Sakinah , Mawardah , Warahmah

Animated Text


Create your own at MyNiceProfile.com

Tidak Berkumpul Rasa Bertuhan dan Rasa Cinta Dunia

Tidak berkumpul rasa bertuhan dan rasa cinta dunia dalam fitrah manusia dalam waktu yang sama. Kalau datang satu, yang satunya akan lenyap. Sucinya fitrah ini karena adanya rasa bertuhan. Apabila fitrah telah dirusak oleh dunia, ia akan jauh dari Tuhan.

Jika seorang hamba setiap pagi dan sorenya, tidak ada lagi yang menjadi buah pikirannya selain Allah, maka niscaya Allah akan menanggung semua kebutuhannya dan memenuhi segala apa yang menjadi angan-angannya. Membersihkan hatinya sehingga dapat mencintaiNya.Membersihkan lidahnya sehingga dapat selalu berzikir padaNya, Membimbing jiwanya sehingga dapat senantiasa mentaatiNya.

Tapi jika setiap pagi dan sorenya yang menjadi buah pikirannya adalah keduniaan, maka Allah akan mengantarkan kesusahan, kedukaan dan kepelikan serta membebankan kepada dirinya. Sehingga hatinya menjadi sibuk dengan urusan – urusan tersebut dan sulitlah baginya untuk memperoleh kesempatan mencintai Allah karena terlalu banyak mencintai ciptaanNya. Lidahnya tidak sempat berzikir kepada Allah karena terlalu sibuk bekerja mati-matian untuk yang lain.

” Kita keluar dan berjalan, untuk memenuhi kebutuhan, sebenarnya kebutuhan orang yang hidup tidak pernah habis, matinya seseorang dengan berhentinya memenuhi kebutuhan, dan kebutuhannya masih tetap ada seperti dulu”.

Nafsu yang sifatnya jahat dan rakus itu, tidak pernah puas mengejar dan memburu dunia. Dia berebut-rebut menekan dan menindas untuk mendapatkan sebanyak mungkin dunia, dia tidak ubah seperti “Anjing yang merebut bangkai”. Hendak mendidik nafsu bukan mudah, nafsu tidak takut pada makhluk. Membuang rasa cinta dunia tidaklah mudah, karena rasa bertuhan tidak akan menyerap ke dalam hati yang ada penyakit hati. Rasa cinta pada Tuhan akan mendorong nafsu supaya tenang dan jinak, maka selamatlah kehidupan kita dunia akhirat.

Rahmat Yang Sesungguhnya

Rahmat yaitu suatu keadaan yang memerlukan sampainya manfaat dan maslahat kepada hamba, meskipun ia membencinya atau menderita karenanya. Inilah rahmat dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, orang yang paling mengasihimu (merahmatimu) adalah orang yang (menurut anggapanmu) menyusahkanmu karena ia berupaya keras menyampaikan maslahat kepadamu dan menolak bahaya darimu.

Maka dari itu, termasuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya adalah ia memaksa anak tersebut agar mencari ilmu dan mengamalkannya. Dan, untuk itu, terkadang anak itu menderita karena di pukul oleh ayahnya atau karena diberi tindakan lainnya. Orang tua itu melarang berbagai keinginan anaknya yang bias mendatangkan bahaya.

Diantara kesempurnaan rahmat Allah, Yang Maha Penyanyang di antara para penyayang adalah dengan menimpakan berbagai cobaan kepada hamba-Nya. Dia Maha Mengetahui tentang maslahat hamba-Nya. Maka, pemberian cobaan atasnya serta pelarangan-Nya dari menyalurkan berbagai syahwat dan keinginannya adalah termasuk rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Tetapi karena kebodohan dan kezalimannya, hamba itu berprasangka buruk atas ujian Tuhannya, ia tidak mengerti kebaikan Allah atasnya karena ujian dan cobaan yang ditimpakan-Nya. Ini adalah karena kesempurnaan rahmat-Nya atas hamba, bukan karena kebakhilan-Nya kepadanya. Betapa tidak, Dialah Dzat Yang Maha Pengasih dan Dermawan, yang memiliki segala bentuk kedermawanan.

Termasuk bentuk kasih sayang Allah terhadap para hamba-Nya yaitu:

  1. Ia memberi ujian berupa berbagai perintah dan larangan sebagai bentuk rahmat dan penjagaan, tidak karena suatu hajat, sehingga Ia memerintah kepada mereka, sebab Dia Maha Kaya dna Maha Terpuji. Dan apa yang dilarang-Nya bukanlah suatu bentuk kebakhilan dari pada-Nya, tetapi justru karena kedermawanannya.
  2. Ia menjadikan kehidupan ini tampak rumit dan keruh, sehingga manusia tidak betah di dalamnya, tidak merasa tenang tinggal di dalamnya.

