Sakinah , Mawardah , Warahmah

Tag Archives: ALLAH

Barangsiapa ridha dengan apa yang Allah bagikan maka pasti dia bersyukur dan Allah akan menambahkannya dan barangsiapa yang benci dengan apa yang Allah bagikan maka hal itu akan mendatangkan kemurkaan dari Allah. (Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur){QS. Al-A’raf:144}

Sesungguhnya Allah menguji hamba-Nya dengan apa yang Allah bagikan kepadanya, niscaya ia diberi berkah dan diperlukannya. Sebaliknya bila ia tidak ridha, niscaya Dia tidak (sudi) memberi berkah kepadanya dan tidak (mau) menambah atas apa yang telah dia tentukan untuknya (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Allah ridha pada orang yang ridha dan barangsiapa yang benci pada-Nya maka Allah juga benci padanya. Dia malu pada orang yang malu pada-Nya dan akan berpaling dari orang yang berpaling dari-Nya dan member perlindungan kepada orang yang berlindung pada-Nya dan akan berlari pada orang yang berlari pada-Nya.

Ridha berarti ikhlas menerima apa pun ketentuan Allah. Allah sendiri tidak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Apa yang Allah tentukan bagi manusia selalu memiliki hikmah atau tujuan. Orang yang ridha akan bersyukur. Dan, janji Allah bagi orang yang bersyukur adalah akan menambah rezeki itu. Sebaliknya, bagi yang tidak bersyukur (kufur), Allah akan menghukumnya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)

Imam Ali berkata,” Barangsiapa merasa cukup dengan bagian yang telah Allah berikan kepadanya, maka dia adalah manusia yang paling kaya.” Imam Ali juga berkata,” Merasa ridha dengan ketetapan yang tidak disukai adalah setinggi-tingginya derajat iman.” Terima dengan ridha apa yang Allah bagikan kepada kita, niscaya kita  jadi kaya. Dan bertawakkallah kepada Allah, niscaya kita  jadi kuat.

Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata: “Tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia. Dan tidaklah ia merusak hubungan antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan merusak hubungan antara dirinya dengan manusia. Sungguh, mencari keridhoan satu orang itu lebih mudah daripada mencari keridhoan semua orang. Dan kalau engkau mencari keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semua orang akan ridho kepadamu. Namun kalau engkau merusak hubungan antara dirimu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semua orang akan benci terhadapmu.”

Allah memuji orang-orang yang fakir yang menjaga kehormatan imannya, dan tidak mau merendahkan diri dengan meminta-minta. Mereka sangat ridha dengan sedikit yang mereka miliki sampai orang yang tidak tahu benar siapa mereka sama-sama menyangka bahwa mereka kaya, karena tidak ada tanda-tanda mereka miskin. Maka, Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar membantu mereka tanpa mereka meminta.

Tuhan telah menetapkan takdir-takdir bagi hamba-hambaNya dan takdir-takdir ini terkadang sejalan dengan keinginan mereka dan terkadang bertentangan dengan apa yang mereka harapakan. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan adalah hendaklah hamba-hambaNya ridha dengan apa yang telah ditetapkan dan rela dengan qadha yang telah ditetapkan olehNya serta selalu mendahulukan ridho Tuhan di atas ridha mereka. Oleh karenanya tahapan yang peling penting dari keimanan adalah ketika manusia berhadapan dengan ketentuan-ketentuan walaupun itu tidak diinginkannya, tidak sekedar sabar akan tetapi dia ridho dengannya. Oleh karenanya Tuhan berfirman: “Amalan yang paling dicintai olehku adalah tawakkal dan setelah itu keridhoan dengan apa yang telah aku takdirkan”. Ini artinya bahwa ridho lebih tinggi dari tawakkal; tawakkal berarti bahwa manusia hanya kepada Tuhan meminta pertolongan dan hanya kepadaNya ia menyimpan harapan dan ini adalah isti’anah billah:

“Barangsiapa mencari ridha Allah dengan menyebabkan murka manusia, maka Allah akan membuatnya tidak butuh terhadap pertolongan manusia. Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan menyebabkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia murka pula kepadanya.” (HR. Tirmidzi, Silsilah Ash Shahihah: 2311)

