Sakinah , Mawardah , Warahmah

Tag Archives: Kebahagiaan

Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan kebahagiaan. Tidak di ragukan lagi bahwa sesuatu yang berada di lingkungan kita, berpengaruh terhadap kebahagiaan kita. Akan tetapi sebab kebahagiaan itu tidak berasal dari luar. Namun tergantung pada cara kita menyikapi factor-faktor eksternal tersebut. Para psikologi menegaskan, kebahagiaan yang hakiki adalah berasal dari dalam diri manusia.

Kebahagiaan yang di ukur dengan materi, hanya akan menimbulkan angan-angan hampa yang melelahkan pikiran. Orang yang mengaitkan kebahagiaan pada pencapaian materi, lama kelamaan akan merasa bosan. Karena mereka akan sadar bahwa kebahagiaan yang mereka impikan hanya bersifat semu, padahal mereka telah mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.

Sebagai contoh, banyak orang yang ingin mendiami rumah megah, mengendarai mobil mewah atau mengantongi uang banyak, dengan semua itu mereka berharap dapat menemukan kebahagiaan. Ketika mereka mendapatkannya, mereka tidak serta merta puas dan merasa cukup, bahkan memulai lagi dengan menggantung kebahagiaannya kepada sesuatu yang lebih besar lagi.

Harta yang di kejar-kejar oleh manusia dan menggantungkan kebahagiaan terhadap pencapaian kepadanya, bukanlah jaminan kebahagiaan. Betapa banyak orang kaya hidup dalam kesengsaraan, tetapi orang sengsara hidup dalam ketenangan. Tidak ada perbedaan antara kebahagiaan orang kaya dengan orang fakir. Kegembiraan orang kaya dengan mampu membeli mobil mewah, sama dengan kegembiraan orang miskin karena mampu membeli sepeda motor biasa.

Orang yang bertaqwa itulah, orang yang hidupnya bahagia. Dengan demikian sumber kebahagiaan berasakl dari dalam diri seseorang. Disaat ia mampu berpikir positif, beriman kepada takdir Allah, rela dengan apa yang Allah berikan kepadanya, bersikap realistis dalam memandang sesuatu dan supel bergaul dengan orang lain. Maka pada saat itulah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan.

Adapun orang yang menggantungkan kebahagiaan dan ketenangan jiwanya pada hal-hal yang berasal dari luar, sungguh ia telah menggantungkannya dengan hal-hal yang mustahil. Mereka mengubah kehidupannya sehingga penuh dengan siksa dan derita. Ia akan menjadi orang yang mudah terbawa arus dan rakus. Ia merasa bahwa apa yang dimiliki orang lain lebih sempurna dari pada miliknya, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Ia menganggap nikmat Allah kepadnya sedikit, walaupun sebenarnya banyak. Ia mencari kebahagiaan di mana-mana, sedangkan kebahagiaan jelas ada di sisinya dan di bawah telapak tangannya, akan tetapi ia tidak merasakan dan tidak menyadarinya.

Mengapa orang kaya tidak mampu menemukan kebahagiaan? Jawabannya simple yaitu karena mereka tidak beriman kepada Allah. Padahal Allah telah menjamin bagi orang yang beriman kepadanya kehidupan yang baik dan bahagia. Sebagaimana yang di sebutkan dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Dalam ayat lain, Allah menjanjikan kebahagiaan kepada orang-orang yang beriman: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-An’am 82) dan firmannya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97).

Akan tetapi mereka menggantikan kebahagiaan hakiki dengan kebahagiaan dunia yang semu dan sementara. Otak mereka penuh dengan pikiran-pikiran sesat dan materialis , sehingga mereka kehilangan nilai-nilai spritual dan dasar-dasar moral. Sesuatu yang tidak di benarkan oleh akal dan agama, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan alasan modernisasi, mereka menghancurkan nilai –nilai spritual dan dasar-dasar moral. Seperti pemikiran tentang kebebasan dan persamaan hak, yang sebenarnya kedok untuk memperbolehkan melakukan segala sesuatu dan menghalalkan segala cara.

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai bagian dari penghuni surge, sebagai hamba yang pandai bersyukur atas nikmat-Nya, sabar atas keputusan-Nya, dan Kami meminta kepadaNya ampunan di dunia dan akhirat.

