Seseoarang yang mengenal Allah S.W.T pasti ia tahu akan tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan dan untuk apa ia berada di atas dunia ini. Oleh sebab itu ia tidak akan tertipu oleh kemilaunya dunia, tidak akan terpedaya oleh harta benda dunia. Sebaliknya seseorang yang tidak mengenal Allah, tentu ia akan terpedaya dan terpukau oleh indahnya dunia , yang pada gilirannya ia habiskan umurnya untuk mencari dunia, menikmatinya, layaknya seperti binatang saja.

Seseorang yang mengenal Allah, akan merasakan kehidupan yang lapang walaupun bagaimana keadaannya. Seandainya ia seorang miskin ia akan sabar, sebab ia tahu bahwa dibalik kehidupan fana ini ada kehidupan baqa (abadi), tempat kenikmatan, seandainya ia seorang kaya ia akan bersyukur, sebab harta yang ada padanya sekarang ini, hanyalah titipan Illahi, yang diamanatkan kepadanya. Lain halnya seorang yang tidak mengenal Allah, ia akan merasakan kehidupan kehidupan dunia ini sempit, bagaimanapun keadaannya

Sabda Rasulullah:

Amat mengherankan terhadap urusan mukmin, semuanya baik, hal itu tidak terdapat kecuali pada orang mukmin, bila ditimpa musibah ia sabar, dan bila diberi nikmat ia bersyukur (HR Muslim).

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Seorang yang mengenal Allah akan selalu mengharap ridhaNYA dalam setiap perbuatannya, dalam perjalanan hidupnya, ia tidak akan berbuat sesuatu kecuali bila hal itu diridhai oleh Allah S.W.T. Lain halnya dengan orang yang tidak mengenal Allah, ia berbuat berdasarkan kemauan syahwat dan kehendak hawa nafsunya. Jadilah hawa nafsunya Tuhan selain Allah, yang memerintah dan melarangnya.

Jika akar ma’rifah di bumi hati, akan tumbuh pohon cinta. Jika pohon itu sudah besar dan kuat, ia akan membuahkan ketaatan. Allah menyukai orang-orang yang baik. Allah dekat dengan hati mereka, tergantung dari kebaikan yang mereka lakukan. Allah akan memberikan cahaya-Nya pada orang yang takwa.

Mengenal Allah dengan benar (baca: ma’rifatullah) merupakan sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akherat. Karena seorang hamba dapat lebih mengenal dirinya sebagai hamba dan bagaimana seharusnya bersikap sebagai hamba, dan juga lebih mengenal Tuhannya, Allah Swt., sehingga ia mengetahui bagaimana ia bersikap di hadapan Tuhannya serta beribadah sesuai dengan apa yang dikehendaki Nya menurut apa yang disukai Nya. Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri, dan menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

“Salah satu jalan untuk mempercayai bahwa Allah itu ada, lihatlah semesta, itu firman Allah dalam Al-qur’an. Tapi jangan hanya melihat, gunakan akal dan pikiran selanjutnya tafakuri. Hanya melihat saja semua orang juga bisa. Beruntunglah orang-orang yang menggunakan akal. Tidakkah keberuntungan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya? Seperti Allah berfirman, “…. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal”. (2:269).

“Jika sudah yakin bahwa Allah itu ada. Ingatlah bahwa Allah selalu menatapmu, mengawasimu dari setiap waktunya. Pada saat kita terlelap, berada di sekolah, diam di rumah. Tak pernah ada yang luput dari pengawasannya. Dan kita tidak bisa memikirkan dzatnya seperti apa, karena akal yang dianugerahkan Allah terbatas, akal kita tidak akan pernah sampai.”

Demikian halnya dengan kita selaku hamba Allah, kita mesti mengenal Allah SWT denagn baik dan benar sesuai dengan petunjuk-Nya, sehingga hidup kita di dunia ini penuh dengan berkah dan keridhoan-Nya. Seseorang yang mengenal Allah dengan baik akan berbeda keadaannya dengan mereka yang tidak mengenal-Nya, karena ia tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan, serta ia tahu balasan Allah SWT dari hal perbuatannya tersebut.

Manusia yang meyakini Islam sebagai jalan hidup satu-satunya berarti sudah memilih tauhid yang benar. Berarti ia akan cenderung mengenal Allah lebih dekat, sehingga menimbulkan perasaan cinta kepada-Nya. Kalau sudah tumbuh cinta maka ia akan memandang Allah sebagai Sumber segala hidup, Sumber kesempurnaan, Sumber segala rahmat, serta percaya bahwa Dia dekat dengannya setiap saat.

Kegelisahan, kecemasan, ketidakteteraman, adalah ‘pekerjaan harian’ bagi manusia, kecuali mereka yang telah menemukan jalan yang benar. Rasa cemas itu bisa menyangkut urusan yang kecil-kecil maupun yang besar-besar. Bagi yang telah mengenal hakikat hidup, hal-hal remeh seperti itu tidak perlu membuatnya hilang akal. Allah swt jauh-jauh sebelumnya telah menurunkan obat penawar kegelisahan dan kecemasan ini dengan agama. Melalui agama (Islam) ini, Allah memperkenalkan diri-Nya bahwa Dialah yang Maha Kuasa, Maha Sempurna dan Maha Ahad. Pengetahuannya meliputi segala yang telah lalu, kini dan esok.

Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19). Dari ayat yang mulia ini, kita dapat memetik faidah bahwa barangsiapa yang tidak mengenal atau melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa atas hakikat dirinya sendiri. Sehingga ia tidak mengetahui sesuatu yang menyebabkan kebaikan bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.

Sedangkan kunci untuk mengenal Allah adalah dengan mempelajari Nama dan Sifat-Sifat-Nya. Karena di alam dunia ini kita tidak bisa melihat Allah secara langsung, maka tentunya tidak ada jalan lain untuk mengenal Nama dan Sifat-Sifat Allah kecuali melalui wahyu dalam Al Qur’an atau melalui hadits Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam yang shohih

Menurut Ibn Al Qayyim : Ma’rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”. Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya. Melalui ma’rifatullah, manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah; para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.

Ma’rifatullah akan membuahkan rasa takut seorang hamba kepada Allah SWT, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup. Ma`rifatullah ialah melihat dan mengenal Allah dengan mata hati bukan dengan mata kepala.

Jalan untuk mengenal Allah SWT, yakni :  Jalan Hikmah, yakni kepandaian menggunakan akal pemikiran dengan memperhatikan bukti-bukti alam yang ada.  Pada iman yang bersandarkan ma`rifatullah itulah ditemukan kemantapan aqidah yang tak tergoyahkan, bagai pohon yang sangat kekar, akarnya terhujam kokoh kedalam bumi. Bila iman dan tauhid tumbuh dalam taman sari ma`rifah, maka sungguh subur dan kuatlah itu. tingkat ma`rifah yang demikian itulah yang membuahkan ilmul-yaqin dan haqqul yadin. Pada taman sari itulah tumbuh subur keberanian (syaja`ah), kebulatan tekad, kekuatan pribadi, kedamaian hati, ketenangan bathin dan kebahagiaan hidup yang memancarkan sinar rahmat dan keberkahan untuk sekelilingnya. Sehingga apabila keimanan dan ma`rifah telah menyatu, maka terasalah halawatul-imaan, manis sedapnya iman.