Manusia dalam kehidupanya jangan sekali-kalimerasa kecewa akan tetapi hendaklah dia selalu bahagia dan rela dan menjalankan tugas-tugasnya, menyembah Tuhannya serta ridho dengan apa yang akan terjadi. Sementara orang belum sampai kepada ‘maqom ridho’, mereka akan menderita dan kecewa dengan segala kesulitan dan kesusahan bahkan mereka akan menuntut Tuhan atas apa yang terjadi. Bahwa manusia hendaklah hanya berharap kepada Tuhan dalam perbuatan dan kehidupan mereka dalam rangka meraih kesempurnaan. Hendaklah mereka hanya bertumpu kepada pertolongan ilahi pada saat yang sebaik mungkin mereka mengamalkan tugas-tugasnya dan tidak pernah berhenti untuk berusaha serta tidak bertumpu kepada amal-amal yang dilakukannya. Sebab amal-amal kita tidak akan setingkat dengan pahala-pahala dan kenikmatan-kenikmatan ilahi dimana jika kita hendak menghitung dengan detail amal-amal kita, akan sampai kepada kesimpulan bahwa dengan amal-amal yang dilakukan kita tidak berhak terhadap sesuatu dan hanya rahmat dan kebaikan Tuhanlah yang melingkupi kita.

Iklan

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman:29)

Seorang ulama pernah berkata:”Maksud dari kalimat: “Setiap hari Dia dalam kesibukan,”adalah bahwa Dia mengampuni dosa, menyibakkan mendung kesulitan, mengangkat beberapa kaum dan menjatuhkan yang lain.

Kesusahan itu,tekanlah kuat-kuat,

Karena akan memberikan jalan keluar.

Malam telah menyeru sang fajar untuk terbit,

Ada awan, namun akan segera lenyap.

Tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu selain Allah (QS. An-Najm:58)

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir,kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru,”Ya Allah”

Ya Allah, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu, bimbinglah sesatnya perjalanan ini kearah jalan-Mu yang lurus dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru,”Ya Allah”

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikanlah kesedihan itu awal kebahagiaan dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panic dan menyeru,”Ya Allah”

Ya Allah ,sirnakan dari kami rasa sedih dan duka dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua

Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedy terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru,”Ya Allah”

Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup dan jiwa terasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus kita pikul, menyerulah,”Ya Allah”

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran


Jika Allah memberi rezeki kepada kita, maka tak ada seorangpun yang mampu menahannya, tetapi jika Allah belum memberi rezeki kepada kita, walaupun kita sudah kerja keras tidak kenal lelah maka rezeki itu tidak akan datang kepada kita. Rezeki itu di tangan Allah dan datangnya dari Allah, bukan dari yang lain. Kenapa masih ada diantara kita yang mencari rezeki dengan cara yang tidak benar ataupun caranya sudah benar tetapi mencari rezekinya dengan menghabiskan waktunya siang dan malam, sehingga lupa akan tujuan dia diciptakan untuk mengabdi pada Allah. Umurnya dihabiskan secara sia-sia dengan ambisi mencari rezeki, yang sebenarnya rezeki telah dijamin dan dibagi-bagikan Allah SWT. Padahal seseorang tidak mendapatkan rezeki melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Sesungguhnya rezeki Allah SWT tidak dapat ditentukan oleh ambisi seseorang (rezeki) tidak dapat pula ditolak walaupun seseorang membencinya.

Hanya dengan mendekatkan diri pada Allah maka rezeki kita akan terbuka, karena Allah sendiri yang menyuruh kita untuk meminta kepada Allah bukan kepada yang lain. Sebagai orang yang beriman haruslah kita yakin bahwa hanya dengan melalui jalan yang benar sajalah akan didapat rezeki yang berkah. Maka dari itu hendaknya kita mencari rezeki harus mengikuti akhlak yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya yaitu pertama, Niat yang benar, sebagai seorang muslim dalam melakukan seluruh aktivitas termasuk mencari rezeki hendaknya secara ikhlas yakni semata-mata karena Allah. Ikhtiar secara benar artinya kita harus mendahulukan Allah dan mengistimewakan Allah dalam segala hal, sehingga kita tidak akan pernah menjadi budaknya dunia, intinya adalah memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Niat mencari rezeki karena ibadah artinya didalam kita sedang bekerja apakah kita tetap menomorsatukan Allah dalam kondisi apapun, contohnya jika azan telah berkumandang dan kita sedang meeting dengan rekan bisnis, apakah kita sanggup menghentikan meeting atau pura-pura tidak mendengarkan panggilan Allah. Harus disadari bahwa yang dilihat oleh Allah adalah bagaimana kita melakukan aktivitas mencari rezeki bukan seberapa banyak rezeki yang kita dapat dari suatu aktivitas yang kita lakukan. Kedua, tidak menzalimi, ketiga bersyukur, setelah rezeki itu ada ditangan seseorang harus yakin bahwa semuanya itu semata-mata hanya anugerah Allah.