Iklan

Semua orang ingin bahagia. Adakalanya menempuh jalan sulit dan harga mahal untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi bahagia yang ia dapatkan hanya sesaat. Padahal, semuanya ingin mendapatkan kebahagiaan tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Di sana, terdapat orang kaya, dengan harta yang berlimpah, tetapi ia tidak menikmatinya dan tidak menyisihkan sedikit pun dari hartanya untuk orang lain. Dan disana, ada orang fakir, dengan harta yang sedikit, tetapi ia memberikan hadiah kepada kita dengan hadiah yang mahal harganya. Ia mengambilnya dari kebutuhan hidupnya yang paling pokok.

Di kala kita melihat keduanya, siapakah diantara keduanya yang paling kaya?

Sesungguhnya, dalam kehidupan ini terdapat orang-orang yang selalu menaungi perjalanan umur mereka dengan hasrat dan ambisi. Ia tidak pernah merasa puas dan berhenti dalam batas tertentu. Meskipun demikian, ia tidak pernah mampu mengecap arti kebahagiaan dan ketenangan. Ia tidak pernah mampu menikmati buah dari kelelahan yang mereka curahkan. Mereka adalah orang-orang yang gemar mengumpulkan, tapi tidak pernah di karunia kepuasan. Sungguh, apa yang mereka lakukan tidak akan cukup merealisasikan kebahagiaan dan ketenangan. Mereka akan selalu diliputi kekacauan pikiran. Kehidupan mereka di habiskan untuk menjaga kekayaan mereka tersebut, padahal harta tersebut tidak pernah menjaga mereka. Kekacauan pikiran yang mereka rasakan akan menjadikan kenikmatan mereka sirna dan diganti dengan penderitaan. Dunia mereka akan di penuhi dengan perasaan takut dan kesedihan.

Sesungguhnya, kehidupan kita selalu bersimbah dengan berbagai kepenatan dan ujian-ujian yang berat. Dalam medan seperti ini. Diri kita selalu berjuang agar bisa meraih kebahagiaan. Kebahagiaan yang ditunggu adalah kebahagiaan sebagai seorang pemenang sejati. Perangilah hawa nafsu dengan penuh kelembutan, agar kita merasakan sebuah kebahagiaan yang sempurna.

Berbuat baik untuk dan kepada orang lain merupakan jalan lebar menuju kebahagiaan. Orang yang senang melakukan kebaikan, takkan pernah menyesal meski sangat banyak kebaikan yang telah dikerjakannya. Tetapi ia justru akan menyesal manakala melakukan kesalahan, meski hanya sebuah kesalahan kecil.

“Tidak kenyang-kenyangnya orang yang beriman dari berbuat kebaikan, hingga dia berhenti di jannah.”(HR. Tirmidzi). Kebaikan itu akan berbuah kebahagiaan, juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah di dunia. Dan puncaknya adalah dijauhkan dari neraka, kesempitan yang paling berat dan penderitaan yang paling dahsyat.

“ Ya Allah, anugerahkanlah kesabaran dan kemampuan kepada kami untuk rela dengan segala yang sudah tersurat.”

Ya Allah, anugerahkanlah keberanian dan kekuatan kepada kami untuk mengubah segala sesuatu yang kami mempunyai kemampuan terhadapnya.

Ya Allah, anugerahkanlah kami ketepatan dan hikmah untuk bisa membedakan antara ini dan itu.

 

 


Jangan memaksakan diri untuk hidup bergelimang harta karena harta tidak akan kita bawa mati dan justru bisa membawa malapetaka bagi kita jika tidak dapat mengaturnya dengan baik. Hidup penuh kesederhanaan walaupun kaya raya tanpa pamer dan gengsi adalah yang terbaik. Mensyukuri apa yang telah kita dapati juga menjadi kunci sukses. Jangan lupa beramal baik dengan mengeluarkan kelebihan harta kita untuk orang yang membutuhkan. Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara yang lainnya harus mati dan fana. Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada. Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yang ada.

