Sakinah , Mawardah , Warahmah

Monthly Archives: Januari 2013

Rahmat yaitu suatu keadaan yang memerlukan sampainya manfaat dan maslahat kepada hamba, meskipun ia membencinya atau menderita karenanya. Inilah rahmat dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, orang yang paling mengasihimu (merahmatimu) adalah orang yang (menurut anggapanmu) menyusahkanmu karena ia berupaya keras menyampaikan maslahat kepadamu dan menolak bahaya darimu.

Maka dari itu, termasuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya adalah ia memaksa anak tersebut agar mencari ilmu dan mengamalkannya. Dan, untuk itu, terkadang anak itu menderita karena di pukul oleh ayahnya atau karena diberi tindakan lainnya. Orang tua itu melarang berbagai keinginan anaknya yang bias mendatangkan bahaya.

Diantara kesempurnaan rahmat Allah, Yang Maha Penyanyang di antara para penyayang adalah dengan menimpakan berbagai cobaan kepada hamba-Nya. Dia Maha Mengetahui tentang maslahat hamba-Nya. Maka, pemberian cobaan atasnya serta pelarangan-Nya dari menyalurkan berbagai syahwat dan keinginannya adalah termasuk rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Tetapi karena kebodohan dan kezalimannya, hamba itu berprasangka buruk atas ujian Tuhannya, ia tidak mengerti kebaikan Allah atasnya karena ujian dan cobaan yang ditimpakan-Nya. Ini adalah karena kesempurnaan rahmat-Nya atas hamba, bukan karena kebakhilan-Nya kepadanya. Betapa tidak, Dialah Dzat Yang Maha Pengasih dan Dermawan, yang memiliki segala bentuk kedermawanan.

Termasuk bentuk kasih sayang Allah terhadap para hamba-Nya yaitu:

  1. Ia memberi ujian berupa berbagai perintah dan larangan sebagai bentuk rahmat dan penjagaan, tidak karena suatu hajat, sehingga Ia memerintah kepada mereka, sebab Dia Maha Kaya dna Maha Terpuji. Dan apa yang dilarang-Nya bukanlah suatu bentuk kebakhilan dari pada-Nya, tetapi justru karena kedermawanannya.
  2. Ia menjadikan kehidupan ini tampak rumit dan keruh, sehingga manusia tidak betah di dalamnya, tidak merasa tenang tinggal di dalamnya.

Termasuk rahmat Allah atas segenab hamba-Nya adalah Ia memperingatkan mereka dari siksa-Nya, sehingga mereka tidak sombong. Allah berfirman:

“ Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)- nya. Dan Allah sangat penyanyang kepada hamba-hamba-Nya” (Ali Imran : 30)

Iklan

Hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorang pun tak akan bias selamat pada hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)

 

Ayat di atas adalah sepenggal do’a Nabi Ibrahim a.s. saat beliau beradu argumen dengan umatnya yang masih senang berkelindan dalam kekufuran. Beliau memohon kepada Alloh agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dihinakan pada hari kebangkitan karena kekafiran dan pembangkangannya kepada Alloh, Tuhan penguasa seluruh alam. Hari di mana segala ‘perhiasan’ dunia baik itu berupa harta, jabatan, derajat, nasab yang mulia, dan anak-anak tidak lagi ada nilainya. Hari dimana segala tebusan tidak lagi berguna. Hanya ada satu hal yang akan menyelamatkan dari kedahsyatan hari itu, yaitu hati yang bersih/selamat (qalbun salim).

Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh.

Orang yang mempunyai hati yang sehat, akal pikirannya pun jauh lebih jernih. Taka ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua, apalagi berfikir untuk menzalimi orang lain, sama sekali tak terlintas di benaknya. Tak berlebihan, jika orang yang seperti ini akan lebih mudah memahami tiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan dan lebih cerdas dalam melakukan berbagai aktivitas. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapa pun sekiranya memiliki hati yang sehat, karena selalu senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan , ketentraman, kesejukan dan indah hidup di dunia ini dan indah juga tiap aktivitas yang dilakukannya.

