Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: September 2012

Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan kebahagiaan. Tidak di ragukan lagi bahwa sesuatu yang berada di lingkungan kita, berpengaruh terhadap kebahagiaan kita. Akan tetapi sebab kebahagiaan itu tidak berasal dari luar. Namun tergantung pada cara kita menyikapi factor-faktor eksternal tersebut. Para psikologi menegaskan, kebahagiaan yang hakiki adalah berasal dari dalam diri manusia.

Kebahagiaan yang di ukur dengan materi, hanya akan menimbulkan angan-angan hampa yang melelahkan pikiran. Orang yang mengaitkan kebahagiaan pada pencapaian materi, lama kelamaan akan merasa bosan. Karena mereka akan sadar bahwa kebahagiaan yang mereka impikan hanya bersifat semu, padahal mereka telah mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.

Sebagai contoh, banyak orang yang ingin mendiami rumah megah, mengendarai mobil mewah atau mengantongi uang banyak, dengan semua itu mereka berharap dapat menemukan kebahagiaan. Ketika mereka mendapatkannya, mereka tidak serta merta puas dan merasa cukup, bahkan memulai lagi dengan menggantung kebahagiaannya kepada sesuatu yang lebih besar lagi.

Harta yang di kejar-kejar oleh manusia dan menggantungkan kebahagiaan terhadap pencapaian kepadanya, bukanlah jaminan kebahagiaan. Betapa banyak orang kaya hidup dalam kesengsaraan, tetapi orang sengsara hidup dalam ketenangan. Tidak ada perbedaan antara kebahagiaan orang kaya dengan orang fakir. Kegembiraan orang kaya dengan mampu membeli mobil mewah, sama dengan kegembiraan orang miskin karena mampu membeli sepeda motor biasa.

Orang yang bertaqwa itulah, orang yang hidupnya bahagia. Dengan demikian sumber kebahagiaan berasakl dari dalam diri seseorang. Disaat ia mampu berpikir positif, beriman kepada takdir Allah, rela dengan apa yang Allah berikan kepadanya, bersikap realistis dalam memandang sesuatu dan supel bergaul dengan orang lain. Maka pada saat itulah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan.

Adapun orang yang menggantungkan kebahagiaan dan ketenangan jiwanya pada hal-hal yang berasal dari luar, sungguh ia telah menggantungkannya dengan hal-hal yang mustahil. Mereka mengubah kehidupannya sehingga penuh dengan siksa dan derita. Ia akan menjadi orang yang mudah terbawa arus dan rakus. Ia merasa bahwa apa yang dimiliki orang lain lebih sempurna dari pada miliknya, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Ia menganggap nikmat Allah kepadnya sedikit, walaupun sebenarnya banyak. Ia mencari kebahagiaan di mana-mana, sedangkan kebahagiaan jelas ada di sisinya dan di bawah telapak tangannya, akan tetapi ia tidak merasakan dan tidak menyadarinya.

Mengapa orang kaya tidak mampu menemukan kebahagiaan? Jawabannya simple yaitu karena mereka tidak beriman kepada Allah. Padahal Allah telah menjamin bagi orang yang beriman kepadanya kehidupan yang baik dan bahagia. Sebagaimana yang di sebutkan dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Dalam ayat lain, Allah menjanjikan kebahagiaan kepada orang-orang yang beriman: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-An’am 82) dan firmannya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97).

Akan tetapi mereka menggantikan kebahagiaan hakiki dengan kebahagiaan dunia yang semu dan sementara. Otak mereka penuh dengan pikiran-pikiran sesat dan materialis , sehingga mereka kehilangan nilai-nilai spritual dan dasar-dasar moral. Sesuatu yang tidak di benarkan oleh akal dan agama, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan alasan modernisasi, mereka menghancurkan nilai –nilai spritual dan dasar-dasar moral. Seperti pemikiran tentang kebebasan dan persamaan hak, yang sebenarnya kedok untuk memperbolehkan melakukan segala sesuatu dan menghalalkan segala cara.

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai bagian dari penghuni surge, sebagai hamba yang pandai bersyukur atas nikmat-Nya, sabar atas keputusan-Nya, dan Kami meminta kepadaNya ampunan di dunia dan akhirat.

