Sakinah , Mawardah , Warahmah

Category Archives: Cool!

Tidak berkumpul rasa bertuhan dan rasa cinta dunia dalam fitrah manusia dalam waktu yang sama. Kalau datang satu, yang satunya akan lenyap. Sucinya fitrah ini karena adanya rasa bertuhan. Apabila fitrah telah dirusak oleh dunia, ia akan jauh dari Tuhan.

Jika seorang hamba setiap pagi dan sorenya, tidak ada lagi yang menjadi buah pikirannya selain Allah, maka niscaya Allah akan menanggung semua kebutuhannya dan memenuhi segala apa yang menjadi angan-angannya. Membersihkan hatinya sehingga dapat mencintaiNya.Membersihkan lidahnya sehingga dapat selalu berzikir padaNya, Membimbing jiwanya sehingga dapat senantiasa mentaatiNya.

Tapi jika setiap pagi dan sorenya yang menjadi buah pikirannya adalah keduniaan, maka Allah akan mengantarkan kesusahan, kedukaan dan kepelikan serta membebankan kepada dirinya. Sehingga hatinya menjadi sibuk dengan urusan – urusan tersebut dan sulitlah baginya untuk memperoleh kesempatan mencintai Allah karena terlalu banyak mencintai ciptaanNya. Lidahnya tidak sempat berzikir kepada Allah karena terlalu sibuk bekerja mati-matian untuk yang lain.

” Kita keluar dan berjalan, untuk memenuhi kebutuhan, sebenarnya kebutuhan orang yang hidup tidak pernah habis, matinya seseorang dengan berhentinya memenuhi kebutuhan, dan kebutuhannya masih tetap ada seperti dulu”.

Nafsu yang sifatnya jahat dan rakus itu, tidak pernah puas mengejar dan memburu dunia. Dia berebut-rebut menekan dan menindas untuk mendapatkan sebanyak mungkin dunia, dia tidak ubah seperti “Anjing yang merebut bangkai”. Hendak mendidik nafsu bukan mudah, nafsu tidak takut pada makhluk. Membuang rasa cinta dunia tidaklah mudah, karena rasa bertuhan tidak akan menyerap ke dalam hati yang ada penyakit hati. Rasa cinta pada Tuhan akan mendorong nafsu supaya tenang dan jinak, maka selamatlah kehidupan kita dunia akhirat.

Iklan

Hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorang pun tak akan bias selamat pada hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)

 

Ayat di atas adalah sepenggal do’a Nabi Ibrahim a.s. saat beliau beradu argumen dengan umatnya yang masih senang berkelindan dalam kekufuran. Beliau memohon kepada Alloh agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dihinakan pada hari kebangkitan karena kekafiran dan pembangkangannya kepada Alloh, Tuhan penguasa seluruh alam. Hari di mana segala ‘perhiasan’ dunia baik itu berupa harta, jabatan, derajat, nasab yang mulia, dan anak-anak tidak lagi ada nilainya. Hari dimana segala tebusan tidak lagi berguna. Hanya ada satu hal yang akan menyelamatkan dari kedahsyatan hari itu, yaitu hati yang bersih/selamat (qalbun salim).

Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh.

Orang yang mempunyai hati yang sehat, akal pikirannya pun jauh lebih jernih. Taka ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua, apalagi berfikir untuk menzalimi orang lain, sama sekali tak terlintas di benaknya. Tak berlebihan, jika orang yang seperti ini akan lebih mudah memahami tiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan dan lebih cerdas dalam melakukan berbagai aktivitas. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapa pun sekiranya memiliki hati yang sehat, karena selalu senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan , ketentraman, kesejukan dan indah hidup di dunia ini dan indah juga tiap aktivitas yang dilakukannya.

 

 

bahwa orang yang memiliki qalbun salim maka ia akan terhalangi dari sifat-sifat hati yang buruk seperti munafik, riya’, sombong, dengki, hasad dan seterusnya, dan sebaliknya dalam hatinya akan tumbuh subur sifat-sifat baik seperti sabar, tawadhu’,  jujur, pemaaf, penyantun dan sifat baik lainnya. Karena dalam satu hati tidak mungkin ada dua hal yang saling bertentangan bersemayam di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-ahzab [33]  ayat 4 yang artinya : “Alloh tidaklah sekali-kali menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. Jadi mustahil sifat-sifat baik dapat berkumpul dengan penyakit-penyakit hati, misalnya sombong dengan tawadhu’, kadzib dengan shiddiq, adil dengan dzalim. Sebagaimana mustahilnya bersatunya air dengan api.

 

Hidup ini Cuma sekali, dalam hidup ini kita tidak boleh gagal. Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).
Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!! Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan.

Hati yang sehat, memancarkan cahaya iman, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Walhasil orang yang memiliki hati yang sehat, adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan kearah kebaikan, tak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Pendek kata, orang yang memiliki hati yang sehat itu luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih? Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya, berhati busuk, semrawut dan kusut masai. Wajah bermuram durja kusam dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-kata bengis, kasar dan ketus.


Kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan yang merupakan penyakit hati, hal yang wajar terjadi pada setiap insan, selagi masih dalam batas-batas tertentu. Sebab seperti firman Allah SWT yang artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang–orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan shalatnya, dan orang–orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang– orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang–orang yang takut terhadap adzab Tuhannya ”. (Q.S. Al-Ma’aarij : 19-27)

 

Pada dasarnya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa dan zalim. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Jika sedang menghadapi sebuah kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ العَلِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Pemilik ‘arsy yang agung. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah pemilik langit, pemilik bumi dan pemilik ‘arsy yang mulia.” (HR. Bukhari no. 7426 dan Muslim no. 2730)

 

Sesungguhnya suatu penyakit dapat disembuhkan dengan lawannya dan kesehatan dapat dijaga dengan padanannya. Semua penyakit hati bersumber dari rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia, hati kosong dari Allah dan dipenuhi kesenangan dunia, maka obat yang paling mujarab satu-satunya adalah lawan dari cinta dunia yaitu qana’ah dalam menghadapi hidup ini. Setiap insan yang memiliki hati yang qana’ah, maka rasa gelisah, sedih dan susah dapat berkurang karena keyakinannya pada Allah dan hari akhirat. Akhir setiap kegelisahan, kegembiraan. Kekayaan, kefakiran, kesulitan, kemudahan, sakit dan lapar adalah mati. Cara lain untuk mengatasi kegelisahan, manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana yang diperitahkan oleh Tuhan.

 

Beberapa obat kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan adalah:

  1. Dengan tauhid ar-rububiyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang melindungi, memelihara dan menjaga makhluknya}.
  2. Dengan tauhid al-uluhiyyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang harus di takuti dan disembah}.
  3. Mengesakan Allah, dengan keyakinan yang kuat dan pemahaman yang benar.
  4. Menyucikan Allah dari anggapan bahwa Allah berlaku aniaya terhadap hambaNya
  5. Pengakuan seorang hamba bahwa ia adalah orang yang zalim
  6. Bertawasul kepada Tuhan dengan sesuatu yang paling dicintai-Nya yaitu dengan menggunakan nama-nama dan sifay-Nya. Dan diantara nama-nama dan sifat yang paling mencakupnya adalah Al-Hayya Al- Qayyum { Allah adalah Dzat yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhlukNya }.
  7. Hanya meminta pertolongan kepada-Nya
  8. Pengakuan hamba kepada-Nya bahwa ia mengharapkan anugerah-Nya
  9. Membuktikan tawakkal kepada-Nya, menyerahkan segala persoalan kepada-Nya dan mengakui bahwa nasibnya berada dalam kekuasaan-Nya.
  10. Hendaknya ia menyejukkan hatinya dalam taman-taman Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an bagi hatinya seperti musim semi yang menyegarkan semua hewan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi kegelapan nafsu syahwat dan kezaliman. Menjadikannya sebagai penghibur dari setiap kesusahan, sebagai pelipur setiap bencana dan sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang menghinggapi jiwanya. Sehingga Al-Quran ini menjadi pembebas kesusahan dan penyembuh kegelisahan dan kegalauannya.
  11. Selalu membaca istigfar.
  12. Bertaubat
  13. Berjihad
  14. Sholat dan berdoa
  15. Berbaik sangka pada Allah.

 

 


Cerdasnya orang yang beriman adalah dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup. Tidak pernah ada kata gagal bagi setiap muslim yang tawwakal yang ada adalah keberhasilan yang diberikan Allah berbeda dengan yang kita inginkan tidak semua yang menurut kita baik, baik juga menurut Allah.

Biarlah masa lalu kita menjadi sekedar guratan kehidupan, meski membekas, namun tak membuat kita rapuh akan masa yang kan datang. Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Memikirkan masa lalu  adalah kebodohan dan kegilaan . Ibaratnya orang yang menumbuk tepung ,yang menggergaji serbuk kayu dan mengeluarkan mayat dari kuburan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Untuk masa lampau, cukuplah kita mengambil perjalanan dan pelajaran dari setiap peristiwa dan kejadian. Memiliki kesalahan adalah wajar, yang sama sekali tidak memiliki salah adalah tidak wajar. Kesalahan dan kegagalan adalah hal yang wajar dan itu adalah hak bagi setiap orang yang sedang dalam proses belajar. Jika tidak mau berkorban, jangan harap menjadi lebih baik. Jadi pengorbanan kita bukan untuk membayar kegagalannya namun untuk membayar proses belajarnya.

Hidup kita sesungguhnya bak sebuah rekening bank waktu.

Hargailah setiap detik yang kita miliki.

Kemaren adalah sejarah.

Besok masih misteri

Hari ini adalah sebuah anugerah.

Waktu bukan hanya uang.

Tapi waktu adalah nyawa kita.

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. Kesalahan adalah batu loncatan untuk sukses. Tidak ada sukses tanpa perjuangan. Sukses merupakan hasil dari proses panjang yang berbuah manis pada akhirnya.

Jadikanlah sejarah hidup kita sebagai pelajaran dan landasan evaluasi untuk melakukan yang lebih baik untuk hari-hari berikutnya. Kita semua pun tahu bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. The experience is the best teacher, begitu kata pepatah. Namun, banyak dari kita yang terlalu terpaku dengan masa lalu. Ada yang merasa masa lalunya indah, sehingga enggan untuk melakukan perubahan. Inilah yang akan membuatnya berada pada posisi yang sama, cukup dengan apa yang telah ia miliki dan ialah orang-orang yang merugi. Namun, ada juga yang merasa masa lalunya kelam. Ia pun frustasi, terlarut dalam penyesalan dan tidak berfikir untuk berubah. Ia tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang ia inginkan. Ia akan terus menyesal dan menyesal. Ambillah hikmah dari setiap scene kehidupan yang telah kita lewati, berusaha dan terus berusaha.


Iklan