Kita harus yakin dan menyadari bahwa rezeki apapun yang kita peroleh atas karunia dan kemurahan Allah semata, bukan atas jerih payah dan kepandaian kita. Yang demikian itu karena Allah telah menentukan jatah rezeki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya. Dengan demikian seharusnya kita tidak perlu terlalu memikirkan urusan rezeki karena setiap kita sudah dijatah masing-masing rezekinya, tidak meleset sedikitpun dan tidak tertukar oleh siapapun serta tidak berkurang sama sekali. Kita harus sadar bahwa tujuan kita didunia ini bukan mencari apapun yang berhubungan dengan dunia (sesuap nasi) tetapi tugas kita hanya satu yakni”Untk beribadah kepada Allah”.Jadi yang permasalahan sebenarnya bukan urusan rezeki karena urusan rezeki adalah urusan Allah, urusan kita adalah mengabdi pada Allah, lakukan yang terbaik untuk Allah agar Allah ridha pada kita. Allah yang mengatur rezeki untuk kita karena Allah yang lebih tahu seluruh kebutuhan-kebutuhan kita dari pada kita sendiri, Tapi yang kita inginkan adalah bagaimana menjemput keridhaan Allah dan memperbaiki hubungan kita denganNya.

Saudaraku……betapa seringnya kita merasa galau, risau dan panic dalam urusan kehidupan ini. Tapi percayalah bahwa tidak ada satupun makhluk melata didunia ini kecuali Allah sudah menjamin rezeki untuk mereka. Allah mempersiapkan rezeki untuk kita, jauh sebelum kita membutuhkannya, oleh karena itu mengapa kita mesti harus gelisah dan cemas menghadapi masa depan yang masih ghaib. Apa yang akan kita makan, Allah sudah mempersiapkannya sudah lama, maka dari itu janganlah kita pernah merasa bahwa Allah menyia-nyiakan hidup kita dan tak menjaminnya. Asalkan kita menjadi hambaNya, maka Dia akan terus menjamin penghidupan kita.


Masalah hidup adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia seperti masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar ataupun masalah-masalah lain. Tidak ada seorangpun yang terhindar dari masalah. Semua masalah-masalah itu bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong dan lemah karena pada dasarnya manusia adalah sosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan, ini merupakan sudah menjadi fitrah bagi setiap insan.

Sekecill apapun masalah yang kita hadapi, jangan dianggap enteng. Kalau tidak segera diatasi, problem tersebut sedikit demi sedikit akan berubah menjadi beban yang dapat merusak kesehatan dan apabila ditumpuk maka akan sulit diatasi. Pada mulanya beban yang dihadapi seseorang sangat ringan akan tetapi jika tidak segera diatasi sedikit demi sedikit bebannya menjadi bukit, sehingga menjadi benang kusut, tidak diketahui awal dan akhirnya. Beban ini kemudian menjadi kesusahan yang menghimpit, kesedihan yang meliputi dan mengganggu tidur. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan maka hadapkanlah semua itu kepada Allah SWT. Allah berfirman,” Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami.” (QS At-taubah 40).

Ketika menghadapi suatu masalah, jangan menumpuk masalah tersebut tetapi carilah solusinya dengan mengadukan semua masalah tersebut pada Allah dengan sabar dan sholat. Hadapilah setiap masalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya. Ketika menghadapi berbagai masalah maka hal yang harus kita lakukan adalah mengadukan kepada Allah SWT karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap masalah, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh dan keluhan itu hanya kita adukan pada Allah semata, maka semua itu dapat meringankan beban berat yang selama ini kita derita. Allah sudah mengingatkan hambaNya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari, “Hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami minta pertolongan” (Qs Al-Fatihah 5).

Bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi masalah? Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran atas apa yang telah kita lakukan sebelumnya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita. Ketika permasalah datang menghampiri, jangan mengeluh dihadapan sang Pencipta, jangan memberontak akan keputusanNya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun mintalah agar diberi kesabaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita dan selalu mengharapkan ganjaran pahala untuk kita.

Berpikir positiflah dalam menghadapi masalah karena dengan berpikir positif maka segala bentuk kesusahan yang ada di dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap dan keyakinan bahwa segala kesusahan yang dihadapi pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagaimana firmanNya,”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”(Qs Al-Insyirah 5-6). Segala masalah yang dihadapi akan membuat jiwa lebih tenang jika kita senantiasa mengingat Allah dalam segala hal yang kita kerjakan. Dan sudah merupakan janji Allah bagi siapa saja yang mengingatNya, maka di dalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingatNya. Sebagaimana firmanNya,” Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnahNya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa dan jika keluhan yang kita ikuti sengsara masalah akan selalu bertambah. Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci dan dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Disaat kita mencari solusi dalam suatu masalah, disaat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa dan tanpa masalah juga kita takkan menjadi orang yang luar biasa


Iklan