Iklan

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan. Kedengkian dan kebencian. Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan sholat sesempurna mungkin, membekali diri dengan sholat-sholat sunah nafilah, berpegang teguh pada Al-qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Ketika musibah dan bencana datang silih berganti menimpa kita, berzikirlah kepada-Nya, sebutlah nama-Nya, mohonlah pertolongan dan mintalah jalan keluar dari-Nya. Berzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari berbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Zikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Bersabarlah karena Allah. Seberapa pun besar permasalahan yang kita hadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama dengan kesulitan dan dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit, ia akan menggonggong dan mengejar kita bila kita tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan kita berlalu di hadapannya dengan tenang, bila kita tak menghiraukannya atau kita berani memelototinya.

Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus di pelajari serta di tekuni. Maka sangatlah baik bila kita berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian dan kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik dari pada ia harus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam hidup ini?

Kita harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus di waspadai, karena ia dapat menyulut kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus begitu di perhatikan dan di tangisi ketika gagal di raih. Keindahan hidup di dunia ini sering kali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang dengan hartanya adalah orang yang paling merasa terancam dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang waktu yang pasti tiba.

Bawalah ambisi kita itu ke satu arah saja, yakni bertemu dengan Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisi-Nya. Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyuran, istana-istana, rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna.

Setiap kali raga menikmati kemewahan, ruh sebenarnya merasa tertekan. Dan dalam situasi yang serba kekurangan itu sebenarnya tersimpan keselamatan. Bersikap zuhud di dunia misalnya, ternyata merupakan kesenangan yang hanya akan diberikan Allah kepada hamba-hamba yang di sukai-Nya. Kehidupan kita adalah cermin dari apa yang kita pikirkan. Artinya, semua hal yang kita pikirkan dan kita hayati akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, baik ketika bahagia maupun sengsara.


Tatkala Tsabit bin Ibrahim melewati sebuah jalan setapak di samping sebuah kebun, tiba-tiba jatuh sebuah apel. Tsabit mengambil dan memakannya separoh. Dia teringat bahwa apel itu bukan haknya. Dia masuk ke kebun dan bertanya pada tukang kebun, Saya telah memakan separoh apel ini. Mohon anda mengikhlaskan apel yang telah saya makan dan ambillah sisanya.

Tukang kebun itu berkata, “Saya tidak memiliki hak untuk mengikhlaskan apel itu. Kebun itu bukan milik saya.” Tsabit bertanya,” Siapa pemilik kebun ini?”. Tukang kebun menjawab,” Tempat tinggal pemilik kebun ini amat jauh. Untuk mencapainya harus menghabiskan waktu sehari-semalam. “

Tsabit berkata,”Saya tetap akan pergi kesana. Meskipun jalan yang harus saya tempuh amatlah jauh. Tubuh ini akan tumbuh dan menjadi bagian dari siksa neraka, jika yang saya makan tidak halal. Tsabit pergi berjalan menuju tempat tinggal pemilik kebun. Dia pergi dengan tujuan untuk meminta keridhaan atas separoh apel yang telah dimakannya. Setelah sehari semalam, Tsabit sampai di rumah pemilik kebun itu. Dia mengetuk pintu. Pintu itu di buka oleh pemilik kebun. Setelah memperkenalkan diri, Tsabit berkata, “Saya mohon keridhaan tuan atas apel yang telah saya makan. Dan ini sisanya.”

Pemilik kebun itu memandang dengan penuh kekaguman dan berkata,”Saya akan mengikhlaskan apel itu, namun dengan 1 syarat.” Tsabit bertanya,” Apa syaratnya ?” Pemilik kebun menjawab,”Engkau harus menikahi putri saya.” Tsabit menjawab dengan mantap,”Saya terima nikahnya.” Pemilik kebun itu berkata lagi, “Saya akan menceritakan kepadamu keadaan putri saya itu.” Tsabit menjawab. “Baik” Pemilik kebun menjawab,” Dia buta, tuli, bisu dan cacat tidak bisa berjalan.” Tsabit kembali menjawab dengan mantap,” Baik ,saya tetap menerima nikahnya. Saya akan serahkan semuanya pada Allah.”

Setelah akad nikah selesai, Tsabit menemui istrinya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengucapkan salam. Padahal dia tahu bahwa istrinya bisu, sehingga tidak mungkin dia akan menjawab salamnya. Ternyata, tidak seperti yang dibayangkannya. Dia terkejut, karena istrinya tersebut menjawab salam yang diucapkannya. Tsabit melihat padanya. Kemudian ia bergerak menghampiri Tsabit dengan kedua kakinya. Dia melihat pada Tsabit. Ternyata, istrinya adalah seorang gadis yang amat cantik, baik dan normal. Tsabit bertanya kepadanya, “ Ayahmu telah memberitahuku bahwa engkau tuli, bisu, cacat dan buta. Namun, saya tidak melihat itu pada dirimu.”

