“ Lakukan sholat dua rakaat di kegelapan malam untuk menolongmu di kegelapan kuburan. Berpuasalah pada hari yang sangat panas agar bisa membantumu menghadapi panasnya hari kebangkitan. Bersedekahlah supaya sedekah itu menolongmu dari keburukan hari yang sangat menyusahkan.”

Puasa tidak berarti selalu membawa cerita susah dan pilu. Puasa ternyata memiliki saat-saat membahagiakan yang mungkin tidak diraih pada saat-saat tidak berpuasa. Saat-saat bahagia itu bukan hanya bisa dinikmati di akhirat kelak, namun ada juga saat-saat bahagia yang bisa dinikmati segera di dunia.

Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan di dalam kitab Majaalisu Syahri Ramadhaan, ‘Kebahagiaan ketika berbuka maksudnya adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu bisa melaksanakan puasa yang merupakan salah satu bentuk amal shalih yang paling utama. Betapa banyak manusia yang tidak memperoleh nikmat tersebut sehingga mereka tidak berpuasa. Adapun kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya adalah ia senang dengan ibadah puasanya ketika ia mendapat balasannya di sisi Allah secara utuh pada saat ia jauh membutuhkannya, ketika dikatakan, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Mereka pun dipersilahkan masuk ke pintu surga dari pintu ar-Rayyan yang tidak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.”

Waktu berbuka segera di sambut dengan penuh kebahagiaan oleh orang berpuasa, karena masa-masa diperbolehkan makan dan minum, ini merupakan anugerah dan rahmat Allah. Gembira pada waktu berbuka pun hakekatnya adalah ibadah selagi bekal berbukanya dari barang yang halal. Pada waktu berbuka, orang yang berpuasa bergembira juga karena dia merasa telah diberikan kemampuan menyelesaikan tugas puasa dengan baik. Dengan begitu, kini dia merasa lebih sehat baik secara fisik maupun psikis, karena telah melalukan terapi dari berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Ia telah membersihkan tubuhnya dari gangguan kuman dan bakteri, di samping membersihkan tubuhnya pula dari gangguan maling-maling keimanan dan ketaqwaan. Selain itu, waktu berbuka disambut dengan gembira karena pada detik-detik itulah orang berpuasa bisa melakukan isti’anah (memohon pertolongan dan doa) kepada Allah.

Puasa di akhirat menjadi perisai yang membentengi orang-orang yang melanggengkannya dari neraka. Kalau di bentengi dari nerka, maka kemana lagi perginya orang yang berpuasa itu kalau bukan ke surga. Di taman surge, orang yang berpuasa dipersilahkan makan-minum sepuasnya, disebabkan pantangannya terhadap makan-minum sewaktu berpuasa di dunia dahulu.

Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dan karena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang terlarang, maka Allah tidak butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). “Puasa bukanlah dari makan, minum semata, tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

Kita harus menjaga diri dari perbuatan sia-sia dan dosa di saat kita berpuasa. Tapi bukan berarti setelah waktu berbuka puasa kita menjadi bebas. Perbuatan haram, tetap haram hukumnya baik ketika kita sedang berpuasa ataukah tidak. Maka, di malam bulan Ramadhan pun kita tetap harus menjaga diri dari perbuatan dosa. Ingatlah bahwa keutamaan bulan Ramadhan tidak hanya terbatas di siang harinya, ketika kita berpuasa. Tetapi juga meliputi malam harinya. Banyak sekali ibadah yang bisa dilakukan di malam hari ketika bulan Ramadhan. Bahkan, ada keutamaan Lailatul Qadr yang harus kita kejar. Sibukkan diri dalam beribadah, baik siang maupun malam. Agar Ramadhan yang kita jalani benar-benar menjadikan kita manusia yang lebih bertaqwa.

Kita memohon kepada Allah agar menerima puasa Ramadhan kita dan menjadikannya sebagai pemberi syafa’at bagi kita. Agar kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat pahala puasa yang sempurna. Dan kita memohon agar Allah Mengampuni dosa-dosa kita dan Memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bisa memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan. Amiin.

Iklan