Sakinah , Mawardah , Warahmah

Tag Archives: rezeki

Jika Allah memberi rezeki kepada kita, maka tak ada seorangpun yang mampu menahannya, tetapi jika Allah belum memberi rezeki kepada kita, walaupun kita sudah kerja keras tidak kenal lelah maka rezeki itu tidak akan datang kepada kita. Rezeki itu di tangan Allah dan datangnya dari Allah, bukan dari yang lain. Kenapa masih ada diantara kita yang mencari rezeki dengan cara yang tidak benar ataupun caranya sudah benar tetapi mencari rezekinya dengan menghabiskan waktunya siang dan malam, sehingga lupa akan tujuan dia diciptakan untuk mengabdi pada Allah. Umurnya dihabiskan secara sia-sia dengan ambisi mencari rezeki, yang sebenarnya rezeki telah dijamin dan dibagi-bagikan Allah SWT. Padahal seseorang tidak mendapatkan rezeki melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Sesungguhnya rezeki Allah SWT tidak dapat ditentukan oleh ambisi seseorang (rezeki) tidak dapat pula ditolak walaupun seseorang membencinya.

Hanya dengan mendekatkan diri pada Allah maka rezeki kita akan terbuka, karena Allah sendiri yang menyuruh kita untuk meminta kepada Allah bukan kepada yang lain. Sebagai orang yang beriman haruslah kita yakin bahwa hanya dengan melalui jalan yang benar sajalah akan didapat rezeki yang berkah. Maka dari itu hendaknya kita mencari rezeki harus mengikuti akhlak yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya yaitu pertama, Niat yang benar, sebagai seorang muslim dalam melakukan seluruh aktivitas termasuk mencari rezeki hendaknya secara ikhlas yakni semata-mata karena Allah. Ikhtiar secara benar artinya kita harus mendahulukan Allah dan mengistimewakan Allah dalam segala hal, sehingga kita tidak akan pernah menjadi budaknya dunia, intinya adalah memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Niat mencari rezeki karena ibadah artinya didalam kita sedang bekerja apakah kita tetap menomorsatukan Allah dalam kondisi apapun, contohnya jika azan telah berkumandang dan kita sedang meeting dengan rekan bisnis, apakah kita sanggup menghentikan meeting atau pura-pura tidak mendengarkan panggilan Allah. Harus disadari bahwa yang dilihat oleh Allah adalah bagaimana kita melakukan aktivitas mencari rezeki bukan seberapa banyak rezeki yang kita dapat dari suatu aktivitas yang kita lakukan. Kedua, tidak menzalimi, ketiga bersyukur, setelah rezeki itu ada ditangan seseorang harus yakin bahwa semuanya itu semata-mata hanya anugerah Allah.

Kita harus yakin dan menyadari bahwa rezeki apapun yang kita peroleh atas karunia dan kemurahan Allah semata, bukan atas jerih payah dan kepandaian kita. Yang demikian itu karena Allah telah menentukan jatah rezeki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya. Dengan demikian seharusnya kita tidak perlu terlalu memikirkan urusan rezeki karena setiap kita sudah dijatah masing-masing rezekinya, tidak meleset sedikitpun dan tidak tertukar oleh siapapun serta tidak berkurang sama sekali. Kita harus sadar bahwa tujuan kita didunia ini bukan mencari apapun yang berhubungan dengan dunia (sesuap nasi) tetapi tugas kita hanya satu yakni”Untk beribadah kepada Allah”.Jadi yang permasalahan sebenarnya bukan urusan rezeki karena urusan rezeki adalah urusan Allah, urusan kita adalah mengabdi pada Allah, lakukan yang terbaik untuk Allah agar Allah ridha pada kita. Allah yang mengatur rezeki untuk kita karena Allah yang lebih tahu seluruh kebutuhan-kebutuhan kita dari pada kita sendiri, Tapi yang kita inginkan adalah bagaimana menjemput keridhaan Allah dan memperbaiki hubungan kita denganNya.