Istrinya menjawab, “ Ayah saya memberitahumu bahwa saya buta. Saya memang buta, namun saya buta dari hal-hal yang haram. Karena mata saya tidak melihat kepada hal-hal yang diharamkan Allah. Saya memang tuli, tapi tuli dari suara-suara yang tidak diridhai oleh Allah. Saya memang bisu, karena hanya menggunakan lidah saya untuk berzikir saja. Saya dikatakan cacat, karena kaki saya hanya digunakan untuk melangkah ke tempat yang tidak menimbulkan kemarahan Allah. “

Subhanallah. Mereka hidup bersama di dalam ketaatan kepada Allah. Istri tsabit itu melahirkan anak, yang kemudian menjadi seorang iman, yang terkenal dengan nama imam Abu Hanifah. Nama aslinya Nu’man bin Tsabit.


Hikmah tidak muncul begitu saja. Hikmah harus mempunyai sumber atau tempat untuk tumbuh. Perumpamaannya seperti bibit tanaman yang tidak akan tumbuh dan berkembang kecuali setelah kita menyiapkan baginya lahan yang subur, air yang cukup dan lingkungan yang cocok. Ketika hati kita mulai condong pada kemaksiatan, kita merasakan hikmah itu tertutup pada diri kita Sekeras apapun kita mengambilnya, kita tidak bisa. Sampai kita bertekad kuat keluar dari godaan setan tersebut. Tekad itu mengalahkan setiap bisikan setan yang terkutuk.

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al Baqarah: 269). Tidak ada jalan lain bagi orang yang ingin meraih hikmah, kecuali meluruskan perkataan dan perbuatannya. Jika ia tidak mampu, maka ia tidak akan mendapatkannya secuil pun. Usaha kerasnya hanya menghasilkan rasa lelah. Sedangkan orang yang bermujahadah melawan nafsunya akan menikmati setiap amal yang dilakukannya.

Sangat dibutuhkan kejernihan hati dan kekuatan iman untuk dapat menangkap hikmah-hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap kejadian, karena memang tidak semua orang dapat meraih hikmah. Proses pencarian hikmah pun sangat beragam. Ada yang berhasil dalam waktu singkat, namun ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Untuk memperkuat hikmah yang kita dapatkan dari setiap pengalaman kita, kenanglah pengalaman-pengalaman yang positif saja. Pilih pengalaman yang kita sukai saja. Pilih pengalaman yang membuat kita bahagia, kemudian tingkatkan intensitas kita mengenang pengalaman tersebut. Ini akan memperkuat hikmah yang telah kita dapatkan sekaligus akan meningkatkan citra diri kita

Ketika kita menyusun rencana dan cita-cita, Allah SWT sesungguhnya juga telah memiliki rencana untuk kita. Kita mempunyai keinginan dan Allah pun mempunyai kehendak. Yang perlu kita pahami, Allah yang dengan kebesaranNya telah menciptakan kita dan Allah pulalah yang Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, kesanggupan, serta segala sesuatu yang baik atau buruk bagi kita. Sehingga suatu kepastian bahwa akhirnya kehendak Allahlah yang akan berlaku.

Mungkin tidak akan menjadi masalah ketika keinginan kita selaras dengan kehendak Allah. Namun akan berbeda halnya jika keinginan kita berbeda dengan kehendak Allah. Jika hal ini terjadi, maka tugas kita adalah bagaimana menyelaraskan keinginan sesuai dengan kehendak Allah. Allah mengetahui segalanya tentang kehidupan kita, sehingga apapun yang Allah tetapkan tentu merupakan yang terbaik berdasarkan pandanganNya. Sementara pandangan kita sangat terbatas.

Boleh jadi dalam pandangan kita apa yang Allah berikan saat ini terasa jauh dari kebaikan. Namun percayalah bahwa pemberian Allah inilah justru yang nantinya akan mengantar kita pada kesuksesan, sehingga tidak ada pilihan selain melantunkan syukur atas karunia dan nikmatnya. Meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dapat menentramkan jiwa. Dengan hati yang tenang dan yakin Insya Allah akan semakin mudah bagi kita untuk memahami hikmah dari Nya.

