Istigfar adalah salah satu kebiasaan Rasulullah yang tidak banyak menyita waktu. Cukup dengan membiasakan diri membacanya dalam hati. Kemanapun kita pergi dan kapan pun bisa, kita dapat melantunkan istigfar. Mungkin, yang sulit adalah membiasakan diri, karena kebiasaan istigfar harus di mulai dari komitmen. Jika  kita sudah berkomitmen maka semua aktivitas yang bernilai ibadah akan terasa mudah. Selain pahala, istigfar memiliki manfaat nyata, terutama bagi kita yang ingin memperoleh kekayaan baik kekayaan batin maupun kekayaan harta benda.

Semakin sering kita beristigfar, semakin bersih diri kita dari dosa, kesalahan dan segala macam aib. Oleh karena itu, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang selalu beristigfar. Setiap kali kita mengucapkan astaghfirullah, berarti kita meminta dan memohon kepada Allah agar Allah memperbaiki hidup kita, menguatkan akidah kita, membuat kita nikmat dalam beribadah dan menjadikan akhlak kita mulia.

Tidak heran jika hamba Allah yang sungguh-sungguh beristigfar, kehidupannya semakin berkah, membawa kebaikan dan perbaikan, bahagia, tenang, senang dan menyenangkan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, yakinlah istigfar memiliki energy yang mampu menggerakkan kita untuk maju, tidak pantang mundur dan optimis.

Cukupkah kita beristigfar lantas dosa- dosa kita berubah? Belum tentu. Istigfar bukan semata-mata ungkapan permohonan ampun, bukan juga semata –mata mengalunkan zikir-zikir ampunan di dalam hati. Istigfar harus di padukan dengan kesadaran untuk berubah. Kesadaran akan kesalahan-kesalahan pada masa lalu, dan mengikrarkan diri untuk tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut pada masa kini dan masa yang akan datang. Allah menegaskan hal ini dengan ungkapan taubat yang sesungguhnya.

Memang, sekuat apa pun kita menghindari dosa, kita tak akan pernah mampu mengelak dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, Allah sediakan fasilitas istigfar sebagai wasilah ampunan dari-Nya untuk para hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri. Memadukan istigfar dan kesadaran, membuat kita bertambah mantap menjalani hidup. Semakin hari, potensi-potensi kebaikan kita tumbuh berkembang, karena kita selalu belajar dari kesalahan dan tak mau mengulanginya. “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung menerima taubat hamba-Nya selama sebelum sekarat.” (HR Tirmidzi).

Selama ini, kita sudah bekerja keras untuk meraih kesuksesan, tapi semakin berusaha keras, semakin menjauh apa yang ingin kita raih. Kita pun sudah berdoa terus menerus, tapi tak jua dikabulkan. Semakin banyak kita berdoa, seolah-olah semakin menjauh dari diri kita. Akhirnya, kita hanya bisa mengeluh, merasa tertekan dan berputus asa.

Salah satu hal yang menghalangi terkabulnya doa dan usaha kita adalah dosa. Hubungannya sederhana. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya yang lalai?. Allah akan menerima doa-doa orang yang bertaubat, karena dia sangat bahagia jika melihat seorang hamba yang bertaubat