Saudaraku……betapa seringnya kita merasa galau, risau dan panic dalam urusan kehidupan ini. Tapi percayalah bahwa tidak ada satupun makhluk melata didunia ini kecuali Allah sudah menjamin rezeki untuk mereka. Allah mempersiapkan rezeki untuk kita, jauh sebelum kita membutuhkannya, oleh karena itu mengapa kita mesti harus gelisah dan cemas menghadapi masa depan yang masih ghaib. Apa yang akan kita makan, Allah sudah mempersiapkannya sudah lama, maka dari itu janganlah kita pernah merasa bahwa Allah menyia-nyiakan hidup kita dan tak menjaminnya. Asalkan kita menjadi hambaNya, maka Dia akan terus menjamin penghidupan kita.


Hidup di dunia sering membuat kita panic dengan berbagai masalah yang datang seperti rezeki sempit, karier tidak maju dan kondisi yang tidak stabil membuat hati galau dan risau. Kegalauan hati ini disebabkan salah satunya karena kedangkalan iman yang kita miliki dan ketawakalan yang kurang kuat . Keyakinan tentang rezeki kita bergantung hanya pada Allah saja, banyak yang tidak dipahami dan dihayati oleh sabagian orang muslim. Rezeki yang kita terima tidak sepenuhnya bergantung pada gaji, prestasi,  jabatan, kedudukan , usaha keras, kecerdasan dan ilmu tetapi semuanya itu hanyalah sarana untuk menjemput rezeki dan itulah ladang amal saleh apakah kita pergunakan sesuai dengan aturan Allah atau tidak, disitulah berlaku hisab Allah. Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap Qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rezeki lebih banyak dari pada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap iri dan dengki.

Untuk menghilangkan kegalauan hati, manusia perlu mencari rahmat dan pahala Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. ‘Rahmat’ yang membuat hati merasa berkecukupan. ‘Pahala’ yang membuat jiwa menjadi gembira. Hanya manusia yang memiliki kedalaman iman dan ketawakkalan yang kuat yang tidak pernah galau dan sedih terhadap dunia ini. Meski rezeki sedikit, mereka masih bisa berbagi. Di dalam kondisi sulit, merekapun masih dapat memberi. Ia tidak pernah khawatir menghadapi hari esok, karena ia tahu Allah menjamin rezeki hambaNya. Ia mendahulukan perniagaan dengan Allah, sebab ia yakin terhadap janji Allah yang akan menggantinya dengan balasan yang terbaik.

Apa manfaat keyakinan kita bahwa rezeki bersumber dari Allah?

1. Kita tidak perlu takut menjadi miskin

2. Kita tidak perlu takut dipecat dari pekerjaan

3. Kita tidak perlu takut ada saingan bisnis baru yang menyaingi usaha kita

Jadi intinya kita tidak perlu takut dan khawatir tentang rezeki kita, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik sesuai dengan aturanNya dan mendistribusikan secara halal. Bagi seorang mukmin haruslah meyakini bahwa Allah SWT pasti sudah menjamin’nafkah’ para hamba-Nya . Namun perkara’nafkah’ itu kapan datangnya, maka ‘infaklah’ jawabannya.

Diantara hikmah Allah SWT menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi. Allah memberikan rezeki kepada setiap makhlukNya sesuai ukuran yang tepat, tidak kurang dan tidak lebih. Artinya, Allah telah menentukan kadar rezeki setiap hambaNya sehingga tidaklah perlu bagi kita untuk saling iri dan dengki pada rezeki yang telah diperoleh saudara kita. Rezeki merupakan misteri ilahi , artinya jangan pernah mengukur-ukur seberapa besar Allah memberikan rezeki kepada kita atau orang lain, baik itu kapan, dimana dan bagaimana. Selain hal tersebut membuat kita congkak, juga akan menimbulkan ketidak-iklasan dalam hati kita atas apa yang kita peroleh dari Allah SWT selama ini.

Wahai saudaraku…..tetaplah bersabar dan istiqamah berjuang dijalan Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat tahajud, sedekah dan dhuha . Karena hanya Allah Yang Maha Pemberi rezeki memberikan keajaiban dan rezeki yang tidak disangka-sangka. ‘Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezekiMu yang halal, serta jauhkan dari yang haram, dan berilah kami kekayaan tanpa tandingan” Amin Ya Rabbal’alamin.”