Segala rencana yang kita susun hanyalah prediksi yang kita sendiri belum memahami benar baik buruknya untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah (216) yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Keimanan yang hadir, rasa syukur yang tumbuh, rasa cinta kepadaNya, atau berbagai karunia lain adalah semata karena kehendak Allah. Begitu pun jika kita sangat merindukan hikmah dari kejadian yang kita alami, maka setelah mengoptimalkan usaha, doa merupakan salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Mohonlah kepada Allah agar Ia berkenan membuka hati kita untuk dapat meraih hikmah. Dengan doa yang tulus dan penuh keyakinan, Insya Allah pintu hati akan terbuka dan berbagai hikmah akan masuk ke dalamnya.

Marilah kita ambil hikmah dari setiap pengalaman kita. Hikmah itu selalu positif. Hikmah itu milik kita, maka ambilah dimana pun kita menemukannya. Dan diri kita sendiri adalah salah satu sumber hikmah yang banyak. Alangkah bijaknya kalau kita merenung dan melihat kembali setiap kejadian yang telah Allah tampakkan kepada kita, agar kita dapat meraih hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa tersebut. kita akan merasakan betapa indahnya hidup ketika setiap kejadian mampu memperlihatkan hikmahnya. Ketika kegagalan justru mengundang syukur yang mendalam. Untuk itu, mari sempurnakan usaha serta tingkatkan doa kepadaNya. Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk menangkap butiran hikmah yang cahayanya mampu menerangi hati


Rasulullah bersabda: “Siapa yang berada di waktu pagi dalam keadaan aman di tempatnya, sehat tubuhnya, punya tenaga untuk bekerja pada hari itu, maka seolah-olah ia memiliki dunia dan seluruh isinya.” Apabila kita mempunyai hati yang lapang maka kita dan milyuner adalah sama.

Sesungguhnya kehidupan itu adalah dalam batas hari ini saja. Bahwasanya kehidupan dalam batas satu hari tidak berarti mengabaikan kehidupan mendatang secara keseluruhan. Atau meninggalkan persiapan kearah masa depan. Karena sesungguhnya memperhatikan dan memikirkan masa depan adalah hal yang wajar dan lumrah. Ada perbedaan antara memperhatikan masa depan dan hanyut di dalamnya, mempersiapkannya, dengan sibuk memikirkan hari ini dan mempersiapkan hari esok yang dapat bermanfaat di masa depan.

Maka, jalanilah hidup ini sesuai dengan kenyataan yang ada. Jangan larut dalam khayalan dan jangan pernah menerawang ke dalam imajinasi. Hadapi kehidupan ini apa adanya, kendalikan jiwa kita untuk dapat menerima dan menikmatinya. Bagaimanapun, tidak mungkin semua teman tulus kepada kita dan semua perkara sempurna di mata kita. Bahkan istri kita pun tak akan pernah sempurna di mata kita. “Janganlah seorang mukmin mencela seorang mukminah (istrinya), sebab jika ia tidak suka pada salah satu kebiasaannya maka dia bisa menerima kebiasaan yang lainnya.”

Kita harus dapat melupakan kenangan pahit masa lalu dan menyadari bahwa sibuk memikirkan masa lalu adalah usaha yang sia-sia, mustahil dan bodoh. Di samping itu kita juga tidak boleh terlalu merisaukan masa depan. Namun demikian kita harus mempersiapkan diri untuk menyonsong hari depan. Kebaikan, keburukan, penyakit, musibah, yang akan terjadi dimasa mendatang, tidak di ketahui oleh seorang pun, semuanya berada di tangan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, bukan di tangan manusia. Kita hanya di haruskan untuk berusaha menggapai kebaikan dan menghindari keburukan. Karena itu, setiap manusia harus mempunyai keyakinan kuat bahwa berkat pertolongan-Nya ia akan terhindar dari kekacauan dan meraih cerahnya masa depan. Sehingga dalam menjalani hidup ini, hatinya di penuhi dengan rasa tenanga dan jauh dari rasa sedih dan gundah hati.

Pada dasarnya mengejar sesuatu yang belum waktunya merupakan tindakan bodoh. Karena hanya akan menimbulkan was-was dan praduga yang tidak-tidak. Sebaliknya seseorang harus mengisi hari-harinya (masa sekaranmg) dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat, bukan hanya terpaku memikirkan masa depan yang memang menjadi rahasia Tuhan. Mulailah hidup baru bersama hari yang baru, tinggalkan masa depan yang belum pasti dan tidak menyibukkan pikirannya dalam memanjangkan angan-angan di masa yanga akan datang.

Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanana, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan dan dua pendapat yang saling bertentangan. Yakni yang baik dengan yang buruk, kebaikan dan kerusakan, kebahagiaan dan kesedihan. Dan setelah itu, Allah akan mengumpulkan semua yang baik, kebagusan dan kebahagiaan itu di surge. Adapun yang buruk, kerusakan dan kesedihan akan di kumpulkan di neraka. “Dunia ini terlaknat, dan terlaknat semua yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan semua yang berkaitan dengannya, seorang yang alim dan seorang yang belajar.”

Pada setiap yang buruk dan tidak kita sukai, maka dari itu, padamkanlah panasnya keburukan pada setiap hal itu dengan dinginnya kebaikan yang ada padanya. Itu kalau kita mau selamat dengan adil dan bijaksana. Karena, betapapun setiap luka ada harganya.


Bukanlah hidup namanya, kalau tidak bermasalah. Bukanlah seseorang di bilang sukses, kalau tidak sanggup melalui berbagai rintangan. Bukanlah di sebut menang, kalau tidak dibuktikan dengan pertarungan. Bukanlah di sebut lulus kalau tidak mengikuti ujian.

Bagaimana kalau otak dan hati kita tidak lagi bisa berfikir dan tidak bisa merenungi lagi tentang kebesaran ayat-ayat Ilahi Robbi. Apalah daya kita….Untuk itulah sudah seharusnya kita bersyukur dan berterimakasih kepada Allah. Syukur atas semua rahmat dan karunia-Nya yang berlimpah ruah, yang Nampak atau tersembunyi dari kasat pandangan mata.

Apa sebenarnya yang kita miliki? Kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Kita hanya memiliki sementara dengan sertifikat HAK PAKAI. Kita hanya sebagai khalifah yang di berikan kuasa untuk menikmati.

Istri adalah hak pakai yang dilegalisir dengan pernikahan.

Suami adalah hak guna yang disahkan dengan pernikahan.

Rumah, mobil dan semua perabotan adalah hak pakai yang disahkan dengan jual beli atau hibah.

Mengapa kita hanya memperoleh hak pakai? Karena semua itu punya Allah, tidak akan kekal bersama kita. Artinya dalam menguasainya kita dibatasi oleh waktu. Istri/suami yang kita cintai akan berpisah dengan kita, kalau bukan dia yang melepaskan kita , kitalah yang melepaskannya dan kembali kepada Yang Maha Memiliki. Sementara kita tidak sanggup untuk menahannya. Mobil, rumah dan semua kekayaan juga akan berpisah dengan kita. Oleh karena itu, kita hanya memiliki hak pakai saja, maka selayaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya hak tersebut.

Kita akan tahu persis harga sebuah kenikmatan, manakala kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan. Dan cobaan itu adalah rahmat untuk sadar dan kembali kepada Allah. Contohnya, dalam beribadah kepada Allah, kita akan bersantai-santai saja kalau tidak ada masalah. Tetapi begitu mendapat masalah, kita akan bangun malam melaksanakan sholat, beristigfar, menangis dan meminta pertolongan dari Allah. Di sini kita akan merasakan betul betapa nikmatnya beribadah. Ketika uang banyak, kita akan membeli apa saja yang sebenarnya belum tentu ada manfaatnya, tetapi begitu uang habis, kita jatuh sakit. Maka kita akan tahu betapa nikmatnya sehat dan perlunya uang untuk di tabung.

Dari contoh-contoh masalah di atas  dan masalah-masalah kehidupan yang lain, kita akan tahu bahwa permasalahan itu sendiri hakekatnya adalah bumbu kehidupan yang memperlezat kenikmatan. Karena memang dunia dan isinya diciptakan oleh Allah dengan berpasang-pasangan dan berlawan-lawanan sekaligus dihadapkan dengan bermacam-macam permasalahan suka dan duka silih berganti. Ada penyakit bagus…..karena obat laku dan dokter tidak menganggur serta perusahaan farmasi maju.

Bagi orang yang beriman, semua bagus. Dengan selalu ada masalah itu, maka hidup akan menjadi dinamis, tidak beku dan mati. Dengan bermasalah, dunia ini akan terasa indah, selama di hadapi dengan tegar, optimis, prima, percaya diri dan di dasari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Hidup ini penuh keindahan karena semuanya di hadapi dengan berzikir dan berdoa serta usaha dan selalu bersyukur dalam segala hal.


Iman terbagi dua: bagian pertama adalah sabar dan bagian kedua adalah syukur, sebagaimana telah di sebutkan dalam beberapa hadis, sabar dan syukur juga termasuk sifat Allah yang menjadi bagian dari Asma Alhusna. Karena Dia telah menamakan Dzat-Nya dengan  Assabur (Yang Maha Penyabar) dan Asysyukuur (Yang Maha Bersyukur).