Upaya pertama dan utama serta sungguh-sungguh yang harus dilakukan manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia adalah upaya “menyembah Allah.” Tujuan hidup kita sesungguhnya adalah semata-mata memenuhi keinginan Allah Yang Maha Pemurah, namun sebagian umat muslim tidak menyadari keinginan Allah. Padahal Allah sudah jelas menyampaikan dalam firmannya yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56). “Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)

Salah satu kunci kebahagiaan hakiki orang-orang beriman adalah totalitas penyerahan diri kepada Allah SWT, yang membawa mereka lebih dekat dan pasrah kepadaNya dalam situasi apapun dan itu membuat mereka selalu merasa tenang dan bahagia. Allah telah memberi tahu bahwa kalau manusia bersandar (berserah) kepadaNya, berarti berada pada jalan yang lurus, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 ). Allah mengatakan jika manusia mengikuti jalan yang lurus maka manusia merupakan bagian dari manusia yang telah diberi ni’mat sebagai contoh kebahagian dalam melakukan  perjalanan di dunia.

Sebagai seorang mukmin yang telah bersandar pada Allah, Allah memberikannya kebahagiaan dengan memenuhi segala kebutuhannya dalam perjalanannya di alam dunia ini.  “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka”. (QS Al Thalaq : 2). Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3). Jadi sebenarnya manusia tidak perlu bingung, khawatir, bimbang, gelisah akan kebutuhannya dalam perjalanan di alam dunia karena Allah yang akan mencukupinya.

Setelah upaya kita berserah diri kepada Allah adalah upaya menjalankan “pilihan” Allah, secara  ikhlas/rido, sabar , istiqomah, profesional dan diakhiri dengan tawakal. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan“. (QS Qashash : 68). Jadi kelirulah ungkapan orang pada umumnya bahwa “hidup adalah pilihan kita (manusia)”.   Hidup bukan pilihan kita ! Pilihan kita semata-mata hanyalah “beribadah / menyembah kepada Allah”.

Kebahagian hakikii adalah menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui ”pilihan” Allah, jalan satu-satunya adalah mendekat kepada Allah, mengenal Allah (ma’rifatullah) atau terhubung (wushul) dengan Allah. Syarat untuk mengenal Allah atau terhubung dengan Allah adalah manusia harus dalam keadaan suci dan bersih baik jasmani maupun ruhani, yakni harus mengetahui ”pakaian” ruhani  diantaranya mengenal diri, hawa nafsu, akhlak, seputar hati, tazkiyatun nafs sehingga manusia dapat ”bersaksi” dengan sebenar-benarnya ”bersaksi” kepada Allah.

Kebahagiaan hakiki juga didapatkan dari orang yang beriman dan beramal shaleh. Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shaleh, Allah memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan diakhirat kelak. Kebahagiaan yang paling ditekankan Islam adalah kebahagiaan akhirat, namun bukan berarti kebahagiaan dunia ditelantarkan. Tidak, bahkan kebahagiaan di dunia ini berusaha diwujudkan dalam bentuk yang sebenarnya. Yakni dengan mengabdikan diri kepada Allah semata sebagai panggilan dari fitrah diri manusia yang ia diciptakan di atasnya. Sehingga dengan itu akan mendapat ketenangan dan ketentraman. Dan ini menjadi kunci utama tercapainya kebahagiaan,

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasawuf Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan yang hakiki, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Bahagia di akhirat kelak sangat tergantung pada saat kita hidup didunia. Didunia tempat menanam di akhirat memetiknya. Bahagia didunia hendaknya dapat membawa bahagia di akhirat. Bahagia dikhirat ditentukan oleh seberapa jauh kita hidup sesuai dengan patunjuk & aturan dari Allah SWT, yaitu taat pada pedoman hidup Al Qur’an dan hadis/sunah Nabi Muhammad SAW. Kegiatan didunia (misalnya bekerja, dll.) hendaklah diniatkan untuk tujuan tujuan ibadah.

 


Benarkah kebahagiaan itu diukur dari banyaknya harta? Ternyata tidak. Sebagiaan orang menganggap bahwa kebahagiaan itu akan datang jika dia sukses dalam menempuh karier dan meraih popularitas. Demi tujuan ini, bahkan ada orang yg sengaja menunda-nunda nikah sebelum cita-citanya tercapai. Namun betapa tragis akibatnya. Ketika kariernya telah mencapai puncak dan namanya Sangat terkenal, usianya mulai memasuki senja. Dia jalani hidupnya tanpa ada seorang pendamping dan anak-anak mungil disisinya. Dia anggap tempat kerja yg telah mengantarkannya ke puncak karier itu sebagai kuburan dan penjara. Dia pun berteriak,”Ambillah ijazahku dan berilah aku suami”.

