Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan. Kedengkian dan kebencian. Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan sholat sesempurna mungkin, membekali diri dengan sholat-sholat sunah nafilah, berpegang teguh pada Al-qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Ketika musibah dan bencana datang silih berganti menimpa kita, berzikirlah kepada-Nya, sebutlah nama-Nya, mohonlah pertolongan dan mintalah jalan keluar dari-Nya. Berzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari berbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Zikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Bersabarlah karena Allah. Seberapa pun besar permasalahan yang kita hadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama dengan kesulitan dan dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit, ia akan menggonggong dan mengejar kita bila kita tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan kita berlalu di hadapannya dengan tenang, bila kita tak menghiraukannya atau kita berani memelototinya.

Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus di pelajari serta di tekuni. Maka sangatlah baik bila kita berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian dan kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik dari pada ia harus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam hidup ini?

Kita harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus di waspadai, karena ia dapat menyulut kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus begitu di perhatikan dan di tangisi ketika gagal di raih. Keindahan hidup di dunia ini sering kali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang dengan hartanya adalah orang yang paling merasa terancam dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang waktu yang pasti tiba.

Bawalah ambisi kita itu ke satu arah saja, yakni bertemu dengan Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisi-Nya. Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyuran, istana-istana, rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna.

Setiap kali raga menikmati kemewahan, ruh sebenarnya merasa tertekan. Dan dalam situasi yang serba kekurangan itu sebenarnya tersimpan keselamatan. Bersikap zuhud di dunia misalnya, ternyata merupakan kesenangan yang hanya akan diberikan Allah kepada hamba-hamba yang di sukai-Nya. Kehidupan kita adalah cermin dari apa yang kita pikirkan. Artinya, semua hal yang kita pikirkan dan kita hayati akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, baik ketika bahagia maupun sengsara.