Termasuk rahmat Allah atas segenab hamba-Nya adalah Ia memperingatkan mereka dari siksa-Nya, sehingga mereka tidak sombong. Allah berfirman:

“ Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)- nya. Dan Allah sangat penyanyang kepada hamba-hamba-Nya” (Ali Imran : 30)

Hati yang Sehat, Modal Utama untuk Menggapai Kesuksesan Dunia Akhirat

Hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorang pun tak akan bias selamat pada hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)

 

Ayat di atas adalah sepenggal do’a Nabi Ibrahim a.s. saat beliau beradu argumen dengan umatnya yang masih senang berkelindan dalam kekufuran. Beliau memohon kepada Alloh agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dihinakan pada hari kebangkitan karena kekafiran dan pembangkangannya kepada Alloh, Tuhan penguasa seluruh alam. Hari di mana segala ‘perhiasan’ dunia baik itu berupa harta, jabatan, derajat, nasab yang mulia, dan anak-anak tidak lagi ada nilainya. Hari dimana segala tebusan tidak lagi berguna. Hanya ada satu hal yang akan menyelamatkan dari kedahsyatan hari itu, yaitu hati yang bersih/selamat (qalbun salim).

Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh.

Orang yang mempunyai hati yang sehat, akal pikirannya pun jauh lebih jernih. Taka ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua, apalagi berfikir untuk menzalimi orang lain, sama sekali tak terlintas di benaknya. Tak berlebihan, jika orang yang seperti ini akan lebih mudah memahami tiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan dan lebih cerdas dalam melakukan berbagai aktivitas. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapa pun sekiranya memiliki hati yang sehat, karena selalu senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan , ketentraman, kesejukan dan indah hidup di dunia ini dan indah juga tiap aktivitas yang dilakukannya.

 

 

bahwa orang yang memiliki qalbun salim maka ia akan terhalangi dari sifat-sifat hati yang buruk seperti munafik, riya’, sombong, dengki, hasad dan seterusnya, dan sebaliknya dalam hatinya akan tumbuh subur sifat-sifat baik seperti sabar, tawadhu’,  jujur, pemaaf, penyantun dan sifat baik lainnya. Karena dalam satu hati tidak mungkin ada dua hal yang saling bertentangan bersemayam di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-ahzab [33]  ayat 4 yang artinya : “Alloh tidaklah sekali-kali menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. Jadi mustahil sifat-sifat baik dapat berkumpul dengan penyakit-penyakit hati, misalnya sombong dengan tawadhu’, kadzib dengan shiddiq, adil dengan dzalim. Sebagaimana mustahilnya bersatunya air dengan api.

 

Hidup ini Cuma sekali, dalam hidup ini kita tidak boleh gagal. Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).
Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!! Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan.

Hati yang sehat, memancarkan cahaya iman, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Walhasil orang yang memiliki hati yang sehat, adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan kearah kebaikan, tak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Pendek kata, orang yang memiliki hati yang sehat itu luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih? Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya, berhati busuk, semrawut dan kusut masai. Wajah bermuram durja kusam dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-kata bengis, kasar dan ketus.

Mengobati Kesusahan, kegelisahan, Kepedihan dan Kesedihan

Kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan yang merupakan penyakit hati, hal yang wajar terjadi pada setiap insan, selagi masih dalam batas-batas tertentu. Sebab seperti firman Allah SWT yang artinya : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang–orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan shalatnya, dan orang–orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang– orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang–orang yang takut terhadap adzab Tuhannya ”. (Q.S. Al-Ma’aarij : 19-27)

 

Pada dasarnya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa dan zalim. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Jika sedang menghadapi sebuah kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ العَلِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Pemilik ‘arsy yang agung. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah pemilik langit, pemilik bumi dan pemilik ‘arsy yang mulia.” (HR. Bukhari no. 7426 dan Muslim no. 2730)

 

Sesungguhnya suatu penyakit dapat disembuhkan dengan lawannya dan kesehatan dapat dijaga dengan padanannya. Semua penyakit hati bersumber dari rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia, hati kosong dari Allah dan dipenuhi kesenangan dunia, maka obat yang paling mujarab satu-satunya adalah lawan dari cinta dunia yaitu qana’ah dalam menghadapi hidup ini. Setiap insan yang memiliki hati yang qana’ah, maka rasa gelisah, sedih dan susah dapat berkurang karena keyakinannya pada Allah dan hari akhirat. Akhir setiap kegelisahan, kegembiraan. Kekayaan, kefakiran, kesulitan, kemudahan, sakit dan lapar adalah mati. Cara lain untuk mengatasi kegelisahan, manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana yang diperitahkan oleh Tuhan.