Kebahagiaan tidak selalu identik  dengan kekayaan. Namun, kebahagiaan itu bisa dimiliki oleh siapa saja yang berhasil mencapai kesehatan mental yang optimal. Kesehatan mental yang baik banyak bergantung pada cara kita melihat diri dan kehidupan secara keseluruhan. Oleh karena itu, bantulah diri kita kearah suatu kehidupan yang penuh kualitas. Jika kita ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk kita, apapun kondisi keluarga kita, bagaimanapun suara kita, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman kita, serta seberapa pun penghasilan kita .Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, “Seyogyanya kita senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang kita miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak kita miliki.”

Kebahagiaan dapat dirasakan dalam semua aspek kehidupan. Kadang-kadang sukar bagi kita untuk melalui kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini. Namun, kita tidak perlu berputus asa. Ada pepatah modern mengatakan 20% dari kehidupan adalah bagaimana kehidupan itu sendiri dan 80% adalah bagaimana kita mengendalikan kehidupan dan mengatur kehidupan tersebut. Hal ini sesuai dengan ayat al-Quran yang mengatakan nasib suatu kaum itu ditentukan oleh kaum itu sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa kebahagiaan itu perlu dicari. Kita bisa mulai belajar atau mempelajari semua hal mengenai diri sendiri dan mengenal dengan pasti tuntutan atau keinginan yang belum terpenuhi pada setiap tahap kehidupan. Kemudian kita bisa mengatur kehidupan ini dengan lebih semangat, positif dan bahagia untuk masa depan.

Harta, pangkat dan popularitas memang bisa mendatangkan kebahagiaan, namun hanya bersifat semu dan sementara. Semuanya akan sirna dan dapat berubah menjadi bencana, terlebih jika berada dalam genngam orang yang jauh dari agama. Semua orang tentu tidak menginginkan kebahagiaan semu dan sementara. Semua orang menginginkan kebahagiaan hakiki dan abadi sepanjang masa. Lalu bagaimana jalan utk meraih kebahagiaan tersebut?. Bahwa tidak ada jalan kebahagiaan kecuali dalam keimanan dan penghambaan kepada Allah semata. Semakin seseorang taat kepada Allah, semakin dia mendapatkan kebahagiaan. Inilah kebahagiaan hakiki yg bisa diraih oleh siapapun orangnya.

Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas kita Sedihkan.  Kebahagiaan seseorang akan semakin bertambah, berkembang, dan mengakar adalah manakala ia mampu mengabaikan semua hal sepele yang tak berguna. Karena, orang yang berambisi tinggi adalah yang lebih memilih akhirat. Syahdan, seorang ulama salaf memberi wasiat kepada saudaranyademikian, “Bawalah ambisimu itu ke satu arah saja, yakni bertemu denganAllah, bahagia di akhirat, dan damai di sisi-Nya.”{Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tiada sesuatu pun dankeadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.} (QS. Al-Haqqah: 18) Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kepada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas ,perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyhuran, istana-istana dan rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna

Seorang suami mengancam istrinya dan memarahinya seraya berkata,”Saya benar-benar akan mernyengsarakanmu”. Maka istri yang mukminah itu berkata dengan tenang,  ”Engkau tidak akan bisa menyengsarakanku, sebagaimana engkau tidak mampu membahagiaanku”. Suami itu lalu berkata dengan marah,”Bagaimana saya tidak mampu? Istri itu berkata dengan penuh percaya diri,”Jikalau kebahagiaan itu ada dalam belanja bulanan, maka engkau mampu memotongnya dariku atau dalam perhiasan sehingga engkau dapat menghalanginya dariku. Akan tetapi, kebahagiaan itu ada dalam sesuatu yg tidak engkau miliki dan juga tidak dimiliki manusia lainnya. Dalam keadaan terkejut, suami itu bertanya,”Apakah itu?”. Istri itu menjawab dengan penuh keyakinan,”Saya mendapatkan kebahagiaan dalam keimanan, sedangkan keimananku itu ada dalam hatiku dan hatiku itu tidak ada seorangpun yg menguasainya selain RabbKu”. Inilah kekuatan sebenarnya dan inilah kemuliaan iman.


Iklan