Iman terbagi dua: bagian pertama adalah sabar dan bagian kedua adalah syukur, sebagaimana telah di sebutkan dalam beberapa hadis, sabar dan syukur juga termasuk sifat Allah yang menjadi bagian dari Asma Alhusna. Karena Dia telah menamakan Dzat-Nya dengan  Assabur (Yang Maha Penyabar) dan Asysyukuur (Yang Maha Bersyukur).

Maka kebodohan dan ketidaktahuan dan ketidaktahuan terhadap sifat sabar dan syukur itu sama dengan kebodohan tentang dua bagian dari keimanan tadi, dan sama juga dengan pengabaian terhadap dua sifat Allah Yang Maha Pemurah. Tidak ada jalan untuk sampai kepada kedudukan yang dekat dengan Allah kecuali dengan sarana iman. Sebab, bagaimana mungkin orang yang menempuh jalan keimanan namun tidak mengetahui apa yang diimaninya dan siapa yang diimaninya itu.

Berhenti dari upaya untuk mengetahui sabar dan syukur itu sama saja dengan berhenti dari upaya untuk mengetahui apa yang diimani. Sabar dalam mendengarkan gangguan yang menyakitkan merupakan latihan jiwa. Bersabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan hati, termasuk derajat kesabaran yang paling tinggi, karena di sini, motif agama, motif hawa nafsu dan motif emosi bersatu bantu- membantu. Sabar adalah kata yang di gunakan untuk menyebut bertahannya motif agama dalam menghadapi motif hawa nafsu. Apabila takwa bertahan terus di dalam dada disertai kepercayaan kuat akan akibat yang baik di masa yang akan datang, maka akan menjadi mudahlah untuk menerapkan kesabaran itu dan akan muncul maqam ridha.

Mengingat nikmat merupakan sarana terbaik untuk bersyukur dan syukur itu di aplikasikan dengan ketaatan jiwa, ucapan dan perbuatan. Semua kebaikan, kesenangan dan kebahagiaan, bahkan semua yang di cari dan di sukai di namai nikmat. Namun nikmat yang sejati adalah kebahagiaan ukhrawi. Perkara-perkara yang bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti Ilmu dan akhlak mulia. Perkara-perkara yang berbahaya di dunia dan akhirat seperti kebodohan  dan akhlak tercela. Perkara-perkara yang bermanfaat untuk masa sekarang tetapi berbahaya untuk masa yang akan datang seperti bersenang-senang memperturutkan hawa nafsu dan perkara-perkara yang membahayakan dan menyakitkan untuk masa sekarang tetapi bermanfaat untuk masa yang akan datang seperti menahan hawa nafsu.

Ketahuilah, bahwa sarana-sarana duniawi itu bercampur aduk, kebaikan dan keburukannya berbaut menjadi satu. Jarang sekali kebaikan duniawi seperti harta, istri, anak, kerabat, kedudukan dan semua sarana duniawi lainnya yang tidak bercampur dengan keburukan. Akan tetapi, ia bisa di klasifikasi menjadi apa yang mengandung manfaat lebih banyak dari pada bahaya seperti harta, kedudukan dan semua sarana duniawi dalam takaran yang cukup, kemudian apa yang mengandung bahaya lebih banyak dari pada manfaat bagi kebanyakan manusia seperti harta dan kedudukan yang melebihi takaran kebutuhan, serta apa yang mengandung bahaya seimbang dengan manfaat.

 Banyak sekali orang sholeh mendapat manfaat dari hartanya yang banyak, sekalipun jumlah hartanya berlimpah, ia menginfakkan hartanya itu di jalan Allah dan memanfaatkannya untuk kebaikan-kebaikan. Dengan taufik Allah ini, maka hartanya yang banyak merupakan nikmat baginya. Sebaliknya, banyak juga orang yang mendapatkan bahaya dari hartanya yang sedikit, karena ia selalu menyepelekan hartanya, mengeluh maka dengan keadaan seperti itu, hartanya menjadi bencana baginya.

Infak itu mengandung obat, sedangkan menyimpan harta merupakan racun. Andaikata pintu mencari harta kekayaan itu di buka untuk manusia, niscaya mereka memburunya, cenderung kepada racun “menyimpan harta” serta membenci obat”infak”. Karena itulah harta di cela. Yang di maksudkan adalah celaan terhadap tindakan “menyimpannya” serta ketamakan terhadapnya untuk menumpuk-numpuknya dan berlebihan dalam menikmatinya, yang hanya akan menimbulkan dampak condong kepada dunia dan kelezatannya. Adapun mengambil harta sekedar yang di butuhkan, kemudian menggunakan kelebihan untuk kebaikan maka ini bukan sesuatu yang tercela.