 

Beberapa obat kesusahan, kegelisahan, kepedihan dan kesedihan adalah:

  1. Dengan tauhid ar-rububiyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang melindungi, memelihara dan menjaga makhluknya}.
  2. Dengan tauhid al-uluhiyyah { keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang harus di takuti dan disembah}.
  3. Mengesakan Allah, dengan keyakinan yang kuat dan pemahaman yang benar.
  4. Menyucikan Allah dari anggapan bahwa Allah berlaku aniaya terhadap hambaNya
  5. Pengakuan seorang hamba bahwa ia adalah orang yang zalim
  6. Bertawasul kepada Tuhan dengan sesuatu yang paling dicintai-Nya yaitu dengan menggunakan nama-nama dan sifay-Nya. Dan diantara nama-nama dan sifat yang paling mencakupnya adalah Al-Hayya Al- Qayyum { Allah adalah Dzat yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhlukNya }.
  7. Hanya meminta pertolongan kepada-Nya
  8. Pengakuan hamba kepada-Nya bahwa ia mengharapkan anugerah-Nya
  9. Membuktikan tawakkal kepada-Nya, menyerahkan segala persoalan kepada-Nya dan mengakui bahwa nasibnya berada dalam kekuasaan-Nya.
  10. Hendaknya ia menyejukkan hatinya dalam taman-taman Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an bagi hatinya seperti musim semi yang menyegarkan semua hewan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi kegelapan nafsu syahwat dan kezaliman. Menjadikannya sebagai penghibur dari setiap kesusahan, sebagai pelipur setiap bencana dan sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang menghinggapi jiwanya. Sehingga Al-Quran ini menjadi pembebas kesusahan dan penyembuh kegelisahan dan kegalauannya.
  11. Selalu membaca istigfar.
  12. Bertaubat
  13. Berjihad
  14. Sholat dan berdoa
  15. Berbaik sangka pada Allah.

 

 

Don’t Worry be Happy

Kehidupan mengajarkan bahwa hidup ini di penuhi dengan ujian yang sangat panjang. Sungguh terkadang kita melihat bahwa di balik ujian ini ada kenikmatan yang abadi, terkadang di balik ujian ini ada siksaan yang mengerikan. Imam Ali berkata: “Aku tidak peduli apakah aku akan ditimpa kemudahan atau kesulitan, sama saja bagiku karena dalam kesulitan ada hak Allah, pada sikap ridha dan kesabaran kita dan pada kemudahan ada hak Allah dalam kesyukuran dan kebaikan.

Kehidupan yang telah mengajarkan arti kesabaran, sehingga kita mampu menikmati manisnya makna sabar. Dibalik ujian ada anugerah, di balik siksaan ada kenikmatan, di balik bencana dan cobaan ada limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya. Ketika sedih datang, segera disusul dengan kebahagiaan. Kurang lebih sejarah kehidupan manusia adalah perputaran kisah tentang roda kegembiraan dan kesedihan, kebahagiaan dan kekecewaan serta ketentraman dan kegelisahan berputar saling susul menyusul.

“Tidakkah Kami melapangkan dadamu” (QS Alam Nasyrah : 1). Dalam ayat ini kita temukan bahwa kelapangan hati selalu hadir bersamaan dengan datangnya kesengsaraan dan kesempitan hidup. Kegelisahan yang dialami seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah dampak dari akumulasi dari kegelisahan lainnya. Ibarat bakteri, kegelisahan terus menggerogoti kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan ketakutan seringkali menjadi sebab munculnya kegelisahan. Ketidakmampuan kita menghadapi dan mengelola penderitaan akan menyebabkan “ Bakteri “ kegelisahan terus tumbuh dan menancapkan akar-akarnya.

