Semua orang ingin bahagia. Adakalanya menempuh jalan sulit dan harga mahal untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi bahagia yang ia dapatkan hanya sesaat. Padahal, semuanya ingin mendapatkan kebahagiaan tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Di sana, terdapat orang kaya, dengan harta yang berlimpah, tetapi ia tidak menikmatinya dan tidak menyisihkan sedikit pun dari hartanya untuk orang lain. Dan disana, ada orang fakir, dengan harta yang sedikit, tetapi ia memberikan hadiah kepada kita dengan hadiah yang mahal harganya. Ia mengambilnya dari kebutuhan hidupnya yang paling pokok.

Di kala kita melihat keduanya, siapakah diantara keduanya yang paling kaya?

Sesungguhnya, dalam kehidupan ini terdapat orang-orang yang selalu menaungi perjalanan umur mereka dengan hasrat dan ambisi. Ia tidak pernah merasa puas dan berhenti dalam batas tertentu. Meskipun demikian, ia tidak pernah mampu mengecap arti kebahagiaan dan ketenangan. Ia tidak pernah mampu menikmati buah dari kelelahan yang mereka curahkan. Mereka adalah orang-orang yang gemar mengumpulkan, tapi tidak pernah di karunia kepuasan. Sungguh, apa yang mereka lakukan tidak akan cukup merealisasikan kebahagiaan dan ketenangan. Mereka akan selalu diliputi kekacauan pikiran. Kehidupan mereka di habiskan untuk menjaga kekayaan mereka tersebut, padahal harta tersebut tidak pernah menjaga mereka. Kekacauan pikiran yang mereka rasakan akan menjadikan kenikmatan mereka sirna dan diganti dengan penderitaan. Dunia mereka akan di penuhi dengan perasaan takut dan kesedihan.

Sesungguhnya, kehidupan kita selalu bersimbah dengan berbagai kepenatan dan ujian-ujian yang berat. Dalam medan seperti ini. Diri kita selalu berjuang agar bisa meraih kebahagiaan. Kebahagiaan yang ditunggu adalah kebahagiaan sebagai seorang pemenang sejati. Perangilah hawa nafsu dengan penuh kelembutan, agar kita merasakan sebuah kebahagiaan yang sempurna.

Berbuat baik untuk dan kepada orang lain merupakan jalan lebar menuju kebahagiaan. Orang yang senang melakukan kebaikan, takkan pernah menyesal meski sangat banyak kebaikan yang telah dikerjakannya. Tetapi ia justru akan menyesal manakala melakukan kesalahan, meski hanya sebuah kesalahan kecil.

“Tidak kenyang-kenyangnya orang yang beriman dari berbuat kebaikan, hingga dia berhenti di jannah.”(HR. Tirmidzi). Kebaikan itu akan berbuah kebahagiaan, juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah di dunia. Dan puncaknya adalah dijauhkan dari neraka, kesempitan yang paling berat dan penderitaan yang paling dahsyat.

“ Ya Allah, anugerahkanlah kesabaran dan kemampuan kepada kami untuk rela dengan segala yang sudah tersurat.”

Ya Allah, anugerahkanlah keberanian dan kekuatan kepada kami untuk mengubah segala sesuatu yang kami mempunyai kemampuan terhadapnya.

Ya Allah, anugerahkanlah kami ketepatan dan hikmah untuk bisa membedakan antara ini dan itu.