Maka kebodohan dan ketidaktahuan dan ketidaktahuan terhadap sifat sabar dan syukur itu sama dengan kebodohan tentang dua bagian dari keimanan tadi, dan sama juga dengan pengabaian terhadap dua sifat Allah Yang Maha Pemurah. Tidak ada jalan untuk sampai kepada kedudukan yang dekat dengan Allah kecuali dengan sarana iman. Sebab, bagaimana mungkin orang yang menempuh jalan keimanan namun tidak mengetahui apa yang diimaninya dan siapa yang diimaninya itu.

Berhenti dari upaya untuk mengetahui sabar dan syukur itu sama saja dengan berhenti dari upaya untuk mengetahui apa yang diimani. Sabar dalam mendengarkan gangguan yang menyakitkan merupakan latihan jiwa. Bersabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan hati, termasuk derajat kesabaran yang paling tinggi, karena di sini, motif agama, motif hawa nafsu dan motif emosi bersatu bantu- membantu. Sabar adalah kata yang di gunakan untuk menyebut bertahannya motif agama dalam menghadapi motif hawa nafsu. Apabila takwa bertahan terus di dalam dada disertai kepercayaan kuat akan akibat yang baik di masa yang akan datang, maka akan menjadi mudahlah untuk menerapkan kesabaran itu dan akan muncul maqam ridha.

Mengingat nikmat merupakan sarana terbaik untuk bersyukur dan syukur itu di aplikasikan dengan ketaatan jiwa, ucapan dan perbuatan. Semua kebaikan, kesenangan dan kebahagiaan, bahkan semua yang di cari dan di sukai di namai nikmat. Namun nikmat yang sejati adalah kebahagiaan ukhrawi. Perkara-perkara yang bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti Ilmu dan akhlak mulia. Perkara-perkara yang berbahaya di dunia dan akhirat seperti kebodohan  dan akhlak tercela. Perkara-perkara yang bermanfaat untuk masa sekarang tetapi berbahaya untuk masa yang akan datang seperti bersenang-senang memperturutkan hawa nafsu dan perkara-perkara yang membahayakan dan menyakitkan untuk masa sekarang tetapi bermanfaat untuk masa yang akan datang seperti menahan hawa nafsu.

Ketahuilah, bahwa sarana-sarana duniawi itu bercampur aduk, kebaikan dan keburukannya berbaut menjadi satu. Jarang sekali kebaikan duniawi seperti harta, istri, anak, kerabat, kedudukan dan semua sarana duniawi lainnya yang tidak bercampur dengan keburukan. Akan tetapi, ia bisa di klasifikasi menjadi apa yang mengandung manfaat lebih banyak dari pada bahaya seperti harta, kedudukan dan semua sarana duniawi dalam takaran yang cukup, kemudian apa yang mengandung bahaya lebih banyak dari pada manfaat bagi kebanyakan manusia seperti harta dan kedudukan yang melebihi takaran kebutuhan, serta apa yang mengandung bahaya seimbang dengan manfaat.

 Banyak sekali orang sholeh mendapat manfaat dari hartanya yang banyak, sekalipun jumlah hartanya berlimpah, ia menginfakkan hartanya itu di jalan Allah dan memanfaatkannya untuk kebaikan-kebaikan. Dengan taufik Allah ini, maka hartanya yang banyak merupakan nikmat baginya. Sebaliknya, banyak juga orang yang mendapatkan bahaya dari hartanya yang sedikit, karena ia selalu menyepelekan hartanya, mengeluh maka dengan keadaan seperti itu, hartanya menjadi bencana baginya.

Infak itu mengandung obat, sedangkan menyimpan harta merupakan racun. Andaikata pintu mencari harta kekayaan itu di buka untuk manusia, niscaya mereka memburunya, cenderung kepada racun “menyimpan harta” serta membenci obat”infak”. Karena itulah harta di cela. Yang di maksudkan adalah celaan terhadap tindakan “menyimpannya” serta ketamakan terhadapnya untuk menumpuk-numpuknya dan berlebihan dalam menikmatinya, yang hanya akan menimbulkan dampak condong kepada dunia dan kelezatannya. Adapun mengambil harta sekedar yang di butuhkan, kemudian menggunakan kelebihan untuk kebaikan maka ini bukan sesuatu yang tercela.


Iklan