Senikmat apapun hidup di tengah kegelapan cahaya Allah, tetaplah itu semua merupakan kenikmatan semu yang tidak akan pernah mencapai kenikmatan hakiki yang mengarah kepada ketenangan jiwa dan kesejukan hati. Ketenangan tidak akan di miliki oleh seseorang melainkan dengan pertolongan kepada Allah, bukan selain-Nya. Mencari ketenangan bukan kepada Allah tidak akan bisa diraih, ia hanya akan mendatangkan tipuan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Sebaliknya mencari ketenangan kepada Allah akan mengembalikan hati orang yang beriman kepada dirinya, sehingga memberikan kepadanya perasaan seakan- akan dia berada dihadapan Allah, dia mendengar dengan pendengaran Allah dan melihat dengan penglihatan Allah, maka ketenangan masuk kedalam jiwa raganya.

Hati yang rela kepada Allah atas segala keadaan akan menimbulkan kesenangan dan kegembiraan, merupakan jalan hidup menuju hidup bahagia. Coba kita bayangkan betapa bahagianya kalau kita mengikuti kata hati. Karena kata hati selalu berkata tentang kebenaran, kesabaran, kearifan. Keteladanan dan syukur. Mendekatlah pada Allah, maka semua kekuatan untuk menjalani masa-masa sulit akan terlewati dengan mudah.

Kita tak ingin hidup miskin, kita hanya ingin memilih selalu hidup sederhana, ingin menjadi orang biasa. Agar waktu tidak terlalu banyak tersita dunia. Karena kita hanya ingin sibuk untuk memperbaiki keyakinan kita kepada janji-Nya Allah. Oh…bukannya kita tak ingin kaya, kita hanya ingin merawat hati kita agar tak termakan virus kekikiran yang menggerogoti jiwa.

Ketika menghadapi masalah, jangan menghindar tapi hadapi, itulah cara melatih kedewasaan berfikir dan bersikap. Kematangan dan kedewasaan seseorang tidak di tentukan dari usianya. Allah menempa manusia dalam perjalanan usianya dengan ujian agar menjadi dewasa. Kedewasaan itu menghasilkan produktivitas dan kearifan dalam memandang kehidupan. Ujian yang terberat adalah berkaitan dengan kehidupan akhirat yaitu ujian iman dan taqwa pada Allah.

“ If we have problem don’t be step aside, facing on it “ Jangan di kalahkan oleh masalah tapi hadapi masalah tersebut, karena dengan menghindar, tidak menyelesaikan masalah. Beban memang berat, bila di bawa sendiri, maka  berbagilah dengan Allah. Kepada Allah jua kita hadapkan permasalahan hidup dan kehidupan. Renungkan bahwa, kesempitan hidup bisa muncul karena kita jauh dari Allah.

Ya Allah, limpahkanlah petunjuk-Mu kepada kami, jauhkanlah kegelisahan dan kesempitan diri dan anugerahkanlah kami, hidup yang berkah Aamiin

Jalan menuju kebahagiaan dan ketenangan jiwa

Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan kebahagiaan. Tidak di ragukan lagi bahwa sesuatu yang berada di lingkungan kita, berpengaruh terhadap kebahagiaan kita. Akan tetapi sebab kebahagiaan itu tidak berasal dari luar. Namun tergantung pada cara kita menyikapi factor-faktor eksternal tersebut. Para psikologi menegaskan, kebahagiaan yang hakiki adalah berasal dari dalam diri manusia.

Kebahagiaan yang di ukur dengan materi, hanya akan menimbulkan angan-angan hampa yang melelahkan pikiran. Orang yang mengaitkan kebahagiaan pada pencapaian materi, lama kelamaan akan merasa bosan. Karena mereka akan sadar bahwa kebahagiaan yang mereka impikan hanya bersifat semu, padahal mereka telah mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.

Sebagai contoh, banyak orang yang ingin mendiami rumah megah, mengendarai mobil mewah atau mengantongi uang banyak, dengan semua itu mereka berharap dapat menemukan kebahagiaan. Ketika mereka mendapatkannya, mereka tidak serta merta puas dan merasa cukup, bahkan memulai lagi dengan menggantung kebahagiaannya kepada sesuatu yang lebih besar lagi.

Harta yang di kejar-kejar oleh manusia dan menggantungkan kebahagiaan terhadap pencapaian kepadanya, bukanlah jaminan kebahagiaan. Betapa banyak orang kaya hidup dalam kesengsaraan, tetapi orang sengsara hidup dalam ketenangan. Tidak ada perbedaan antara kebahagiaan orang kaya dengan orang fakir. Kegembiraan orang kaya dengan mampu membeli mobil mewah, sama dengan kegembiraan orang miskin karena mampu membeli sepeda motor biasa.