 

 

bahwa orang yang memiliki qalbun salim maka ia akan terhalangi dari sifat-sifat hati yang buruk seperti munafik, riya’, sombong, dengki, hasad dan seterusnya, dan sebaliknya dalam hatinya akan tumbuh subur sifat-sifat baik seperti sabar, tawadhu’,  jujur, pemaaf, penyantun dan sifat baik lainnya. Karena dalam satu hati tidak mungkin ada dua hal yang saling bertentangan bersemayam di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-ahzab [33]  ayat 4 yang artinya : “Alloh tidaklah sekali-kali menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. Jadi mustahil sifat-sifat baik dapat berkumpul dengan penyakit-penyakit hati, misalnya sombong dengan tawadhu’, kadzib dengan shiddiq, adil dengan dzalim. Sebagaimana mustahilnya bersatunya air dengan api.

 

Hidup ini Cuma sekali, dalam hidup ini kita tidak boleh gagal. Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).
Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!! Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan.

Hati yang sehat, memancarkan cahaya iman, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Walhasil orang yang memiliki hati yang sehat, adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan kearah kebaikan, tak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Pendek kata, orang yang memiliki hati yang sehat itu luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih? Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya, berhati busuk, semrawut dan kusut masai. Wajah bermuram durja kusam dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-kata bengis, kasar dan ketus.


Kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan yang merupakan penyakit hati, hal yang wajar terjadi pada setiap insan, selagi masih dalam batas-batas tertentu. Sebab seperti firman Allah SWT yang artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang–orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan shalatnya, dan orang–orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang– orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang–orang yang takut terhadap adzab Tuhannya ”. (Q.S. Al-Ma’aarij : 19-27)

 

Pada dasarnya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa dan zalim. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Jika sedang menghadapi sebuah kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ العَلِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Pemilik ‘arsy yang agung. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah pemilik langit, pemilik bumi dan pemilik ‘arsy yang mulia.” (HR. Bukhari no. 7426 dan Muslim no. 2730)

 

Sesungguhnya suatu penyakit dapat disembuhkan dengan lawannya dan kesehatan dapat dijaga dengan padanannya. Semua penyakit hati bersumber dari rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia, hati kosong dari Allah dan dipenuhi kesenangan dunia, maka obat yang paling mujarab satu-satunya adalah lawan dari cinta dunia yaitu qana’ah dalam menghadapi hidup ini. Setiap insan yang memiliki hati yang qana’ah, maka rasa gelisah, sedih dan susah dapat berkurang karena keyakinannya pada Allah dan hari akhirat. Akhir setiap kegelisahan, kegembiraan. Kekayaan, kefakiran, kesulitan, kemudahan, sakit dan lapar adalah mati. Cara lain untuk mengatasi kegelisahan, manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana yang diperitahkan oleh Tuhan.

 

Beberapa obat kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan adalah:

  1. Dengan tauhid ar-rububiyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang melindungi, memelihara dan menjaga makhluknya}.
  2. Dengan tauhid al-uluhiyyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang harus di takuti dan disembah}.
  3. Mengesakan Allah, dengan keyakinan yang kuat dan pemahaman yang benar.
  4. Menyucikan Allah dari anggapan bahwa Allah berlaku aniaya terhadap hambaNya
  5. Pengakuan seorang hamba bahwa ia adalah orang yang zalim
  6. Bertawasul kepada Tuhan dengan sesuatu yang paling dicintai-Nya yaitu dengan menggunakan nama-nama dan sifay-Nya. Dan diantara nama-nama dan sifat yang paling mencakupnya adalah Al-Hayya Al- Qayyum { Allah adalah Dzat yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhlukNya }.
  7. Hanya meminta pertolongan kepada-Nya
  8. Pengakuan hamba kepada-Nya bahwa ia mengharapkan anugerah-Nya
  9. Membuktikan tawakkal kepada-Nya, menyerahkan segala persoalan kepada-Nya dan mengakui bahwa nasibnya berada dalam kekuasaan-Nya.
  10. Hendaknya ia menyejukkan hatinya dalam taman-taman Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an bagi hatinya seperti musim semi yang menyegarkan semua hewan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi kegelapan nafsu syahwat dan kezaliman. Menjadikannya sebagai penghibur dari setiap kesusahan, sebagai pelipur setiap bencana dan sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang menghinggapi jiwanya. Sehingga Al-Quran ini menjadi pembebas kesusahan dan penyembuh kegelisahan dan kegalauannya.
  11. Selalu membaca istigfar.
  12. Bertaubat
  13. Berjihad
  14. Sholat dan berdoa
  15. Berbaik sangka pada Allah.

 

 


Iklan