otak pun menganjurkan bahwa lebih baik bekerja selama dua jam sambil sesekali beristirahat. Nah, Sholat inilah sebagai sarana mengistirahatkan seluruh anggota tubuh dan jiwa kita. Selain utamanya sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah, sholat juga merupakan sarana mengisi kembali semangat kerja kita dan sarana pelepas kelelahan.

 


Iklan