Orang yang bertaqwa itulah, orang yang hidupnya bahagia. Dengan demikian sumber kebahagiaan berasakl dari dalam diri seseorang. Disaat ia mampu berpikir positif, beriman kepada takdir Allah, rela dengan apa yang Allah berikan kepadanya, bersikap realistis dalam memandang sesuatu dan supel bergaul dengan orang lain. Maka pada saat itulah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan.

Adapun orang yang menggantungkan kebahagiaan dan ketenangan jiwanya pada hal-hal yang berasal dari luar, sungguh ia telah menggantungkannya dengan hal-hal yang mustahil. Mereka mengubah kehidupannya sehingga penuh dengan siksa dan derita. Ia akan menjadi orang yang mudah terbawa arus dan rakus. Ia merasa bahwa apa yang dimiliki orang lain lebih sempurna dari pada miliknya, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Ia menganggap nikmat Allah kepadnya sedikit, walaupun sebenarnya banyak. Ia mencari kebahagiaan di mana-mana, sedangkan kebahagiaan jelas ada di sisinya dan di bawah telapak tangannya, akan tetapi ia tidak merasakan dan tidak menyadarinya.

Mengapa orang kaya tidak mampu menemukan kebahagiaan? Jawabannya simple yaitu karena mereka tidak beriman kepada Allah. Padahal Allah telah menjamin bagi orang yang beriman kepadanya kehidupan yang baik dan bahagia. Sebagaimana yang di sebutkan dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Dalam ayat lain, Allah menjanjikan kebahagiaan kepada orang-orang yang beriman: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-An’am 82) dan firmannya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97).

Akan tetapi mereka menggantikan kebahagiaan hakiki dengan kebahagiaan dunia yang semu dan sementara. Otak mereka penuh dengan pikiran-pikiran sesat dan materialis , sehingga mereka kehilangan nilai-nilai spritual dan dasar-dasar moral. Sesuatu yang tidak di benarkan oleh akal dan agama, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan alasan modernisasi, mereka menghancurkan nilai –nilai spritual dan dasar-dasar moral. Seperti pemikiran tentang kebebasan dan persamaan hak, yang sebenarnya kedok untuk memperbolehkan melakukan segala sesuatu dan menghalalkan segala cara.

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai bagian dari penghuni surge, sebagai hamba yang pandai bersyukur atas nikmat-Nya, sabar atas keputusan-Nya, dan Kami meminta kepadaNya ampunan di dunia dan akhirat.

Bagaimana membuat kehidupan yang singkat ini menjadi berarti untuk kehidupan akhirat kita?

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan. Kedengkian dan kebencian. Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan sholat sesempurna mungkin, membekali diri dengan sholat-sholat sunah nafilah, berpegang teguh pada Al-qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Ketika musibah dan bencana datang silih berganti menimpa kita, berzikirlah kepada-Nya, sebutlah nama-Nya, mohonlah pertolongan dan mintalah jalan keluar dari-Nya. Berzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari berbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Zikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Bersabarlah karena Allah. Seberapa pun besar permasalahan yang kita hadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama dengan kesulitan dan dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit, ia akan menggonggong dan mengejar kita bila kita tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan kita berlalu di hadapannya dengan tenang, bila kita tak menghiraukannya atau kita berani memelototinya.

Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus di pelajari serta di tekuni. Maka sangatlah baik bila kita berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian dan kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik dari pada ia harus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam hidup ini?

Kita harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus di waspadai, karena ia dapat menyulut kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus begitu di perhatikan dan di tangisi ketika gagal di raih. Keindahan hidup di dunia ini sering kali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang dengan hartanya adalah orang yang paling merasa terancam dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang waktu yang pasti tiba.

Bawalah ambisi kita itu ke satu arah saja, yakni bertemu dengan Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisi-Nya. Tidak ada ambisi yang lebih mulia selain ambisi yang demikian itu. Apalah arti sebuah ambisi yang hanya tertuju pada kehidupan ini saja. Karena, semua itu hanya akan bermuara pada ambisi untuk meraih kedudukan, jabatan, emas perak, anak-anak, harta benda, nama besar dan kemasyuran, istana-istana, rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan sirna.

Setiap kali raga menikmati kemewahan, ruh sebenarnya merasa tertekan. Dan dalam situasi yang serba kekurangan itu sebenarnya tersimpan keselamatan. Bersikap zuhud di dunia misalnya, ternyata merupakan kesenangan yang hanya akan diberikan Allah kepada hamba-hamba yang di sukai-Nya. Kehidupan kita adalah cermin dari apa yang kita pikirkan. Artinya, semua hal yang kita pikirkan dan kita hayati akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, baik ketika bahagia maupun sengsara.