Sedekah adalah amalan istimewa berdimensi ganda, akhirat sekaligus dunia. Ia tidak saja menunjukkan kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga social. Ia menyimpan energy “ Misterius “ dalam menggerakkan orang meraih sukses, hidup bahagia, rezeki lapang, juga menangkal kesulitan dan bencana.

Orang yang gemar bersedekah adalah mereka yang memahami arti kehormatan dalam hidupnya. Di dalam rumus hidupnya, orang yang gemar bersedekah lebih memahami makna pentingnya berbagi kepada sesama, dari pada suka menuntut dan meminta yang seringkali bukan haknya.

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda:
“Barang siapa bersedekah dengan sebutir buah kurma dari pendapatan yang baik, dan allah tidak menerima selain yang halal, niscaya allah akan menerimanya dengan tangan kanannya, kemudian memeliharanya untuk orang yang mengeluarkan sedekah tersebut seperti seseorang dari kalian memelihara anak kuda miliknya, sampai menjadi besar seperti gunung.”

Sedekah merupakan penyucian jiwa, pelaksanaan perintah Allah, sebab meraih naungan di Hari Kiamat, memadamkan kermurkaan Allah, menghindarkan dari kebatilan, dan menggugurkan dosa-dosa. Dalam sebuah hadist Rasullullah SAW bersabda, “Jagalah harta kamu dengan zakat dan obatilah sakitmu dengan shodaqoh serta hadapilah segala cobaan dan bahaya dengan doa serta tawadhu’ (kerendahan hati).” (HR. Abu Hurairah)

Barangsiapa takut kepada Allah dalam masalah harta, lalu membelanjakannya sesuai dengan yang diridhai-Nya, memberi makan fakir miskin, serta mengeluarkannya untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimatNya, niscaya Allah akan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Allah akan menjaganya dan memberkahi keluarga dan anak-anaknya. Duhai alangkah bahagianya hamba ini, bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat. Dan, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang diperjualbelikan. Ia adalah anugerah Allah bagi hambaNya yang taat dan memenuhi perintahNya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” [Muttafaqun alaih].

Orang miskin yang gemar bersedekah adalah orang-orang yang tak memiliki banyak harta, bahkan seringkali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diri dan keluarganya pun kembang-kempis. Namun, meskipun mereka sedang berada dalam kesempitan dan kekurangan harta, mereka tidak mengalami kesempitan hati. Jiwanya sangat lapang terhadap sesama, kehidupannya di penuhi kerendahan hati dan sikap tawadhu’ dan serta tak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Orang-orang ini tak segan untuk memberikan harta kepada orang lain yang lebih membutuhkan, meskipun sebenarnya mereka sedang membutuhkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka adalah golongan orang-orang yang diberkahi hidupnya dunia dan akhirat. Mereka lebih mencintai kehidupan akhirat dan dimata mereka dunia adalah cobaan yang harus diatasi. Mereka miskin dalam harta tetapi selalu merasa cukup dalam hidupnya, karena harta itu mengandung berkah. Meskipun harta mereka sedikit dalam hal jumlah, tetapi rasa cukup yang mereka miliki, membuat mereka sesungguhnya kaya.

“Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah : 244-245).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah; 261)